BIOGRAFI DAN KONTRIBUSI TOKOH ADMINISTRASI PUBLIK
ROBERT KING MERTON, HERBERT KAUFMAN, CHESTER I.
BARNARD, AARON WILDAVSKY, JEFFREY L. PRESSMAN
DISUSUN OLEH
Kelompok 1
Muh Salman Alfarisi 07/257743/SP/22536
Roby Candra Gumilar 10/299466/SP/24135
Fransisca Ami Nugrahaeny 11/311835/SP/24441
Yelladys Nuring A. 11/312145/SP/24498
Aan Andrianto 11/312569/SP/24576
Rizki Wahyu Nur Isnaeni 11/314342/SP/24609
Fitri Fatonah 11/317742/SP/24635
Herlambang Sapto Aji 11/317755/SP/24648
Rajito Ahmad Syah 11/317761/SP/24654
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014
Robert King Merton
Robert King Merton (Robert K. Merton) lahir pada 4 juli 1910 di Philadelphia Selatan.
Keluarganya merupkan imigran Yahudi. Berganti nama depannya dari Marlin menjadi
Robert, Merton sempat bekerja menjadi seorang pesulap (Schmaus,2008). Merton dibesarkan
dalam semangat belajar yang tinggi. Karena kepandaiannya, Merton mendapatkan beasiswa
untuk melanjutkan kuliah di Universitas Temple. Dari universitas tersebut, ia mendapat gelar
B.A, dan mulai memiliki ketertarikan dengan ilmu sosiologi. Kemudian Merton memperoleh
beasiswa untuk melanjutkan studinya di Universitas Harvard dan berhasil mendapat gelar
MA Ph.D.
Tokoh-tokoh penting yang berpengaruh dalam perjalanan Merton di antaranya yaitu
Talcott Persons, P.A Sorokin yang lebih banyak mendorong Merton ke arah pemikiran sosial
Eropa, ahli biokimia sekaligus sosiolog L.J Henderson, sejarahwan ekonomi E.F Gay, yang
mengajarkan tentang perkembangan ekonomi, dan George Sarton. Pada masa studinya di
Harvard, Merton pernah menjadi asisten peneliti Sorokin dan di tahun ketiganya Merton
kuliah, mereka berhasil mempublikasikan artikel hasil penelitian tersebut. Sementara itu, di
tahun kedua keuliahnya, Merton sempat sebuah artikel berjudul Social Forces and the
America Journal of Sociology (Calhoun, 1893).
Selepas kuliah, Merton diangkat menjadi pimpinan Jurusan Sosiologi di Tulane. Pada
tahun 1957, Merton terpilih sebagai presiden American Sociology Society. Merton menjadi
sosiolog Amerika pertama yang mendapatkan penghargaan berupa National of Science dari
Presiden Amerika pada tahun 1994.
Dalam artikelnya Bureaucratic Structure and Personality, Merton mempersoalkan
gagasan birokrasi rasional yang diungkapkan oleh Weber. Menurutnya, penekanan pada
ketepatan dan keajegan (reliabilitas) dalam administrasi, dapat mengakibatkan kegagalan
administrasi itu sendiri. Merton beranggapan bahwa peraturan yang dirancang sebagai alat
untuk mencapai tujuan, dapat menjadi tujuan itu sendiri. Merton selanjutnya menguraikan
bahwa birokrasi pada hakikatnya memberi pengaruh tertentu bagi keperibadiaan para
anggotanya, dimana mendorong timbulnya kecenderungan untuk menaati peraturan
organisasi secara kaku demi kepentingan dan keuntungannya sendiri. Apabila perilaku dalam
birokrasi tidak sesuai dengan aturan normatif, maka akan terjadi anomie (non konformis) di
mana muncul ketidakserasian (kesenjangan) antara kultural dengan struktural dalam
pemerintahan itu sendiri. Merton dengan tegas menilai bahwa ada dampak buruk yang dari
birokrasi yang berimbas pada kepribadian personil di dalamnya.
Beberapa konsep dasar Merton tentang birokrasi modern, yaitu: (1) Birokrasi merupakan
struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal, (2) Birokrasi meliputi suatu pola
kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas; (3) Kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal
berhubungan dengan tujuan-tujuan organisasi; (4) Jabatan-jabatan dalam organisasi
diintegrasikan ke dalam keseluruhan struktur birokratis; (5) Status dalam birokrasi tersusun
ke dalam susunan yang bersifat hirarkhis; (6) Berbagai kewajiban serta hak-hak di dalam
birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang terbatas serta terperinci; (7) Otoritas pada jabatan
bukan pada orang; dan (9) Hubungan antar individu dibatasi secara formal (Poloma, 2000).
Merton memperkenalkan konsep trained incompetence. Konsep ini mengacu kepada
karyawan yang hanya berfokus pada pekerjaan yang mereka minati saja dalam organisasi.
Pelatihan diadakan dengan alasan karena karyawan sering kali kurang responsif untuk
memahami dan mengatasi masalah user atau masyarakat. Birokrasi dilihat tidak memiliki
keberhasilan yang besar dalam menyesuaikan pengaplikasian pengetahuan dan keterampilan
yang menjadi bagian penting dalam praktis profesional karena peraturan-peraturan rigid yang
diciptakan (Kettner, 2002).
Herbert Kaufman
Herbert Kaufman adalah seorang penulis dan penulis dalam surat kabar asal Amerika
serikat yang lahir pada 6 Maret 1878 dan meninggal pada 6 Spetember 1947. Pemikirannya
tentang administrasi ia tuangkan dalam tulisannya yang berjudul “Administrative
Decentralization and Political Power” bahwa administrasi senantiasa berkembang diiringi
pergeseran 3 nilai utama yaitu keterwakilan, kompetensi netral dari politik dan
kepemimpinan eksekutif. Administrasi pada abad ke-19 cenderung diwarnai oleh korupsi
akibat pengaruh politik terhadap administrasi. Oleh karena itu muncul pemikiran dikotomi
administrasi dengan politik dan pengenalan merit-system. Hal ini menimbulkan konsekusensi
munculnya fragmentasi dalam administrasi yang menyebabkan inefisiensi dan menurunnya
tingkat keterwakilan publik. Masyarakat pun menuntut agar tingkat keterwakilan diperbaiki
sehingga aspirasi mereka dapat mempengaruhi sistem yang berjalan dalam pemerintahan
serta pembuatan kebijakan. Namun, peningkatan tingkat keterwakilan masih belum tentu
mampu mempengaruhi isi kebijakan karena sering terjadinya bias politik dan adanya
kepemimpinan yang kurang terintegrasi dalam menjalankan pemerintahannya. Herbert
Kaufman sendiri menganggap bahwa pengaruh masih terlihat jelas pada struktur
kepemimpinan di berbagai institusi meski upaya penguatan kompetensi netral dan
kepemimpinan eksekutif sudah diupayakan. Tingkat eksekutif dalam institusi pemerintahan
juga masih sangat terfragmentasi dan tingkat keterwakilan pun masih menjadi tuntutan besar
di antara 3 nilai utama. (Kaufman, 1969)
Herbert Kaufman berpendapat bahwa peningkatan keterwakilan dapat dilakukan
dengan perubahan administrasi. Kunci utama keterwakilan terletak pada agensi administrasi.
Perubahan administrasi dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti merekrut pegawai ke
dalam organisasi atau menambahkan suatu badan untuk mensurvey kinerja mereka. Selain
itu, perubahan dapat dilakukan pula dengan adanya layanan komplain warga negara yang
memiliki kekuatan legal untuk menginvestigasi penyalahgunaan dalam administrasi.
Desentralisasi juga muncul untuk menyelesaikan masalah keterwakilan termasuk dalam hal
mengekspresikan kebutuhan mereka, berkonsultasi dengan pejabat dan ikut mempengaruhi
pengambilan keputusan. Selain karena lebih efisien, desentralisasi dianggap mampu
meningkatkan angka partisipasi rakyat, meningkatkan profesionalitas birokrasi dan
meningkatkan kapasitas kepala eksekutif dalam pengontrol administrasi. Kaufman juga
berpendapat bahwa reorganisasi dalam administrasi juga diharapkan mampu menuju
rasionalisasi , memperbesar , dan memperkuat staf eksekutif. kepala eksekutif pun mampu
menjangkau semua perangkat untuk mengkoordinasikan keputusan kebijakan, menjalankan
program dan menyelesaikan permasalahan publik. adanya usulan desentralisasi dapat menjadi
untuk menciptakan peningkatan kapasitas eksekutif karena lebih efisien. karena pengambilan
keputusan dilapangan lebih cepat tanpa kehilangan koordinasi dengan eksekutif tingkat pusat
karena terdapat jalur komunikasi lapangan dengan eksekutif pusat dan melakukan kontrol
alternatif sehingga otoritas pusat juga semakin kuat. (Kaufman, 1969)
Herbet Kaufman juga melihat potensi konflik antar pemegang kekuasaan jika
desentralisasi dan fragmentasi administrasi dilaksanakan. Hal ini dikarenakan karena
munculnya badan yang terkadang bekerja bertentangan atau overlapping dengan badan lain.
Oleh karena itu, Herbert Kaufman beranggapan bahwa presiden sebagai eksekutif tertinggi
harus mampu membanguan hubungan yang erat dengan gubernur dan walikota karena posisi
mereka yang lebih representatif. Koalisi eksekutif ini juga dilakukan baik antara pemerintah
daerah dengan pemerintah pusat serta antar pemerintah daerah utamanya dalam hal konsultasi
dan koordinasi dalam pelaksanaan program sehingga terpelihara hubungan baik. Kaufman
beranggapan terwujudnya pertemuan antara keterwakilan dan kepemimpinan. hal ini dapat
dilakukan dengan mengajukan eksekutif ke birokrasi untuk memberikan informasi tentang
kinerja birokrasi. Kelompok ini juuga dapat memebrikan pengaruh ke birokrasi dan eksekutif.
Herbert Kaufman berpendapat bahwa terdapat siklus dalam proses perubahan
administrasi ini yaitu dimulai dari adanya tuntutan pelaksanaan ketiga nilai utama hingga
kembali kepada sistem administrasi di mana pemimpinan memiliki kekuatan dalam
melakukan kontrol. Munculnya desentralisasi akan memunculkan konsenkuensi adanya
tuntutan lokal yang mempengaruhi program publik dan adanya eksekutif lokal yang
mengepalai biro fungsional dan pegawai lapangan. Namun pada akhirnya desentralisasi
menimbulkan ketidaksamaan perkembangan daerah sehingga membutuhkan intervensi pusat.
Rakyat yang sebelumnya menuntut desentralisasi untuk meningkatkan keterwakilan akan
mulai berpikir ulang. Adanya desentralisasi akan membuat eksekutif daerah mengembangkan
kekuatan politik dari otonomi yang mereka miliki. Lalu keinginan di mana pemerintah pusat
menjadi acuan dan pemegang komando akan mulai muncul kembali dari masyarakat.
(Kaufman, 1969)
Chester I. Barnard
Chester I. Barnard adalah seorang pengusaha asal Amerika serikat yang lahir pada
tanggal 7 November 1886 dan meninggal pada 7 Juni 1961. Ia adalah seorang pemikir
tentang manajemen dan organisasi. Salah satu karyanya yang terkenal yang mempengaruhi
perkembangan ilmu administrasi adalah tulisannya yang membahas keberadaan organisasi
informal kaitannya dengan negara sebagai negara formal yang memiliki administrasi.
Menurut Barnard terdapat hubungan antara organisasi informal dan organisasi formal.
“Organisasi informal ini dapat terjadi dikarenakan seringnya orang-orang berinteraksi satu
sama lain dalam sebuah kontrak ketika hubungan mereka bukan merupakan bagian dari
aturan dalam organisasi formal.”(Shafritz & Hyde, 1997). Pemahanan Bardnard ini
contohnya adalah organisasi informal yang terjadi dalam sebuah instansi pemerintah, dalam
organisasi tersebut para pegawai tidak terikat oleh peraturan yang mengikat serta tidak
melanggar peraturan yang ditetapkan oleh instansi tersebut. “Organisasi informal memiliki
keterbatasan dan tidak berstruktur serta tidak memiliki pembagian divisi atau tugas yang
pasti.” Biasanya organisasi informal ini muncul dilatarbelakangi oleh visi atau kesamaan
latar belakang oleh para pegawai.Sehingga diharapkan para pegawai tidak hanya terpaku
pada tugas yang telah diatur, melainkan diharapkan memiliki motivasi lebih untuk
mengembangkan organisasi bersama-sama maupun membantu rekannya dalam
menyelesaikan permasalahan tugasnya meskipun berbeda divisi kerjanya.
Barnard juga beranggapan terdapat konsekuensi dari keberadaan organisasi informal
ini. “Organisasi informal meskipun terdiri dari proses masyarakat yang tidak sadar yang
berbeda dengan orang-orang dari organisasi formal yang sadar memiliki dua kelas penting
dari efeki tua.) Menetapkan sikap tertentu, pemahaman, adat istiadat, kebiasaan, dan
institusi. b.) Menciptakan kondisi di mana organisasi formal mungkin timbul. c.) Efek
langsung yang paling umum dari organisasi informal adalah kebiasaan, adat istiadat, cerita
rakyat, hilangnya perilaku.” (Shafritz & Hyde, 1997). Menurutnya, keberadaan organisasi
informal dapat menjadi pendukung organisasi formal seperti birokrasi. Pembentukannya pun
memiliki cara tersendiri. Organisasi formal yang terbentuk didasarkan atas keperluan
organisasi informal untuk memiliki aturan yang mengikat terhadap anggotanya. Akan tetapi
ketika organisasi formal telah terbentuk, maka organisasi informal dalam organisasi formal
juga diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi, melalui pencapaian tujuan dari
organisasi informal itu sendiri. Organisasi informal sering kali terbentuk secara alami seperti
aktivitas yang secara rutin terjadi dalam organisasi formal yang melibatkan interaksi antar
pegawainya, dan lama kelamaan antara satu pegawai dengan pegawai lain memiliki
hubungan yang erat dalam pekerjaannya.
Menurut Barnard, organisasi informal sebagai pelengkap organisasi formal tentu
memiliki fungsi. Salah satu fungsi yang sangat diperlukan organisasi informal dalam
organisasi formal adalah komunikasi. Fungsi lain adalah bahwa pemeliharaan kekompakan
dalam organisasi formal melalui pengaturan kesediaan untuk melayani dan stabilitas otoritas
obyektif. Fungsi ketiga adalah pemeliharaan perasaan integritas pribadi ,harga diri , pilihan
independen dan memberikan kesempatan sering untuk penguatan sikap pribadi. Meskipun
fungsi ini sering dianggap merusak organisasi formal, tetapi itu harus dianggap sebagai
sarana untuk mempertahankan kepribadian individu terhadap efek tertentu yang ditimbulkan
organisasi formal.
Fungsi dari organisasi informal antara lain bahwa mereka berinteraksi di antara orang-
orang yang di dasarkan pada pribadi bukan pada tujuan bersama atau umum. Karena karakter
berulang mereka menjadi sistematis dan terorganisir melalui efeknya pada kebiasaan
bertindak dan berpikir. Begitu halnya dengan negara dengan birokrasi administrasi
formalnya. Meskipun negara terdiri dari jumlah orang dengan setiap individu yang memiliki
pengalaman interaktif terbatas, namun tetap terjalin hubungan tak berujung kepada rantai
antara orang-orang dalam adat istiadat, kebiasaan dan lembaga. Organisasi informal ini
menimbulkan organisasi formal dan organisasi formal yang diperlukan untuk setiap
organisasi besar yang tidak resmi yaitu masyarakat.
Aaron Wildavsky
Aaron Wildavsky adalah seorang ilmuwan politik dari
Amerika yang terkenal karena kepeloporannya dalam kebijakan
publik, penganggaran pemerintah, dan manajemen risiko. Aaron
Wildavsky lahir pada tanggal 31 Mei 1930 di Brooklyn di New York dan
meninggal dunia pada 4 September 1993. Wildavsky lulus dari Universitas
Brooklyn , kemudian sekolah pascasarjana di Universitas Yale dan disertasi
PhD-nya adalah studi tentang politik dari kontroversi energi atom Dixon-
Yates, yang diselesaikan pada tahun 1958 (Pace, 1993).
Karir Aaron Wildavsky dimulai saat mengajar di Oberlin College, dari
tahun 1958 sampai tahun 1962, kemudian tinggal dan bekerja di
Washington DC selama setahun sebelum pindah ke University of California
at Berkeley di mana ia bekerja sebagai seorang profesor ilmu
politik selama sisa hidupnya. Di Berkeley, ia adalah ketua ilmu
politik departemen dari tahun 1966 sampai 1969 dan merupakan dekan
pendiri Graduate School of Public Policy (1969-1977). Beliau kemudian
menjabat sebagai presiden dari Asosiasi Ilmu Politik Amerika untuk
periode 1985-1986. Beliau juga seorang anggota dari American Academy
of Arts and Sciences dan National Academy of Public Administration.
Wildavsky adalah seorang sarjana dicatat sebagai orang yang
berpengaruh dalam hal penganggaran dengan ide incrementalism dalam
penganggaran, yang berarti bahwa prediktor yang paling penting dari
anggaran politik masa depan adalah bukan ekonomi rasional atau proses
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh negara. Bukunya yang
berjudul Politics of the Budgetary Process disebut oleh American Society
for Public Administration sebagai karya paling berpengaruh ketiga
dalam administrasi publik dalam lima puluh tahun terakhir.
Aaron Wildavsky adalah seorang penulis yang dinilai produktif,
dimana beliau menjadi menulis atau membantu menulis tiga puluh
sembilan buku dan sejumlah artikel jurnal, termasuk karya-karya penting
pada proses anggaran, analisis kebijakan, budaya politik, hubungan luar
negeri, administrasi publik, dan pemerintah komparatif. . Penghargaan
yang beliau peroleh setelah beliau wafat adalah penerima penghargaan di
University of Louisville Grawemeyer pada tahun 1996 untuk Ideas
Improving World Order, bersama Max Singer. Pemikiran Wildavsky tentang
administrasi negara terutama tertuang dalam tulisannya bersama Jeffrey L. Pressman yang
berjudul “Implementation” dan tulisannya sendiri yang berjudul “Self-Evaluation”.
1. Model Implementasi
Model implementasi merupakan salah satu pemikiran dari Wildavsky yang mana
model tersebut juga dipopulerkan oleh Pressman. “Implementation” (1973) merupakan
salah satu judul karya mereka yang berisi tentang sejauhmana keberhasilan implementasi
tergantung pada koordinasi, kerjasama, dan kontrol antara pihak-pihak yang terlibat dalam
pembuatan keputusan (Rocyati, 2012). Implementasi yang diusung oleh kedua tokoh
tersebut adalah berkaitan dengan teori organisasi, hubungannya dengan pemerintahan dan
kebijakan publik. Kedua tokoh ini juga memperkenalkan gagasan tentang implementation
deficit dan matematisasi pelaksanaan kebijakan (Hill & Hupe, 2002), yang berarti bahwa
tingkat kerjasama antar departemen haruslah benar-benar optimal karena apabila ada mata
rantai implementasi yang defisit akan menyebabkan kegagalan implementasi.
Sedangkan untuk matematisasi pelaksanaan kebijakan maksutnya adalah tingkat
keberhasilan dari implementasi tersebut dapat dianalisis secara matematis dengan syarat
tidak melibatkan banyak pihak karena semakin banyak link dalam rantai implementasi hal
tersebut berarti antar sesama pihak yang terlibat juga harus memerlukan tingkat kerjasama,
koordinasi, kontrol yang semakin tinggi juga. Hal tersebutlah yang kemudian banyak
menyebabkan kegagalan implementasi kebijakan karena biasanya implementasi kebijakan
sangat sulit diterapkan ketika melibatkan banyak pihak yang mana cenderung untuk
mengejar tujuan masing-masing dan mengabaikan tujuan bersama yang telah disepakati.
Berdasarkan hal tersebut, menjadi tantangan bagi para pembuat kebijakan untuk
melaksanakan komunikasi secara intensif dengan sesama pembuat kebijakan yang lain
serta komunikasi top-down secara optimal sehingga dalam implementasi kebijakannya
tidak ada miss communication pada tingkat jajaran dibawahnya.
2. Self Evaluation
Teori tentang self evaluation organization oleh Wildavsky berisi tentang kritik Wildavsky
terhadap sistem evaluasi yang selama ini berkembang. Evaluasi jarang dilakukan secara
obyektif karena budaya organisasi yang selama ini dipertahankan adalah selalu
menampakkan hal-hal yang baik saja namun menyembunyikan setiap kesalahan-
kesalahan. Hal tersebut menyebabkan evaluasi tidak bisa memberikan perbaikan kepada
organisasi yang bersangkutan. Penilaian secara subyektif tersebut dilakukan agar tidak
banyak terjadi perubahan dalam organisasi karna karyawan sudah merasa nyaman dengan
zonanya serta untuk mempertahankan citra dan kredibilitas organisasi yang tidak pernah
melakukan kesalahan. (Wildavsky, 2007)
Jeffrey L. Pressman
Jeffrey L. Pressman terkenal dengan pemikirannya mengenai konsep
implementasi yang dicetuskan dengan pemikiran bersama Aaron
Wildavsky. Pemikiran tersebut dikeluarkan pada tahun 1973. Dalam
bukunya yang berjudul Implementation: How Great Expectations in
Washington are Dashed in Oakland, Jeffrey L. Pressman dan Aaron
Wildavsky menjelaskan mengenai mengapa pekerjaan umum yang
disponsori oleh U.S. Department of Commerce di Oakland, California,
menghasilkan begitu sedikit pekerjaan sehingga tidak mengurangi
kemiskinan maupun meningkatkan kesejahteraan kelompok minoritas
(Leiter, 1975). Beberapa hal yang ditemukan oleh Pressman dan
Wildavsky dalam penelitiannya adalah bahwa program-program dalam
kebijakan yang telah dibuat mulai dilaksanakan ketika terdapat intensitas
yang baik dan kekuatan untuk berkomitmen. Selain itu juga disebutkan
bahwa implementasi nyata pada program pemerintah federal sangat sulit
diterapkan dan sering mengalami kegagalan. Akan tetapi sebelumnya
harus dipahami bahwa kebijakan diterjemahkan dalam satu aksi dan
implementasi merupakan suatu permasalahan utama sebagai hasil dari
suatu kebijakan yang dikeluarkan.
Penelitian Pressman dan Wildavsky mengenai implementasi tersebut
juga termasuk di dalamnya adalah pekerjaan mereka yang diasumsikan
bahwa garis hierarki top-down dalam proses kebijakan diawali dengan
undang-undang dan intensitas pegawai yang dipilih dalam pemilihan
umum yang kemudian menjadi basis pengambilan keputusan. Model top-
down mengasumsikan bahwa implementasi adalah proses garis lurus
pada suatu kebijakan yang diterjemahkan dalam program aktivitas. Oleh
karena itu pembuat kebijakan memiliki peran yang sangat penting karena
berdampak pada hasil. Penelitian ini didasarkan pada dua sumber
kegagalan dari implementasi yaitu isi dari kebijakan dan kemampuan
individu serta implementasi organisasi untuk dihargai. Diharapkan
implementasi yang mengarah pada top-down memiliki kemungkinan
penyimpangan yang sangat kecil.
Administrasi sebagai proses implementasi berbeda dengan
administrasi sebagai proses. Administrasi sebagai proses implementasi
juga menekankan kepada hasil akhir yang akan diterima, bukan hanya
pada penerapan kebijakannya saja. Terdapat tiga asumsi mengenai
konsep administrasi sebagai proses implementasi, yaitu pertama, bahwa
proses implementasi kebijakan top-down, hierarki, dan satu arah
diasumsikan bahwa kebijakan telah disusun sebagai bagian dari
perwakilan administrasi. Perwakilan ini akan membawa program atau
kebijakan di suatu negara. Kedua, fokus utama dalam manajemen
organisasi dan pengelolaan sumber daya manusia bertanggungjawab
untuk menyediakan pelayanan dan fungsi-fungsinya untuk mendukung
tindakan kebijakan. Ketiga, implementasi tidak menjadi bagian dari proses
kebijakan karena proses administrasi dan pembuat kebijakan merupakan
sesuatu yang berbeda.
Penelitian yang dilakukan oleh Jeffrey L. Pressman dan Aaron
Wildavsky digolongkan dalam penelitian generasi pertama. Secara umum
penelitian pada generasi pertama mengemukakan mengenai (Riyanto,
2008):
1. Mengelola pergeseran fokus dari sebuah proposal menjadi suatu
aturan dan bagaimana suatu aturan menjadi program.
2. Menggambarkan kompleksitas dan dinamika sifat dari implementasi
3. Menekankan pada pentingnya suatu subsistem kebijakan dan
kesulitan suatu subsistem dalam menghasilkan koordinasi dan
pengendalian
4. Mengidentifikasi sejumlah faktor yang seolah-olah menjadi pemicu
hasil sebuah program yang biasanya kekurangan ekspektasi
5. Mendiagnosa beberapa patologi yang secara periodik memengaruhi
aktor yang melaksanakan implementasi.
Pemikiran generasi pertama tersebut kemudian diteruskan sampai pada
generasi ketiga dan tetap berlangsung hingga saat ini. Implementasi
kebijakan yang dicetuskan oleh Jeffrey L. Pressman dan Aaron Wildavsky
akhirnya menjadi sejarah awal serta acuan terhadap perkembangan suatu
kebijakan di banyak negara termasuk di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Calhoun, Craig J. 1893. Robert K. Merton: Sociology of Science and Sociology as Science.
New York: Columbia University Press.
Hill&Hupe. 2002. Implementing Public Policy Chapter Implementition Theory: The Top
Down/Bottom Up Debate dalam review oleh Dodi Faedluloloh. http://
www.dodifaedlulloh.com/2013/07/antara-top-down-dan-bottom-up-diskursus.html
Schmaus, Warren. 2008. Merton, Robert King Biography. http: //www. encyclopedia.com/
topic/Robert_King_Merton.aspx diakses pada 21 Mei 2014
Pace, Eric. 1993. A Aaron Wildavsky, Budgeting Expert And Researcher, 63. http://
www.nytimes.com/1993/09/06/obituaries/aaron-wildavsky-a-
budgeting-expert-and-researcher-63.html diakses pada Juma t23 Mei
2014 pukul 23.46.
Kaufman, Herbert. 1969. Public Administration Review: Administrative Decentralization and
Political Power. Vol. 29. No.1 Pp. 3-15.
Kettner, P. M. (2002). Achieving Excellence in the Management of Human Service
Organizations. United States: Pearson Education, Inc.
Leiter,William. M. The Western Political Quarterly diakses dari http:// www. jstor.org/
discover/10.2307/447443?uid=3738224&uid=2&uid=4&sid=21104065897077
Magister Administrasi Publik Unsoed. Berpikir Strategis, Bertindak
Demokratis diakses
darihttp://mapunsoed12.files.wordpress.com/2008/05/bab-65.doc
Poloma, Mrgret M. 2000. Sosiologi Kontemporer. Penerjemah Yasogama, Jakarta: Raja
Grafindo Persada
Riyanto, Ayi. 2008. Studi Implementasi Kebijakan Publik diakses dari
http://www.scribd. Com/doc/28193139/Implementasi-Kebijakan-
Publik-Working-Paper.
Rocyati. 2012. Pendekatan dan Teori-Teori Implementasi Kebijakan Publik dalam
http://rochyati-w-t-fisip.web.unair.ac.id/artikel yang diakses pada tanggal 23 Mei 2014
Pukul 23.27.
Wildavsky, Aaron. 2007. Speaking Truth The Power. New Jersey:
Transaction Publisher.
BIOGRAFI DAN KONTRIBUSI TOKOH ADMINISTRASI PUBLIK
DWIGHT WALDO, DANIEL KATZ AND ROBERT L KAHN,
FREDERICK RIGGS, MICHAEL LIPSKY, H.GEORGE
FREDERICKSON
DISUSUN OLEH
Kelompok 2
Nike Adelia I. 11/312176/SP/24504
Agtiara Rooviuka P. 11/317771/SP/24664
Selfi Putrantri 11/312203/SP/24509
Ade Melani 11/317790/SP/2468
Devi Rianitasari 11/312358/SP/24536
Maretha Asriningtyas 11/317809/SP/24699
Harji Kalbuadi 11/312513/SP/24565
Kuncono Cahyo Mukti 11/317825/SP/24713
Wandhana H. 11/312442/SP/24550
Irenty Helena 11/317780/SP/24671
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014
Dwight Waldo
Dwight Waldo merupakan salah satu tokoh yang berjasa dalam perkembangan ilmu
administrasi publik. Waldo lahir pada 28 September 1913 dan merupakan ilmuwan politik
Amerika. Waldo merupakan wakil presiden pada tahun 1976-1977 dan menjadi presiden di
National Associationof Schools of Public Affairs and Administration di tahun 1977-1978.
Jabatan kepemimpinan profesional lain yang pernah di duduki oleh Waldo adalah wakil
presiden di American Political Science Association tahun 1961-1962, editor-in-chief of the
Public Administration Review di tahun 1966-1977 dan wakil presiden di American Society
for Public Administration pada tahun 1985-1986. Karya terkenal dari Waldo adalah “The
Administrative State: A Study of the Political Theory of American Public Administration”
yang dipublikasikan pada tahun 1948.
Dwight Waldo mengemukakan bahwa administrasi publik adalah gabungan antara
seni dan ilmu-ilmu pemerintahan yang akhirnya berkembang menjadi seni dan ilmu-ilmu
manajemen. Efisiensi dan ekonomi menjadi hal yang pokok dalam teori manajemen, dan hak
masyarakat menjadi hal yang pokok dalam teori pemerintahan. Terdapat empat (4) ide pokok
dalam pemikiran Waldo mengenai ilmu administrasi publik, yaitu ada ketegangan antara
demokrasi dan birokrasi yang mewajibkan PNS untuk melindungi prinsip demokrasi;
dikotomi politik merupakan prinsip yang salah karena pegawai negeri memegang posisi
politik yang membutuhkan lebih dari sekedar melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh
pejabat yang terpilih; pegawai negeri di tuntut untuk menggunakan prinsip efisiensi dengan
metode manajemen ilmiah proses hukum dan akses masyarakat terhadap pemerintah; dan
pemerintah tidak dapat dijalankan seperti bisnis atau sektor swasta (George Lowery, 2001).
Dwight Waldo berpendapat melalui kritikannya terhadap paradigma perkembangan
administrasi publik, yang kemudian menjadi salah satu cikal bakal munculnya Studi
Perbandingan Administrasi Negara. Salah satunya adalah kritik Waldo mengenai ilmu
administrasi publik klasik. Waldo kurang menyetujui mengenai prinsip dikotomi administrasi
publik dan berpendapat bahwa pemisahan antara dikotomi dan administrasi publik tidak
sesuai. Prinsip dikotomi digunakan untuk menyelesaikan permasalahan antara birokrasi dan
demokrasi dengan menggunakan pemilihan tanggung jawab yang representatif untuk
menyusun kebijakan dan membatasi administrator terhadap implementasi kebijakan tersebut.
Demikian pula melalui desertasinya yang berjudul The Administrative State tersebut,
Waldo mengkritik mengenai prinsip administrasi negara menurut Gulick dan Urwick. Prinsip
yang mereka kemukakan ialah POSDCORB yang merupakan singkatan dari Planning,
Organizing, Staffing, Directing, Co-ordinating, Reporting dan Budgeting sebagai suatu fungsi
eksekutif dalam administrasi. Menurut Waldo, POSDCORB merupakan doktrin administrasi
yang tidak netral. Doktrin tersebut mengandung nilai-nilai yang kompleks dari politik filsafat
kuno dari peradaban barat, sehingga tidak dapat digunakan selain di dunia barat dan dimasa
mendatang (Thoha, 2010). Politik dan filsafat kuno peradaban barat yang dimaksud oleh
Waldo adalah mengenai pandangan Jefferson dan Jackson tentang demokrasi dan peranan
pemerintah. Menurut mereka peranan pemerintah tidak boleh terlalu banyak mencampuri
urusan perseorangan dan berpendirian bahwa peranan yang besar harus diberikan kepada
perseorangan dalam menentukan kegiatan-kegiatan kolektif (Waldow, ___ ). Selain itu,
Waldo juga mengkritik bahwa metodologi yang dipergunakan untuk menentukan prinsip-
prinsip tersebut tidak konsisten, demikian pula nilai ekonomi dan efisiensi yang mendominasi
pemikiran pada bidang ini terlalu sempit. Prinsip POSDCORB mempunyai peranan besar
dalam ilmu administrasi publik. Prinsip ini berkaitan erat dengan sistem manajemen publik
atau mengenai sistem organisasi publik. POSDCORB menjelaskan mengenai langkah-
langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan sistem manajemen atau organisasi yang
lebih baik.
Dwight Waldo berpendapat bahwa administrasi publik di zaman klasik tidak
menunjukkan prinsip demokrasi yang ideal. Demokrasi terlihat sebagai hal yang diinginkan,
namun berfokus di sekeliling administrasi dan berlawanan dengan prinsip efisiensi. Waldo
juga mengkritik bahwa pemikiran administrasi klasik tidak terlalu penting terhadap irasional
dan aspek informal dari organisasi.Sudah dijelaskan bahwa Waldo mengkritisi prinsip
administrasi klasik karena ia menganggap prinsip tersebut terlalu berpacu pada politik filsafat
kuno dan peradaban barat. Menurut Waldo, studi public administration merupakan jawaban
dalam upaya mengubah politik dan filsafat kuno tersebut. Pada hakikatnya filsafat yang baru
ini merupakan suatu penafsiran kembali akan arti demokrasi bagi Amerika dengan
mewujudkan nilai persamaan dan kebebasan warga negara dengan jalan membentuk suatu
pemerintahan yang kuat, effisien, dan sekaligus bertanggung jawab serta demokratis
Daniel Katz and Robert L Kahn
Para ilmuwan sosial berharap untuk memahami mengenai organisasi manusia atau
human organization untuk dapat mendeskripsikan dasar-dasar bentuk, aspek-aspek, serta
fungsi organisasi mereka tersebut. Melalui hal tersebut, mereka berharap dapat menguji dan
mengaplikasikan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki dengan mengenalkan perubahan
dengan maksud tertentu ke dalam organisasi dengan menerapkannya pada organisasi tersebut,
misalnya dengan mewujudkan organisasi yang lebih ramah dan lebih responsive terhadap
kebutuhan-kebutuhan manusia.
Masalah pertama yang muncul dalam usaha memahami sebuah organisasi atau
sistem sosial adalah letak serta pengenalannya. Bagaimana para ilmuwan dapat mengetahui
bahwa mereka telah mendapai kesepakatan untuk berhubungan dengan sebuah organisasi?
Apa saja batasan-batasannya? Perilaku apa saja yang terdapat dalam internal organisasi
maupun eksternal organisasi? Istilah yang popular digunakan untuk manamai organisasi-
organisasi sosial adalah sebuah bantuan dan sebuah rintangan. Istilah ini menunjukkan
adanya penerimaan secara sosial stereotip mengenai organisasi dan tidak secara terperinci
mengenai struktur peran dalam organisasi tersebut. Karakteristik utama yang kedua dari
pendekatan untuk memahami sebuah organisasi adalah dengan memandangnya sebagai hal
yang sederhana. Organisasi yang dapat menghidupkan sistem, baik biologis maupun
organisasi sosial benar-benar bergantung pada lingkungan eksternalnya dan harus menjadi
sebuah organisasi dengan sistem yang terbuka. Karakteristik yang terdapat dalam sebuah
sistem yang terbuka yaitu :
1. Pemasukan Energy : sebuah sistem yang terbuka mendatangkan sebagian energy
dari lingkungan eksternal.
2. The Through-Put : sistem terbuka mentransform energy yang tersedia untuk
dirinya. Organisasi menciptakan produk baru dengan mereorganisasi proses input
yang dilakukan dalam sebuah organisasi.
3. The Output : sistem mengambil beberapa produk dari luar ke dalam
lingkungannya. Seperti makhluk hidup yang menghasilkan karbondioksida dari
paru-paru yang dibutuhkan tumbuhan.
4. Systems as cycles of events : pola aktivitas dari pertukaran energi menpunyai sifat
yang membentuk suatu siklus. Produk yang diambil dari luar lingkungan
organisasi melengkapi sumber energi untuk dilakukan proses pengulangan dan
membentuk sebuah siklus.
5. Negative Entropy : Sistem terbuka, dengan mengambil energi lebih dari
lingkungannya daripada yang dikeluarkan dapat menyimpan energy dan
memperoleh entropi negatif.
6. Information Input, Negative Feedback, and the Coding Process : Input juga
informatif dalam karakter dan memberi sinyal kepada struktur mengenai
lingkungan dan mengenai fungsinya yang berhubungan dengan lingkungan.
Umpan balik informasi dari jenis negatif memungkinkan sistem untuk
memperbaiki deviasi dari arahnya. Coding adalah istilah umum bagi mekanisme
selektif dalam penerimaan input, dimana bahan yang masuk ditolak atau diterima
dan diterjemahkan untuk struktur.
7. The Steady State and Dynamic Homeostatis : Steady state tidak terpaku atau
keseimbangan yang benar. Prinsip homeostatis tidak berlaku secara harfiah untuk
fungsi dari semua sistem kehidupan yang kompleks, bahwa dalam menangkal
entropi mereka bergerak menuju pertumbuhan dan ekspansi.
8. Differentiation : Sistem terbuka bergerak ke arah diferensiasi dan elaborasi.
Organisasi sosial bergerak menuju perkalian dan elaborasi peran yang lebih besar
dengan spesialisasi fungsi.
9. Equifinality : Berdasarkan prinsip ini, sistem dapat mencapai tahap akhir yang
sama dari kondisi awal yang berbeda dan dengan berbagai jalur.
Beberapa Konsekuensi dari Melihat Organisasi Sebagai Sistem Terbuka
Kesalahpahaman utama adalah kegagalan untuk mengakui sepenuhnya bahwa
organisasi tersebut secara terus-menerus tergantung pada masukan dari lingkungan dan
bahwa masuknya bahan dan energi manusia tidak konstan. Salah satu kesalahan yang
tampaknya dari jenis kesalahpahaman adalah kegagalan untuk mengenali equifinality sistem
terbuka, yaitu bahwa ada lebih dari satu cara menghasilkan hasil yang diberikan. Sebuah
garis kesalahan kedua bahwa penyimpangan dalam fungsi sistem akibat pengaruh lingkungan
adalah varians kesalahan dan harus diperlakukan dengan sesuai. Menurut konsepsi ini,
mereka harus dikontrol dari studi organisasi. Teori sistem terbuka, di sisi lain, akan
mempertahankan bahwa pengaruh lingkungan yang tidak sumber kesalahan varians tetapi
secara integral terkait dengan fungsi sistem sosial, dan bahwa kita tidak dapat memahami
sistem tanpa belajar terus-menerus dari kekuatan yang menimpa itu .
Frederick Riggs
Frederick W. Riggs lahir pada tanggal 3 Juli 1917 di China anak dari Clara-Louise
Mather dan Charles Henry Riggs. Riggs kuliah di University of Illionis dan dianugerahi gelar
BA pada tahun 1938; gelar Ph.D, dalam hubungan internasional diberikan pada tahun 1948
dari Columbia University. Pada tahun 1947-1948, Riggs kuliah di jurusan hubungan
internasional di Columbia University. Frederick Riggs bekerja sebagai asosiasi penelitian di
Asosiasi Kebijakan Luar Negeri di New York pada tahun 1948-1951, kemudian pada tahun
1951-1955 Riggs berperan sebagai asisten direktur dari New York City Office of Public
Administration Clearing House (McCurdy, 1999).
Frederick Riggs merupakan salah satu tokoh yang melihat ketimpangan mengenai
banyak teori dan paham mengenai Administrasi Negara yang telah banyak dijelaskan oleh
tokoh lainnya. Berangkat dari permasalahan tersebut Frederick Riggs beranggapan bahwa
terjadi ketimpangan didalam masyarakat dalam praktek Administrasi Publik. Frederick Riggs
sangat terkenal dengan teori masyarakat prismatik (McCurdy, 1999) Teori tersebut mencoba
untuk menyebut masyarakat yang sedang berkembang atau berubah diibaratkan sebagai
prisma. Sebenarnya teori yang disampaikan Riggs apabila dianalisis menjelaskan bagaimana
proses administrasi secara teorinya sangat baik dan terstruktur namun mampu menciptakan
kerusakan pada segi prosedurnya. Hal ini dikarenakan heteregen yang tinggi pada masa
sekarang membuat banyak teori tentang administrasi seutuhnya mampu diterapkan diseluruh
negara. Sehingga hal tersebut membuat dari segi prakteknya sebenarnya masyarakat
tradisonal dan masyarakat modern seakan tidak diharapkan untuk bekerja didalamnya.
Sebenarnya Frederick Riggs mencoba menjelaskan bahwa dalam administrasi publik seluruh
elemen masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang sama. Selain itu pada masa moderen ini
masyarakat sangat bersifat heterogen, yang artinya tidak seluruh konsep mengenai
administrasi di publik ataupun swasta dapat diterapkan di semua tempat.
Frederick Riggs memiliki kontribusi yang cukup berpengaruh pada perkembangan
Administrasi Publik. Terbukti dengan karyanya yang berjudul The Ecology of Public
Administrasi dan The Theory of Prismatic SocietY (McCurdy, 1999). Frederick Riggs dengan
karyanya mencoba memberikan pemahaman tidak ada konsep administrasi yang bersifat
universal. Artinya sebaik apapun konsep dibidang Administrasi Publik yang telah banyak
dipaparkan oleh banyak ahli seperti Old Public Administration, New Public Management,
New Public Service tidak sepenuhnya relevan untuk diterapkan pada seluruh negara.
Sebenarnya konsep managemen dalam Administrasi Publik harus disesuaikan dengan norma
ataupun budaya pada setiap negara (McCurdy, 1999). Secara konsep Old Public
Administration, New Public Management, New Public Service memang sangat baik. Tetapi
apabila dianalisis kembali, konsep tersebut lebih relevan untuk diterapkan pada negara maju.
Sedangkan bagaimana konsep tersebut bisa sejalan secara praktek pada negara berkembang.
Hal tersebut kurang diperhatikan oleh banyak negara, sebab banyak negara menggunakan
konsep tersebut seperti sekedar hanya mengikuti model administrasi moderen. Banyak hal
yang tidak dipikirkan seperti dengan konsep administrasi yang terbaik apakah mampu
menjawab model administrasi yang sesuai dengan norma dan budaya yang ada pada
lingkungan setempat. Seharusnya konsep Administrasi Publik lebih bijaksana apabila
dibentuk sesuai dengan budaya dan norma yang ada pada lingkungan setempat. Hal ini
bertujuan untuk merubah mindset masyarakat tradisional menjadi masyarakat moderen. Pada
akhirnya masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam memenuhi administrasi.
Michael Lipsky
Banyak aparatur pelayan publik yang saat ini tergolong ke dalam kelas atas di sebuah
komunitas masyarakat. Namun demikian proses penyampaian pelayanan oleh pemerintah
kepada masyarakat biasanya justru dilakukan oleh para pekerja tingkat bawah, seperti
pegawai kelurahan, atau polisi yang ada di pinggir jalan. Para aparatur yang secara langsung
bersinggungan dengan masyarakat dalam rangka penyampaian pelayanan disebut sebagai
street-level bureaucrats atau birokrat tingkat jalanan. Beberapa contoh street-level
bureaucrats adalah guru, petugas instansi pemerintah, polisi, pekerja sosial, dan berbagai
profesi publik lain yang secara langsung berinteraksi dengan masyarakat. Sebagai penyampai
kebijakan, street-level bureaucrats seringkali menjadi fokus di kontroversi. Mereka terus
dituntut untuk memperbaiki pelayanan, meningkatkan responsivitas dan efektifitas pelayanan,
dan berbagai tuntutan masyarakat lain. Selain itu karena gaji para street-level bureaucrats
juga menjadi salah satu bagian terbesar dari pengeluaran sebuah negara, maka seringkali
muncul kekhawatiran masyarakat terhadap kualitas dan lingkup pekerjaan para street-level
bureaucrats ini.
Pada dasarnya kontroversi yang ditimbulkan oleh para street-level bureaucrats ini
terjadi karena dua alasan. Pertama lingkup serta fokus dari pelayanan pemerintah masih terus
menjadi perdebatan, kedua pekerjaan yang dilakukan oleh para street-level bureaucrats
memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat, dengan demikian secara
implisit para street-level bureaucrats menjadi penghubung antara negara dengan masyarakat.
Konflik Antara Lingkup dan Substansi Pelayanan Publik
Apabila pekerja publik dilihat dan dibedakan berdasarkan intensitas mereka dalam
berinteraksi dengan masyarakat, maka akan terlihat bahwa sebagian besar pekerja publik
memiliki karakteristik yang sama. Jumlah street-level bureaucrats sangat tinggi apabila
dibandingkan dengan pegawai publik lainnya. Dengan jumlah sebesar itu terlihat bahwa
jumlah biaya yang digunakan untuk menggaji para street-level bureaucrats menjadi
penyumbang terbesar dari keseleuruhan biaya pelayanan publik, hal ini bertambah seiring
berjalannya waktu. Tidak hanya gaji, namun lingkup pekerjaan mereka juga turut bertambah
seiring berjalannya waktu. Sebagai contoh, dahulu charity merupakan responsibilitas dari
sektor privat. Namun kini sektor publik juga memiliki kewajiban yang sama, yaitu menjamin
terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Dengan demikian sektor publik mulai “menyerap”
bentuk tanggung jawab yang sebelumnya hanya dimiliki oleh sektor privat.
Para street-level bureaucrats memiliki pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat.
Pengaruh tersebut akan semakin besar apabila masyarkat yang berinteraksi dengan street-
level bureaucrats merupakan masyarakat miskin. Masyarakat yang tidak mampu membeli
layanan dari sektor privat harus mendapatkan pelayanan tersebut dari pemerintah. Dengan
demikian dari sini terlihat bahwa para street-level bureaucrats mampu mempengaruhi
masyarakat penerima layanan, yang tidak mempunyai alternatif lain selain mendapatkan
pelayanan dari mereka. Kemudian banyak dari street-level bureaucrats yang seakan memiliki
“imunitas” dan memiliki tingkat “work security” yang tinggi. Hal ini dikarenakan tugas para
street-level bureaucrats dan pekerja publik pada umumnya tidak mampu digantikan, dan
sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan demikian biaya yang besar tetap dikucurkan bagi
mereka, dengan kinerja yang seadanya.
Konflik Atas Interaksi dengan Masyarakat
Salah satu alasan, mengapa street-level bureaucrats menjadi fokus dari kontroversi
publik adalah street-level bureaucrats berinteraksi langsung dengan masyarakat dan interaksi
tersebut berdampak secara langsung kepada kehidupan masyarakat, karena keputusan yang
diambil oleh street-level bureaucrats dalam memberikan pelayanan akan mempengaruhi self-
evaluation dari orang tersebut. Dengan demikian, street-level bureaucrats harus berhadapan
dengan reaksi masyarakat terhadap pelayanan yang telah diterima masyarakat tersebut.
Street-level bureaucrats juga menjadi fokus dari reaksi masyarakat karena setiap diskresi
yang dimilikinya menimbulkan persepsi di masyarakat bahwa street-level bureaucrats akan
mengambil keputusan yang sesuai dengan keinginan masyarakat.
Di sisi lain, street-level bureaucrats juga berperan dalam mengendalikan konflik
kontemporer mengingat salah satu fungsi mereka sebagai social-control. Misalnya saja di
dalam masyarakat, para polisi dan instansi – instansi penegakan hukum lainnya berperan
mengendalikan konflik akibat adanya “korban” dalam kondisi ekonomi, seperti munculnya
pencuri, perampok dan lain – lain dengan cara menghukum mereka. Namun demikian,
permasalahan selanjutnya adalah bagaimana cara yang tepat untuk mengendalikan konflik
tersebut. Pada kasus di atas, permasalahan yang muncul adalah hukuman apa yang harus
diberikan oleh para street-level bureaucrats tersebut kepada para perampok dan pencuri
tersebut. Apakah hukuman yang keras, sehingga mereka jera, ataukah hukuman yang sifatnya
membina untuk mengubah perilaku mereka menjadi lebih baik.
H.George Frederickson
Administrasi publik adalah manajemen yang efisien, ekonomis, dan terkoordinasi
dengan layanan seperti petugas pemadam kebakaran, kesejahteraan pekerja, dll.Fokusnya di
manajemen tingkat atas (manajemen kota misalnya) atau layanan dasar staf tambahan
(penganggaran, organisasi dan manajemen, analisis sistem, perencanaan, personil, dan
pembelian). New Public Administration (NPA) menambahkan keadilan sosial dengan tujuan
klasik dan rasional. Keadilan sosial meliputi kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan
kekuatan politik dan kesejahteraan ekonomi mereka dalam minoritas (misalnya buruh
tani). Sebuah komitmen mendasar untuk keadilan sosial berarti NPA yaitu perubahan.
1. Proses Distributif
Yang harus dilakukan oleh NPA, pertama,dengan distribusi eksternal barang dan jasa
untuk kategori tertentu dari orang-orang, dalam hal manfaat yang dihasilkan dari
pengoperasian program diberikan secara terbuka. Analisis utilitas-biaya adalah teknik utama
untuk mencoba memahami hasil dari proses distributif. Analisis utilitas-biaya mencoba
untuk memproyeksikan kemungkinan biaya dan manfaat dari program-program alternatif,dan
analisis ini menyediakan sarana ilmiah untuk mencoba untuk "mendapatkan" pertanyaan dari
ekuitas /keadilan. Kekurangannya adalah analisis rasional sulit atau bahkan mustahil
untuk dilakukan dan analisis umumnya didasarkan pada data sensus yang relatif out-of-date.
2. Proses Integratif
NPA mencoba untuk memodifikasi sistem hirarki tradisional dengan teknik proyek.
Teknik ini digunakan dalam pengembangan dan perbaikan organisasi baik secara teknis
maupun sosial. Dengan teknik ini maka diharapkan organisasi menjadi sedikit terstruktur,
sedikit formal, dan sedikit integrtif otoritatif. Dampaknya adalah organisasi tersebut mulai
menerapkan variasi pelayanan publik juga sangat toleran pada konsep inefisiensi dan
pemborosan. Yang diutamakan adalah keterlibatan dan komitmen oleh para birokrat.
3. Proses Pertukaran Batas
Pada proses pertukaran batas, keterlibatan posisi klien yang lebih tinggi diperlukan
dalam kelompok minoritas yang sebelumnya tidak dilibatkan. Bentuk keterlibatan kelompok
minoritas berkekurangan akan dijadikan pola rutinitas dalam pembuatan keputusan distributif
yang mendukung kepentingan kelompok tersebut meskipun sulit melihat nilai efisiensi dan
ekonominya. Dalam sistem ini segala materi yang dibutuhkan dalam operasional pelayanan
ditentukan oleh level bawah sedangkan level atas yang menyediakan sumber daya yang
diperlukan. Pada akhirnya keputusan dan prosedur yang digunakan suatu proyek berbeda satu
dengan yang lain didasarkan pada keadaan klien yang terlibat dan lingkungan politik
administratif.
4. Proses Sosioemosional
Pelatihan Sosioemosional dilakukan dengan merendahkan ketergantungan pegawai
pada hirarki, memampukan pegawai toleran terhadap konflik dan emosi, dan bahkan dalam
keadaan tertentu menerimanya, dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi resiko yang
lebih tinggi. Argyris, ahli Departemen Negara Bagian di Amerika Serikat merekomendasikan
beberapa cara untuk mengatasi patologi birokrasi yaitu program perubahan harus fokus pada
gaya perilaku dan kepemimpinan, pegawai diajak untuk lebih berinisiatif, mampu mengambil
resiko, dan mengemban tanggung jawab yang besar, dan diperlukan evaluasi, promosi, dan
inspeksi terhadap kinerja pegawai.
Pada intinya, ada beberapa perbedaan yang sangat menonjol antara Old Public
Administration (OPA) dengan NPA yaitu penggunaan biaya manfaat, tidak terfokus pada
hirarki, desentralisasi pengambilan keputusan, dan menitikberatkan pada perubahan perilaku
dan gaya kepemimpinan. Dari berbagai hal yang ditonjolkan NPA, semuanya cenderung
mempertimbangkan kebutuhan perindividu pegawai, khususnya kelompok yang
termarginalkan. Kecenderungan ini baik secara demokratis dan benar-benar menonjolkan
prinsip partisipasi dan kedaulatan. Namun, proses yang dibutuhkan sangat lama dan belum
tentu semua aspirasi pegawai dapat terakomodasi. Hal ini juga akan semakin memicu konflik
karena tetap saja pada akhirnya yang digunakan adalah suara mayoritas jika pemufakatan
tidak dapat tercapai. Kebebasan yang diberikan pada pegawai level bawah untuk melakukan
sistem pelayanan yang berbeda juga nantinya akan menjadi beban karena tidak adanya
kesatuan standar pelayanan membuat otoritas administrator lebih rendah dari klien.
Administrator akan diatur oleh kebutuhan klien yang kompleks sehingga tidak ada tolak ukur
yang digunakan untuk membatasi sampai sejauh mana kebutuhan klien harus dipenuhi.
DAFTAR PUSTAKA
Lowery, George. 2001. Putting the Purpose in P.A. Maxwell School of Syracuse University.
http://www.maxwell.syr.edu/news.aspx?id=227 di akses pada tanggal 20 Mei 2014
pukul 19.19
McCurdy ,Howard.1999. Contributions to the Study of Comparative Public Administration.
Washington : diterbitkan oleh http://rinoan.staff.uns.ac.id/files/2009/02/curdy-on-fred-
w-riggs.pdf pada tahun 2009, diakses pada : 25 Mei 2014, pada pukul 19.00 wib
Thoha, Miftah. 2010. Ilmu Administrasi Publik Kontemporer. Jakarta: Kencana
Waldo, Dwight. ___. Pengantar Studi Public Administration. Jakarta: Usaha Penerbit
Djajasakti
BIOGRAFI DAN KONTRIBUSI TOKOH ADMINISTRASI PUBLIK
FREDERICK WINSLOW TAYLOR, WOODROW WILSON, FRANK
GOODNOW, HERBERT A SIMON, LUTHER GULICK
DISUSUN OLEH
Kelompok 3
Cahyani Widi Larasakti 13/347702/SP/25644
Desita Clara 13/347881/SP/25705
Faizatul Akmaliyah 11/317843/SP/24730
Herarizna Sholichah 13/347168/SP/25628
Ilham Indiarto 11/317853/SP/24740
Miftah Sayyid Persada 11/317937/SP/24819
Sendy Bastian 13/347667/SP/25640
Septika Wardani 11/317909/SP/24792
Zainal Imron Hidayat 11/317847/SP/24734
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014
Frederick Winslow Taylor (1856-1915)
Frederick Winslow Taylor, lahir pada tanggal 20 Maret 1856 di Germantown,
Philadelpia, dari pasangan pengacara dan ativis abolisionis di Philadelpia dengan kondisi
ekonomi keluarga yang tergolong ekonomi kalangan atas. Pada tahun 1872, setelah
melakukan perjalanan ke Eropa selama 18 bulan dan belajar di Prancis dan Jerman selama
dua tahun Taylor masuk ke sebuah akademi, Phillips Exeter Academy, Exeter (di Amerika
Serikat), untuk mempersiapkan diri masuk ke Harvard School of Law. Sayang, setelah lulus
dari akademi tersebut penglihatan Taylor muda terganggu yang hal tersebut memaksa ia harus
mengubur mimpinya untuk dapat mengenyam pendidikan di Harvard. Tidak dapat
melanjutkan pendidikannya, kembali ke Philadelpia kemudian Taylor mulai berkerja sebagai
pekerja profesional dibanyak perusahaan, diawali berkerja di pabrik pompa (1874-1878)
sampai menjadi GM (General Manager) di perusahaan investasi manufaktur (1890-1893).
Lepas sebagai GM, seorang Taylor kemudian membuka praktik konsultan bidang manajemen
manufaktur di Philadepia. Tidak dapat melanjutkan ke Harvard, ternyata tidak mematikan
semangat ia untuk belajar, di sela-sela kesibukannya berkerja, pada tahun 1883 Taylor
berhasil meraih M.E (Master of Enginering) dari Steven Institute of Technology.1 Liku
perjalanan hidup Taylor ini, terutama pengalaman profesionalnya dibidang industri
manufaktur, kemudian ia dikenal sebagai ahli dalam dunia manajemen. Dari andil
pengalaman kerja profesionalnya, munculah gagasannya tentang scientific management
(manajemen ilmiah), yang hingga saat ini sangat berpengaruh terhadap evolusi ilmu
manajemen dan ilmu administrasi publik.
Konsep manajemen ilmiah Taylor ini lahir karena adanya tantangan/kebutuhan untuk
menaikkan produktivitas diberbagai perusahaan industri manufaktur era itu. Di Amerika
Serikat khususnya, di awal abad ke-20 tenaga terampil tidaklah banyak jumlahnya. Sehingga,
untuk mengembangkan produktivitas dalam bisnis kemudian dicarilah cara untuk bagaimana
menaikkan efektifitas dan efisiensi para pekerja. Ia mencoba membongkar cara-cara bekerja
manajemen tradisional (rule of thumb) yang saat itu masih marak digunakan. Terhadap
konsepnya ini, Taylor mendasarkan sistem manajemennya pada penelitian waktu kerja (time
studies) di bagian produksi. Cara yang digunakan oleh Taylor adalah menganalisis dan
mengukur waktu gerakan-gerakan yang dilakukan oleh buruh pabrik baja dalam serangkaian
pekerjaan. Dengan penelitian waktu sebagai dasarnya, Taylor kemudian dapat memecahkan
setiap pekerjaan ke dalam komponen-komponennya dan merancang cara pengerjaan yang
tercepat dan terbaik untuk setiap pekerjaan. Dengan demikian ia menentukan seberapa
banyak pekerja yang dapat bekerja dengan peralatan dan bahan yang tersedia. 2 Sehingga, dari
pendekatan manajemen yang digunakan oleh Taylor inilah yang kemudian menandai awal
munculnya manajemen ilmiah, atau yang saat ini juga banyak dikenal dengan Taylorism.
Dalam perjalanannya, ada beberapa karya ilmiah Taylor dengan gagasan-gagasan
cemerlangnya yang telah berkontribusi besar dalam pengembangan kelimuan manajamen.
1 Frederick Winslow Taylor. [internet]. 2014. Website Miami University. Diakses
tanggal 22 Mei 2014 dari
http://www.units.miamioh.edu/technologyandhumanities/taylor.htm.
2 Taylor dan Manajemen Ilmiah. Diakses dari
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/sosi4310/top.10.htm
Salah satu karya berpengaruhnya adalah sebuah artikel berjudul The Principle of Scientific
Management yang dipublikasikan pada tahun 1911, dimana didalamnya ia mengulas tentang
prinsip-prinsip manajemen ilmiah. Prinsip-prinsip manajemen ilmiah inilah yang kemudian
melambungkan nama seorang Taylor. Bagi Taylor, penerapan prinsip manajemen ilmiah ini
sangat penting fungsinya jika diterapkan dalam sebuah organisasi profesional. Dengan
penerapan prinsip ini menurut pandangannya dapat mendatangkan efektifitas dan efisiensi
pekerjaan di dalam organisasi tersebut. Adapun 4 prinsip manajemen ilmiah tersebut adalah3:
1. Membangun atau mengembangkan sebuah metode yang ilmiah dalam mendesain
pekerjaan-pekerjaan untuk menggantikan model lama yang menggunakan metode
rule of thumb,
2. Seleksi serta pengembangan dan pelatihan/pendidikan progresif bagi karyawan
secara ilmiah. Dalam hal ini, Taylor menunjukkan bagaimana nilai/cara untuk
mencocokkan pekerjaan kepada karyawan. Dia juga menekankan untuk
mempelajari kemampuan dan kelemahan karyawan serta menyediakan pelatihan
untuk meningkatkan performa kerja para karyawan,
3. Membuat secara holistik (berkesinambungan) metode ilmiah dalam penyeleksian
dan pengembangan karyawan dalam mendesain pekerjaan,
4. Pembagian pekerjaan (division of work) yang menghasilkan keterikatan antara
manajemen dengan para karyawan. Taylor merasa bahwa jika mereka benar-benar
saling terikat satu sama lain makan sikap kooperatif akan dengan sendirinya
mengikuti/terbangun.
Woodrow Wilson (1856-1924)
Thomas Woodrow Wilson lahir di Staunton Virginia pada 28 desember 1856 dan
meninggal pada usia 67 tahun di Washington D.C. pada 3 Februari 1924. Semasa hidupnya ia
terpilih sebagai Gubernur New Jersey yang ke-34 pada tahun 1910 dan menjadi Presiden
Amerika Serikat ke-28 selama dua masa jabatan pada tahun 1913-1921. Wilson adalah salah
satu tokoh reformasi demokrat. Selama masa jabatan pertama ia berhasil menetapkan
beberapa konstitusi penting melalui kongres diantaranya yaitu undang-undang yang berkaitan
3 Taylor, Frederick W. 1997. Scientific Management dalam Classics of Public
Administration. Shafritz, Jay M dan Hyde, Albert C. United States of America:
Harcourt Brace College Publishers.
dengan pajak pendapatan federal yang bertingkat, undang-undang anti monopoli dan
konstitusi larangan memperkerjakan anak-anak. Pada Januari 1918 ia mencetuskan 14 pasal
perdamaian yang kemudian dikenal sebagai Wilson’s Fourteen Points. Empat belas pasal
tersebut diharapkan menjadi landasan dalam perundingan antara sekutu dengan negara-
negara blok sentral yang kalah perang dalam Perang Dunia I. Kemudian pada tahun 1919 ia
menerima Penghargaan Perdamaian atas jasanya mendirikan Liga Bangsa-Bangsa (pelopor
PBB).
Woodrow Wilson adalah salah satu tokoh yang mempelopori administrasi publik
sebagai ilmu. Ia menyatakan:
“This is there would be a science of administration which shall seek to straighten the paths
of government, to make its business less unbusinesslike, to strengthen and purify its
organization, and to crown its dutifulness. This is one reason why the is such a science”4.
Ilmu administrasi publik diperlukan untuk mengatur dan mengorganisasikan pemerintahan
agar dapat terlaksana dengan baik. Wilson menginginkan kajian administrasi publik tidak
hanya berkaitan dengan masalah personalia, tetapi juga menyangkut organisasi dan
manajemen secara umum. Ia menyatakan terdapat dua tugas utama administrasi publik,
pertama yaitu apa yang dapat dilakukan pemerintah dengan baik dan sukses dan kedua
bagaimana kegiatan itu dilakukan secara baik dengan efisiensi yang paling memungkinkan
dan paling sedikit biaya yang mungkin dikeluarkan baik dalam bentuk uang maupun energi.
Selanjutnya dalam perkembangan ilmu administrasi publik, Wilson dikenal sebagai
penggagas administrasi publik rasional5. Gagasan tersebut kemudian menyebabkan
administrasi publik dikenal sebagai kajian untuk menjadikan pemerintah lebih profesional
dengan berbasis manajemen.
Selain itu, Wilson juga menganjurkan empat konsep yaitu :
1. Pemisahan antara politik dengan administrasi
2. Analisis komparatif politik dan organisasi privat
3. Meningkatkan efisiensi dengan melakukan sikap praktis dalam kegiatan sehari-hari
4. Meningkatkan keefektivitasan pelayanan publik melalui manajemen, melakukan
pelatihan dan meryt system.
4 Indiahono, Dwiyanto, Perbandingan Administrasi Publik, 2009, hal 2.
5 Ibid, hal 3.
Wilson menuangkan dasar-dasar pemikiran administrasi publik modern dalam
tulisannya yang berjudul “The Study of Administration” yang diterbitkan tahun 18736.
Konsep yang terkenal dari Wilson adalah pemisahan antara politik dengan administrasi
publik. Wilson menegaskan bahwa ilmu administrasi berbeda dengan ilmu politik meskipun
ilmu adminitrasi merupakan hasil perkembangan dari ilmu politik. Menurut Wilson,
administrasi berfungsi untuk membantu eksekutif untuk menjalankan pekerjaan secara efektif
dan efisien sehingga harus dipisahkan dari politik. Pendapat tersebut berkaitan dengan
paradigma dikotomi politik dengan administrasi publik yang muncul pada tahun 1900-1926.
Paradigma tersebut menyatakan bahwa masalah-masalah organisasi dan penyusunan
anggaran dalam birokrasi pemerintahan, politik dan kebijakan merupakan substansi ilmu
politik. Para administrator dianggap tidak perlu ikut campur tangan dalam kegiatan dan
proses politik yang berlangsung di suatu negara. Secara spesifik tugas administrator adalah
sebagai pelaksana keputusan politik yang dibuat oleh para politisi. Kata publik dalam
administrasi publik memiliki pengertian dengan birokrasi pemerintahan atau segala sesuatu
yang berhubungan dengan pemerintahan dan negara. Dengan demikian administrasi publik
dapat dipandang sebagai cara menjalankan birokrasi pemerintahan agar dapat bekerja
sebagaimana mestinya.
Frank Goodnow (1859-1939)
Frank Johnson Goodnow merupakan seorang tokoh administrasi publik yang berasal
dari Brooklyn. Beliau telah menempuh pendidikan di Amherst College dan memperoleh gelar
sarjana hukumnya di Columbia Law School. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan ke
Ecole Libre des Science Politiques di Paris dan University of Berlin. Pada tahun 1891, beliau
menjadi Guru Besar Hukum Administrasi. Theodore Roosevelt juga mengangkat beliau
menjadi anggota komisi untuk merumuskan Piagam New York City pada tahun 1900. Tahun
1903 beliau menjadi presiden pertama American Political Science Association. Tahun 1912
beliau diangkat oleh Carnegie Endowment for Inernational Peace menjadi anggota komisi
penasihat konstitusional untuk pemerintah China. Kemudian selama tahun 1913 sampai 1914
beliau menjadi penasihat hukum pemerintah Yuan Shikai, China.
6 Suaedi, Falih dan Bintoro, Wardiyanto, Revitaslisasi Administrasi Negara, 2010,
hal 4.
Beberapa karya Goodnow yang berkonstibusi bagi perkembangan ilmu administrasi
publik yaitu risalah klasik “Politics and Administration” (1990) dan buku yang ditulis
bersama Woodrow Wilson “Study of Public Administration” (1887).7
Kontribusi akademik di bidang Administrasi Publik
Kontribusi Godnow bagi perkembangan ilmu administrasi publik salah satunya yaitu
pemikiran beliau yang mendukung pernyataan Woodrow Wilson mengenai adanya dikotomi
politik. Pemikiran Goodnow mengenai dikotomi ini berlokus pada birokrasi pemerintahan
yang memiliki kedua fungsi tersebut. Sedangkan fokusnya yaiu mewujudkan efisiensi dan
efektivitas dalam birokrasi pemerintahan.
Goodnow menyatakan bahwa pemerintah memiliki tiga otoritas yang berbeda, yaitu
otoritas yudisial, otoritas eksekutif, dan otoritas administratif. Ketiga otoritas tersebut
memiliki wewenang yang berbeda, dan salah satu otoritas yang paling berbeda dan jelas
fungsinya yaitu otoritas yudisial. Otoritas yudisial memiliki fungsi untuk menegakkan hukum
atas adanya pelanggaran terhadap hak-hak orang lain. “...authorities which apply the law in
concrete cases where controversies arise owing to the failure of private individuals or public
authorities to observe the rights of others.”8
Adanya perbedaan fungsi yang sangat jelas tersebut menyebabkan otoritas yudisial
memiliki kekuasaan terpisah dari fungsi pemerintah lainnya yaitu otoritas eksekutif dan
otoritas administratif. Selanjutnya, otoritas eksekutif memiliki fungsi pengawasan atas
pelaksanaan kehendak negara. Di Indonesia otoritas ini sama dengan legislatif. Sedangkan
otoritas administratif berfungsi sebagai pelaksana teknis kegiatan maupun program
pemerintah (eksekutif).
Goodnow juga mengemukakan mengenai dua fungsi dasar pemerintah yaitu fungsi
politik dan fungsi administrasi. Fungsi politik yaitu untuk melahirkan kebijakan atau ekspresi
dari state will, sedangkan fungsi administrasi bertujuan untuk melaksanakan kebijakan
negara. Berdasarkan perbedaan fungsi tersebut menjadi alasan mengapa perlu adanya
7 "Goodnow. Frank J." International Encyclopedia of the Social Sciences.
1968. Encyclopedia.com. (March 13, 2014).http://www.encyclopedia.com/doc/1G2-
3045000474.html
8 Shafritz, Jay M., & Hyde, Albert C. (1978). Classics Of Public Administration.
Florida: Harcourt Brace College,hal 27
dikotomi politik. Dikotomi politik dimaksudkan untuk memisahkan administasi dari adanya
politisasi karena administrasi memiliki tugas untuk menyediakan pelayanan publik secara
merata dan adil.9 Politik harus membuat kebijakan atau melahirkan keinginan-keinginan
negara, sementara administrasi diartikan sebagai hal yang harus berhubungan dengan
pelaksanaan kebijakan-kebijakan tersebut10.
Goodnow mengambil kasus di Amerika dimana badan legislature Amerika sering
melaksanakan fungsi administrasi menggunakan kekuasaannya. Sedangkan badan eksekutif
Amerika memiliki pengaruh penting dalam pelaksanaan fungsi politik melalui hak dan
kekuasaannya. Amerika menerapkan sistem administrasi yang sentralistik dan sistem partai
yang responsibel untuk mewujudkan pengawasan pemerintah yang responsibel dan
administrasi yang efisien. Hal tersebut disebabkan apabila sistem administrasi yang
diterapkan bersifat sentralistik maka akan dapat mewujudkan pemerintahan yang responsibel.
Akan tetapi sistem administrasi tersebut tidak dapat menjamin bahwa administrasi akan lebih
efisien, tergantung pula pada sistem partai yang diterapkan apakah responsibel serta kuat atau
lemah. Amerika pernah menerapkan administrasi yang bersifat desentralistik dan sistem
partai yang responsibel dan kuat, tetapi tidak dapat mewujudkan administrasi pemerintahan
yang responsibel dan efisien11.
Luther Gulick (1892-1993)
Luther Hasley Gulick, lahir di Osaka, Jepang pada tanggal 17 Januari 1892.
Merupakan putra dari Sidney Gulick dan Clara Mei. Dalam riwayat pendidikannya tercatat
lulus pada tahun 1914 di Oberlin College dan melanjutkan studinya di Columbia University
dengan mendapat gelar Ph.D pada tahun 1920. Karir kerjanya dimulai pada tahun 1921
sebagai presiden institute of Public Administration. Pada tahun 1931-1942 ditunjuk oleh
presiden Amerika Serikat waktu itu –Roosevelt- sebagai panel tiga anggota (The Brownlow
Committe) yang berfungsi sebagai pengorganisir cabang eksekutif pemerintahan federal.
Pada tahun 1954, Gulick menjabat sebagai administrator di Kota New York. Dalam karirnya
9 Wigfall Patricia, Behrooz Kalantari. 2001. Biographical Dictionary of Public
Administration.Westpost: Greenwood Press.
10 Thoha, Miftah. 2010. Ilmu Adminstrasi Publik Kontemporer. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, halaman 19.
11 Shafritz, Jay M., & Hyde, Albert C. (1978). Classics Of Public Administration.
Florida: Harcourt Brace College,hal 28
menjadi pengaruh dalam perkembangan administrasi saat itu, terutama ketika kumpulan
essay-nya bersama Lyndal Urwick dengan judul Paper on the Science of Administration
(1937) beredar. Pemikiran Gulick yang tertuang di dalamnya tidak terlepas dari seorang
industrial berkebangsaan Perancis-Henry Fayol. Gulick percaya bahwa administrasi akan
berjalan jika ada prinsip yang mengaturnya. Prinsip ini secara tidak langsung ditujukan
kepada bagaimana efisiensi dari eksekutif
Gulick merangkum apa yang fungsi eksekutif tersebut dalam akronim PODSCORB.
(1) Planning, merencanakan tujuan, apa yang dibutuhkan dan bagaimana metode yang
digunakan untuk mewujudakan tujuan tersebut. (2) Organizing, membangun struktur formal
organisasi dengan authority dan pembagian pekerjaan. (3) Directing, memberikan
perintahkepada anggotanya. (4) Staffing, mengadakan perekrutan dan juga pelatihan bagi
pegawainya untuk membuat suasana kerja yang menguntungkan. (5) Coordinating, sebagai
penghubung antar bagian kerja yang ada dalam organisasi. (6) Reporting, menyediakan
informasi sebagai bentuk responsible dan akuntabilitas organisasi. (7)
Budgeting,penganggaran sebagai bentuk pengawasan dari perencanaan fiskal yang telah
ditetapkan sebelumnya. Selain itu, Gulick juga merepresentasikan empat elemen yang harus
ada supaya organisasi dapat bekerja, the purpose served, the process used, the persons or
things dealt with and the place in which the work was done, (Chandler and Plano.1934. p.
20)12. Gulick menambahkan bahwa setiap eksekutif harus memfokuskan pada pembagian
kerja, karena pembagian kerja merupakan pondasi. Gulick membagi pekerjaan berdasarkan
asumsi yang pertama bahwa kapasitas dan keterampilan manusia satu sama lain berbeda,
sehingga membutuhkan spesialisasi. Kedua, manusia mempunyai waktu yang terbatas,
sehingga tidak mungkin untuk berada dalam dua tempat yang berbeda dalam satu waktu.
Ketiga, pengetahuan memiliki ruang yang luas, sehingga manusia tidak dapat memenuhi
dalam satu kehidupannya.Gulick memaparkan bahwa pembagian kerja tersebut terdapat
batasan volume jam kerja manusia. Hal ini berkaitan dengan pekerja mempunyai jam kerja
paruh waktu atau jam kerja penuh. Dalam pembagian kerja, tentunya di dalamnya terdapat
koordinasi kerja. Koordinasi kerja tersebut dapat dicapai dengan dua cara yaitu melalui
organisasi dan dominasi ide.Dengan organisasi membentuk suatu otoritas untuk
menerjemahkan tujuan organisasi ke dalam realitas. Melalui dominasi ide, dengan
membangun pemikiran tunggal terhadap tujuan untuk bekerja sama sebagai satu grup.
12 Chandler, Ralph C., & Plano, Jack C. (1934). The Public Administration
Dictionary. Canada: John Wiley & Sons
Rentang kendali dalam koordinasi kerja tergantung pada unsur diversifikasi fungsi, waktu
dan ruang. Terlihat bahwa, eksekutif hanya dapat menangani beberapa bawahan secara
langsung. Sehingga jumlah bawahan sendiri ditentukan oleh sifat pekerjaaan, sifat eksekutif,
ukuran dan fungsi organisasi. Eksekutif bertindak sebagai “one master”. (Shafritz & Hyde.
1978. p. 85)13 dimana terdapat kesatuan komando hanya dari satu atasan. Kesatuan komando
berfungsi agar tidak ada ambiguitas dalam perintah, serta mendatangkan perintah yang efisien
dan bertanggung jawab.Konsep efisiensi yang dimaksud berkaitan dengan prinsip
homogenitas, harus bersatu dengan pekerjaan, proses, dan tujuan yang sama. Sehingga,
teknisi yang diberikan harus orang yang professional agar tercapai efisiensi.
Herbert A Simon (1916-2001)
Herbert A Simon merupakan seorang teoris administrasi dari Amerika. Simon
merupakan seorang ilmuwan yang mengkritik keras konsep Gulick dan Urwick mengenai
prinsip-prinsip administrasi yang diadopsi dari prinsip-prinsip manajemen Fayol. Pada tahun
1947 Simon menerbitkan bukunya Administrative Behavior; A Study of Decision Making
Process In Administrative Organization. Menunjukkan bahwa disetiap prinsip administrasi
didalamnya terdapat prinsip tandingannya. Artinya dalam suatu prinsip akan ditemukan
prinsip lain yang berlawanan. Oleh karena itu seluruh ide tentang prinsip-prinsip tersebut
dapat dipecahkan.
Menurut Simon tidak terdapat metode yang jelas dalam penyusunan prinsip-prinsip
administrasi tersebut. prinsip yang ada juga tidak mampu menjelaskan tentang bagaimana
suatu kebijakan diambil. Selain itu Simon juga mengungkapkan bahwa merupakan suatu
kesalahan ketika administrasi dipisahkan dari politik karena administrasi tidak boleh bebas
nilai, administrasi prinsip-prinsip administrasi pun bukan merupakan prinsip yang universal.
Administrasi tumbuh dan berkembang dengan pengaruh nilai-nilai yang spesifik. Kritik
Simon ini seolah mengembalikan administrasi kepada induknya yaitu ilmu politik sehingga
menggeser paradigma sebelumnya ke paradigma baru.
Simon menawarkan suatu alternatif yaitu jika menginginkan ilmu ini bisa bekerja
dalam keharmonisan stimulasi intelektual yang timbal balik, maka hendaknya terdapat dua
13Shfritz, Jay M., & Hyde, Albert C. (1978). Classics Of Public Administration.
Florida: Harcourt Brace College
jenis administrasi negara yaitu pengembangan suatu ilmu administrasi murni yang
berdasarkan atas pengaruh psikologi sosial dan ilmu administrasi yang menjelaskan banyak
mengenai public policy. Kedua jenis administrasi ini bersama-sama merupakan dua
komponen penguat dari paradigma baru tersebut.
Herbert A.Simon dalam tulisannya The Proverbs of Administration terdapat prinsip
umum dalam literatur administrasi yaitu; 14
a. Efisiensi administrasi meningkat dengan spesialisasi tugas antara kelompok.
b. Efisiensi administrasi meningkat dengan mengatur anggota kelompok dalam hirarki
penentuan otoritas.
c. Efisiensi administrasi meningkat dengan membatasi rentang kendali pada setiap titik
dalam hirarki ke jumlah yang kecil.
d. Efisiensi administrasi meningkat dengan mengelompokkan para pekerja untuk tujuan
kontrol.
Sejak prinsip-prinsip ini muncul relatif sederhana dan jelas, akan terlihat aplikasinya
dalam permasalahan di organisasi administrasi dan validitasnya akan lebih mudah diserahkan
pada uji empiris.
Spesialisasi ; efisiensi administrasi seharusnya meningkat dengan peningkatan
spesialisasi. Spesialisasi hanya berarti orang yang berbeda melakukan hal yang berbeda,
karena itu tidak mungkin secara fisik untuk dua orang melakukan hal yang sama ditempat
yang sama pada saat yang sama, dua orang akan melakukan hal yang berbeda. Efisiensi
administrasi akan meningkat dengan spesialisasi tugas diantara kelompok yang akan
menyebabkan efisiensi menjadi lebih besar.
Kesatuan komando yaitu efisiensi administrasi dapat ditingkatkan dengan mengatur
anggota organisasi pada hierarki penentuan otoritas untuk melestarikan kesatuan komando.
Analisis pada prinsip ini membutuhkan pemahaman yang jelas mengenai istilah otoritas.
Bawahan dikatakan menerima otoritas setiap kali dia memungkinkan perilakunya dipandu
oleh keputusan yang ingin dicapai oleh orang lain. Salah satu kegunaan yang paling penting
apabila otoritas dimasukkan ke dalam organisasi adalah untuk membawa spesialisasi dalam
14Shafritz, Jay M., & Hyde, Albert C. (1978). Classics Of Public Administration.
Florida: Harcourt Brace College
pekerjaan membuat keputusan, sehingga suatu keputusan yang dibuat pada suatu titik dalam
tempat organisasi akan membuat seseorang ahli dibidangnya. Akibatnya penggunaan
wewenang memungkinkan tingkat keahlian yang lebih besar untuk pencapaian dalam
pengambilan keputusan daripada setiap karyawan memiliki dasar pada dirinya untuk
membuat semua keputusan pada aktifitas yang dilakukan. Rekomendasi dari Taylor bahwa
dalam hal pemrograman kerja seorang pekerja dikenakan satu mandor. Akhirnya, konsep
konflik kesatuan komando dengan prinsip spesialisasi yaitu setiap kali perselisihan yang
terjadi dan anggota organisasi kembali ke formal garis wewenang. Maka hanya jenis-jenis
spesialisasi yang diwakili dalam hirarki otoritas terkesan keputusan sendiri.
Spand of control efisiensi administrasi seharusnya ditingkatkan dengan membatasi
jumlah bawahan yang melapor langsung ke salah satu administrator dalam hal-hal kecil.
Pepatah selnjutnya, efisiensi administrasi ditingkatkan dengan menjaga minimal jumlah
tingkat organisasi, dimana suatu hal harus diluruskan sebelum ditindaklanjuti. Pepatah
terakhir merupakan salah satu kriteria dasar yang memandu analis administrasi dalam
penyederhanaan prosedur kerja.
Kesimpulan
Berdasarkan pemikiran kelima tokoh di atas, secara keseluruhan pemikiran tersebut
berusaha mewujudkan efisiensi administrasi baik itu di dalam pemerintahan maupun dalam
manajemen industri. Taylor berupaya mewujudkan efisiensi melalui adanya peningkatan
produktivitas dalam perusahaan industri. Prinsip yang ditawarkan beliau bertujuan untuk
membongkar cara kerja manajemen tradisional yang bekerja sesuai kebiasaan. Sedangkan
pemikiran Wilson yaitu berupaya meningkatkan efisiensi dengan melakukan sikap praktis
dalam kegiatan sehari-hari dan meningkatkan keefektivitasan pelayanan publik melalui
manajemen, melakukan pelatihan dan meryt system. Selain itu beliau juga mengemukakan
pemikiran mengenai perlu adanya dikotomi politik dengan administrasi. Goodnow juga
berpendapat sama dengan Wilson. Adanya dikotomi tersebut akan memisahkan administrasi
dari adanya campur tangan politik, sehingga kebijakan yang terlaksana maupun pelayanan
yang diberikan sesuai dengan kepentingan rakyat, bukan atas kepentingan golongan tertentu.
Goodnow juga menyatakan bahwa sistem administrasi yang sentralistik serta sistem partai
yang responsibel dapat mewujudkan pengawasan pemerintahan yang lebih bertanggung
jawab dan administrasi menjadi lebih efisien.
Selanjutnya pemikiran Gulick yaitu tentang fungsi manajemen POSDCoRB yang
diterapkan dalam pengelolaan organisasi. Fungsi-fungsi manajemen tersebut dapat
menjadikan organisasi lebih efisien dalam memanfaatkan sumber daya. Simon
mengemukakan beberapa pemikirannya antara lain bahwa beliau tidak menyetujui adanya
dikotomi politik dengan administrasi karena administrasi tidak boleh bebas nilai, prinsip-
prinsip administrasi pun bukan merupakan prinsip yang universal. Administrasi tumbuh dan
berkembang dengan pengaruh nilai-nilai yang spesifik. Simon berusaha mengembalikan
administrasi kepada induknya yaitu ilmu politik sehingga menggeser paradigma sebelumnya
ke paradigma baru. Selain itu dia juga mengemukakan perlunya adanya spesialisasi kerja,
spand of control, dan kesatuan komando untuk meningkatkan efisiensi administrasi.
DAFTAR PUSTAKA
Chandler, Ralph C., & Plano, Jack C. (1934). The Public Administration Dictionary. Canada:
John Wiley & Sons.\Frederick Winslow Taylor. [internet]. 2014. Website Miami
University. Diakses tanggal 22 Mei 2014 dari
http://www.units.miamioh.edu/technologyandhumanities/taylor.htm.
Goodnow, Frank J. International Encyclopedia of the Social Sciences.
1968. Encyclopedia.com. (March 13, 2014). Diakses melalui http://www.encyclopedia.
Com/doc/1G2-3045000474.html
Indiahono, Dwiyanto. Perbandingan Administrasi Publik. Yogyakarta: Gava Media. 2009.
Shafritz, Jay M., & Hyde, Albert C. (1978). Classics Of Public Administration. Florida:
Harcourt Brace College.
Suaedi, Falih dan Bintoro Wardiyanto. Revitalisasi Administrasi Negara. Yogyakarta: Graha
Ilmu. 2010.
Taylor dan Manajemen Ilmiah. Diakses dari http://www.ut.ac.id/html/suplemen/sosi4310/
top.10.htm
Taylor, Frederick W. 1997. Scientific Management dalam Classics of Public Administration.
Shafritz, Jay M dan Hyde, Albert C. United States of America: Harcourt Brace College
Publishers.
Thoha, Miftah. 2010. Ilmu Adminstrasi Publik Kontemporer. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
Wigfall Patricia, Behrooz Kalantari. 2001. Biographical Dictionary of Public
Administration.Westpost: Greenwood Press.
BIOGRAFI DAN KONTRIBUSI TOKOH ADMINISTRASI PUBLIK
THEODORE J. LOWI, ALICE M. RIVLIN, PHILIP ZELSNICK,
YEHEZKEL DROR, ALLEN SCHICK
DISUSUN OLEH
Kelompok 4
Desi Ismi Mulyana 13/347885/SP/25709
Dora Felicia Siallagan 11/317959/SP/24841
Dwi Atmaja B. R. 13/347884/SP/25708
Endah Budiarti 13/347883/SP/25707
Mahasin Kholil 11/319925/SP/24925
Meita Candra S. S. 13/347882/SP/25705
Ratna Anggareni 11/319894/SP/24920
Siska Dewi S. 11/317938/SP/24820
Siti Rochmawati P. 11.318154/SP/24902
Susilowati Myrra D. 13/347886/SP/25710
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014
Theodore J. Lowi
Theodore J. Lowi adalah seorang profesor yang lahir pada tanggal 9 Juli 1931 di
Gadsden, Alabama. Beliau dan Istrinya, Angele, memiliki 2 anak dan tinggal di Ithaca, New
York. Lowi memperoleh sebuah Bachelor of Arts dari Michigan State University pada tahun
1954 dan mendapat gelar Ph.D dari Yale University di New Haven pada tahun 1961
kemudian tahun 1959 sampai tahun 1965, beliau mengajar di Cornell Faculty dan mengajar di
Fakultas Ilmu Politik di University of Chicago pada tahun 1965-1972. Lowi adalah mantan
presiden dari American political science association, The Policy Studies Organization dan
International Political Science Association.
Berikut adalah karya karya Theodore J. Lowi :
At the Pleasure of the Mayor : Patronage and Power in New York City, 1898-
1958(New York,1964);
Legislative Politics, U.S.A.(ed.)Boston;1962,1965,1974;
The End of Liberalism: The Second Republic on the United States (W.W Norton
1969,1979)
The Politics of Disorder (New York, 1971,1974);
Poliscide : Scientists, The Giant Accelerator and The Metropolis (et alia) (New
York,1975,1990);
American Government : Incomplete Conquest (New York, 1976, 1977, 1981);
Nationalizing Government : Public Policies in America (et alia) (Beverli Hills, 1978);
American Government : Freedom & Power (with Benjamin Ginsburg)(New York ,
1990,1994)
Democrats Return to Power : Politics and Policy in the Clinton Era (with Benjamin
Ginsburg (New York, 1994)
The End of the Republican Era (1995)
"American Bussines, Public Policy, Case Studies and Political Theory" (1964), World
Politics 16(4): 677-715
Diantara karya karya tersebut diatas terdapat salah satu karya Lowi yang terkenal yaitu The
End of Liberalism : The Second Republic on the United States.
The End of Liberalism : Indicment
Korupsi dalam pemerintahan yang demokrasi berawal dari munculnya kepentingan kelompok
liberalisme sebagai filsafat publik. Dampak korupsi tersebut berdampak pada empat bentuk
tuduhan.
Empat tuduhan yang melawan Ideologi
1. Kepentingan kelompok liberal sebagai filsafat publik merusak pemerintahan yang
demokratis karena mereka mengacaukan ekspektasi tentang institusi demokrasi.
Liberalisme mengenalkan pembuatan keputusan yang populer tetapi menyusut dari
keputusan-keptusan yang dibuat dengan menyalahgunakan gagasan untuk
implementasi formulasi kebijakan. Pemimpin liberal tidak memegang kekuasaan atas
pemerintah demokrasi tetapi memegang ketetapan dari seseorang yang dapat
dipercaya dengan legitimasi dari posisi mereka, integritas institusi, atau kebenaran
dari rencana-rencana yang mereka jalankan.
2. Kepentingan kelompok liberal hanya menghambat rencana pemerintah. Pada abad ke-
19 liberalisme adalah standar tanpa rencana. Tetapi pada abad ke-20 liberalisme
berubah menjadi rencana tanpa standar. Keduanya adalah sebuah kejadian yang tidak
seharusnya terjadi pada masanya. Liberal berlebihan dalam berencana tetapi tidak ada
kejelasan dalam perencanaan tersebut. Semua alternatif yang ditawarkan sangat tidak
relevan, Barry Goldwater yang paling terkini membuktikan ketidakrelevansian
tersebut.
3. Kelompok kepentingan liberalisme tidak dapat mencapai keadilan karena kebijakan
mereka kurang sine qua non keadilan -- bahwa kualitas tanpa mempertimbangkan
keadilan bahkan tidak bisa dimulai.
4. Akhirnya, kepentingan kelompok liberal merusak pemerintahan yang demokratis di
tingkat yang melemahkan kemampuan pemerintah untuk hidup dengan formalisme
yang demokratis. Liberalisme melemahkan lembaga-lembaga demokratis dengan
menentang prosedur formal dengan perundingan informal.
Alice . M. Rivlin
Rivlin lahir di Philadelphia, Pennsylvania kemudian dibesarkan di Bloomington,
Indiana. Rivlin adalah senior di Program Studi Ekonomi di Brookings, profesor di Institut
Kebijakan Publik Georgetown University dan direktur Engelberg Pusat Perawatan Kesehatan
Reformasi. Selain itu juga merupakan pendiri dari Congressional Budget Office (CBO) tahun
1975 dan menjadi direktur hingga tahun 1983. Beliau mengemukakan beberapa teori seperti
diuraikan di bawah.
Berfikir Sistematis Untuk Aksi Sosial
Ada tiga strategi untuk menenukan metode yang lebih efektif dalam penyediaan
pendidikan, kesehatan, dan pelayanan lainnya. Pertama, analaisis eksperimen natural. Kedua,
inovasi acak. Ketiga, eksperimen sistematis. Kesimpulan utamanya adalah bahwa ketiga
strategi itu harus diupayakan dengan energi dan kecanggihan metodologi yang lebih besar.
Analisis eksperimen alami belum memunculkan banyak petunjuk cara yang lebih efektif
untuk menghasilkan pelayanan sosial. Tapi dengan waktu dan teknik yang lebih halus, ada
harapan bahwa hal itu akan terjadi. Sebagai langkah pertama yang diperlukan untuk layanan
yang lebih efektif, semua orang harus terdorong untuk mencoba cara-cara baru dalam
memberikan layanan. Ini memerlukan eksperimen sistematis dengan kurikulum baru, teknik
pelatian baru, dan cara-cara terbaru dalam memberikan perwatan medis. Dalam bab terakhir
menunjukkan bahwa Alice percaya eksperimen sistematis harus menjadi aktivitas federal
yang penting jika kita ingin mencapai terobosan dalam pelayanan sosial. Schultze
menunjukkan program federal sering gagal mencapai tujuan karena tidak ada pemikiran
untuk pemberian insentif. Kegagalan kinerja berasal dari dua penyebab. Pertama adalah
kegagalan negatif, yaitu kegagalan untuk memperhitungkan insentif swasta yang
bertentangan dengan memprogram tujuan dan untuk menyediakan modifikasi yang tepat
dalam penghargaan, yang ada adalah hukuman. Penyebab kedua adalah kegagalan positif,
yaitu kegagalan untuk program federal, satu set positif dari intensif untuk menyalurkan
kegiatan administrator desentralisasi dan operator program terhadap tujuan program. Sekolah
adalah contoh birokrasi besar yang melayani klien. Siswa dan orang tua mereka memiliki
sedikit kebebasan untuk berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain dalam mencari
pendidikan yang lebih baik. hampir tidak ada informasi yang digunakan untuk menilai
efektivitas guru, kepala sekolah, dan pengawas. Tidak ada penghargaan untuk kinerja mereka.
Di bidang kesehatan, sama halnya dengan pendidikan, mekanisme pembayaran gagal untuk
menghargai efektivitas dan efisiensi. Sebaliknya, sistem asumsi kesehatan ( baik publik
maupun privat) gagal mendorong pengembangan alternatif yang lebih murah.
Chapter ini membagi tiga model untuk meningkatkan keefektifan dengan pelayanan
sosial yaitu desentralisasi, kontrol masyarakat, dan “model pasar”.
DECENTRALIZATION
Desentralisasi dalam pembuatan keputusan, setidaknya sampai ke tingkat negara atau
kota, selalu populer dengan konservati, mereka yang umumnya menentang perluasan sektor
publik dan perubahan dalam metode pemberian layanan. Apalagi, ada beberapa fungsi
pemerintah yang hampir pasti akan mengalami desentralisasi. satu adalah penelitian dan
pengembangan. unit-unit kecil tidak mungkin untuk berinvestasi dalam kegiatan berisiko
seperti ketika sebagian besar kemungkinan manfaat untuk pergi ke unit lain. Selain itu, untuk
setiap harapan keberhasilan, beberapa masalah permintaan massa kritis bakat dan sumber
daya yang hanya pemerintah federal dapat memobilisasi.
COMMUNITY CONTROL
Tekanan community control berasal dari kekecewaan bawahan yang merasa diri
mereka tidak dapat berpartisipasi. Jika sebuah institusi dapat dikontrol dengan baik oleh
komunitas, maka institusi tersebut dapat berjalan dengan efektif. Community control dari
prograp sosial dapat diartikan sebagai pembangunan kepercayaan diri dari komunitas itu
sendiri. Saat ini pergerakan community control fokus pada proses mencapai kekuatan.
THE MARKET MODEL
Model pasar merupakan bentuk ekstrem dari desentralisasi. Pasar memproduksi
kebutuhan individu. Sektor privat dapat memainkan harga dalam persaingan barang yang
dijual karena tujuannya mencari keuntungan. Sasarannya pun berbeda-beda, ada yang
memilih menual dengan harga yang lebih murah atau jauh lebih mahal. Sektor bisnis memang
harus dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Sektor privat ini juga merambah di dunia
pendidikan. Pendidikan yang memiliki fasilitas baik seperti kelas yang eksklusif, fasilitas
lengkap, dan pengajar yang berkualitas, tentu biayanya akan mahal. namun dampaknya akan
terjadi kesenjangan yang besar antara si kaya dan si miskin.
Fungsi manajemen yang efektif dapat diukur dari prestasinya. Jika pelayanan sosial
ingin ditingkatkan maka yang perlu diperhatikan adalah ukura kualitas. Ukuran kualitaspun
beragam. Terdapat dua aturan dalam mengukur kualitas. Pertama, hindari menggunakan satu
ukuran. Semakin banyak kualitas yang diperhatikan, maka akan semakin baik pula kualitas
keseluruhan. Kedua adalah ukuran kualitas harus mencerminkan tinggat kerumitan masalah.
Strategi yang digunakan tergantung dari kesuksesan pencapaian ukuran kualitas.
Philip Zelsnick
Philip Selznick yang lahir pada 8 Januari 1919 adalah seorang profesor sosiologi dan
hukum di University of California. Penulis tentang teori organisasi dimana pemikiran
Selznick ini memberikan terobosan baru dalam beberapa bidang salah satunya adalah tentang
kepemimpinan dalam administrasi. Selznick merupakan pendukung utama gerakan teori
organisasi neo-klasik yang dimulai pada tahun 1930-an. Karya yang paling berpengaruh
adalah Dasar-Dasar Teori Organisasi. Buku tersebut berkontribusi besar dalam
penyelenggaraan organisasi dan individu sebagai agen independen.
Administrasi publik merupakan suatu bahasan ilmu sosial yang mempelajari tentang
tiga elemen atau komponen penting dalam kehidupan bernegara yang meliputi
legislatif,yudikatif dan eksekutif serta hal-hal yang berkaitan dengan publik yang meiputi
kebiajakn publik, tujuan negara dan etika yang mengatur penyelenggara negara. Lokus
administrasi publik dalam hal ini adalah kepentingan publik dan urusan-urusan publik.
Sedangkan yang menjadi fokus administrasi publik adalah teori organisasi. Jadi ada
hubungan antara organisasi dengan administrasi publik. Korelasi tersebut adalah organisasi
merupakan fokus dari administrasi publik itu sendiri. Hal ini diperjelas salah satunya melalui
sebuah buku berjudul The Cooperative Mechanism yang ditulis oleh Philip Zelsnick. Philip
menjelaskan tentang partisipasi-kooptasi, kepemimpinan-kooptasi dimana hal tersebut
berkaitan dengan penyelenggaraan organisasi.
Prinsip Selznick tentang kooptasi merupakan kuci penting dalam perkembangan
selanjutnya tentang ekologi organisasi dan teori kontingensi. Selznick menjadi kontributor
yang utama dalam sosilogi hukum, mengembangkan ide-ide besarnya pada lembaga-lembaga
hukum dan permasalahan atau konflik yang muncul sehingga akan memunculkan
responsivitas terhadap konstituen mereka. Gagasan Selznick ini utamanya mengantisipasi
penemuan atau gagasan-gagasan para tokoh yang sebelumnya menjelaskan tentang teori
masyarakat massa.
Contoh implemntasi gagasan dari Selznick ini adalah penyelenggaraan Standar
Operasional Prosedur (SOP). SOP merupakan dokumen yang berisi tentang serangkaian
intruksi atau perintah secara tertulis yang diabsahkan mengenai berbagai proses
penyelenggaraan administrasi dalam sauatu organisasi atau perusahaan. Isi dari SOP adaah
tentang tata cara melakukan pekerjaan dan apapun yang berkaitan dengan kegiatan organisasi
baik waktu pelaksanaan, jam kerja, regulasi dan kebijakan sehingga akan menjamin para
pelaku organisasi melakukan langkah-langkah kerja yang paling tepat dan sesuai dengan
aturan yang dibuat. Dengan penerapan SOP maka secara konsisten administrasi perkantoran
atau organisasi memiliki pedoman yang penting dalam penyelenggaran kebijakan reformasi
birokrasi yang merupakan kebijakan yang komprehensif dalam peningkatan pelayanan dan
kinerja organisasi instansi pemerintah di Indonesia. Oleh karena itu hingga saat ini SOPselalu
dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan tugas bagi pegawai sesuai dengan peraturan
yang diberlakukan dan kinerja yang juga ditentukan sehingga akan mengarah pada langkah
perbaikan kinerja pelayanan dan kinerja organisasi berdasarkan konsep manajemen kinerja.
Selznick juga menerbitkan buku berjudul “TVA and Grass Roots” yang merupakan
sebuah studi sosiologis terkenal dari Tennesse Valley Authority. Dalam karya ini, Selznick
menemukan bahwa organisasi formal "adalah struktur sosial yang adaptif" menghadapi
masalah independen penciptaannya. Dia mencatat bahwa organisasi tersebut dibentuk oleh
kekuatan yang terpisah dari struktur dan tujuan yang telah ditetapkan mereka, dan bahwa
individu-individu dalam fungsi organisasi sebagai "keseluruhan" tindakan dan aliansi terpisah
dari organisasi.
Yehezkel Dror
Yehezkel Dror adalah seorang Professor Ilmu Politik dan Administrasi Publik,
Emeritus, di Hebrew University of Jerusalem. Ia menjabat posisi senior dalam pemerintahan
Israel, termasuk 2 tahun sebagai Senior Policy Planning Advisor di Kantor Kementerian
Pertahanan, Penasihat Perdana Menteri Israel dan Kantor Kabinet Israel, ketua dan anggota
komisi publik yang berurusan dengan berbagai isu kebijakan dan banyak lagi. Ia telah aktif
sebagai konsultan internasional tentang perencanaan kebijakan, kapasitas untuk memerintah
dan tata negara di lebih dari tiga puluh negara, atas nama badan-badan PBB, OECD, Uni
Eropa dan pada undangan dari pemerintah. Ia telah menerima berbagai penghargaan atas
kontribusinya dalam ilmu sosial dan ilmu politik: pada tahun 1999 ia menerima penghargaan
Israeli Anniversary Arthur Ruppin Prize atas kontribusi untuk kebijakan publik; pada tahun
2002 Landau Prize atas kontribusi luar biasa untuk ilmu-ilmu sosial; dan pada tahun 2005
Israel Prize untuk kontribusi kepada teori dan praktek perencanaan strategis dan pengambilan
kebijakan15.
Kontribusi Dror di bidang administrasi publik adalah pemikirannya mengenai analisis
kebijakan (policy analysis) dan peran analis kebijakan dalam pemerintahan. Dror berpendapat
bahwa pembuatan kebijakan publik atas dasar perhitungan ekonomi sulit untuk dihindari,
Dror menanggapi gerakan reformasi kontemporer di berbagai negara yang menggunakan
instrumen analisis sistem dan memanfaatkan peran analis sistem. Reformasi tersebut
merupakan invasi ekonomi dalam ranah pengambilan keputusan publik. Invasi ini lebih
bersifat negatif, karena analisis sistem (system analysis) memandang setiap alternatif
kebijakan sebagai alokasi sumber daya, yang dipertimbangkan efisiensinya 16. Penerapannya
dapat dilihat pada PPBS (planning-programing-budgeting system), yang pendekatan dasarnya
adalah untuk mengidentifikasi berbagai alternatif kebijakan dengan tujuan yang sama dan
15 Yehezkel Dror, diakses dari http://www.amazon.com/Yehezkel-
Dror/e/B001HPE3GE pada 23 Mei 2014.
16 Shafritz, Jay M. dan Albert C. Hyde. 1997. Classics of Public Administration.
United States of America: Harcourt Brace College Publisher, halaman 254
kemudian membandingkan alternatif-alternatif tersebut dengan menekankan pada bagian
budget17. Namun, dalam sektor publik terdapat banyak faktor yang mempengaruhi
pengambilan kebijakan, yang tidak mampu diselesaikan hanya dengan pertimbangan
ekonomis. Lebih jauh, Dror juga menyebutkan beberapa kelemahan analisis sistem dari sudut
pandang pengambilan keputusan publik, antara lain ketergantungannya pada perhitungan
secara kuantitatif, pengabaiannya pada faktor politik, dan ketidakmampuan untuk
menghadapi sistem yang besar dan kompleks. Yang menjadi dasar pemikiran Dror adalah
bagaimana cara mengambil keuntungan pendekatan ekonomis dalam pengambilan keputusan
dan kebijakan publik (seperti efisiensi), namun juga mampu memasukkan faktor sosial dan
faktor politik. Maka Dror mengemukakan solusi berupa peningkatan instrumen yang mulanya
menggunakan analisis sistem menjadi analisis kebijakan18.
Dror menguraikan perbedaan antara analisis sistem dengan analisis kebijakan, yaitu:
pertama, lebih menekankan pada aspek politik dari pengambilan keputusan dan kebijakan
publik; menggunakan konsep pengambilan keputusan dan kebijakan secara lebih luas,
daripada memandangnya hanya sebagai alokasi sumber daya; lebih menekankan pada
kreativitas untuk berinovasi dalam membuat alternatif kebijakan baru, daripada hanya
melakukan komparasi alternatif yang sudah ada; mengandalkan tacit knowledge dan
penggunaan metode kualitatif, daripada hanya mengandalkan explicit knowledge dan
penggunaan metode kuantitatif; lebih menekankan pola pikir futuristik dan spekulatif dengan
memprediksi konsekuensi jangka panjang; menggunakan pendekatan yang lebih longgar dan
tidak kaku namun tetap sistematis, dengan demikian mampu mengatasi permasalahan yang
lebih kompleks. Dengan kelebihan tersebut, Dror merekomendasikan penggunaan analisis
kebijakan (dengan mempekerjakan analis kebijakan sebagai staf pemerintahan) untuk
memperbaiki pengambilan keputusan dan kebijakan publik dengan adanya pertimbangan
yang lebih baik dan ketersediaan alternatif yang lebih luas19.
Pemikiran Dror mengenai penggunaan analisis kebijakan menjanjikan suatu
peningkatan positif dalam ranah pengambilan keputusan dan kebijakan publik. Namun,
17 Weimer, David L., dan Aidan R. Vining. 1999. Policy Analysis: Concepts and
Practice. New Jersey: Prentice Hall, halaman 33
18 Shafritz, Jay M. dan Albert C. Hyde. 1997. Classics of Public Administration.
United States of America: Harcourt Brace College Publisher, halaman 254
19 Ibid, halaman 256-257
mempekerjakan profesi analis kebijakan sebagai staf pemerintahan perlu untuk
dipertimbangkan lagi. Birokrasi, terutama di Indonesia, memiliki masalah dengan ukurannya
yang terlalu gemuk. Mempekerjakan analis kebijakan di seluruh eselon tinggi pemerintahan
tentu akan menambah gemuk birokrasi. Hal tersebut sangat bertentangan dengan program
perampingan birokrasi, seperti yang dilaksanakan oleh Kemenpan yang melakukan
perampingan kementerian/lembaga di Indonesia20.
Allen Schick
Reformasi-reformasi dalam manajemen memberikan warna perkembangan studi
manajemen, terutama manajemen dalam pemerintahan. Allen Schick sebagai seorang
spesialis dalam keuangan publik Amerika telah memberikan sumbangan pemikiran mengenai
reformasi budget dengan analisisnya mengenai federal budgeting. Allen Schick adalah
seorang profesor di University of Maryland yang lahir pada tahun 1934 (Chandler & Plano
1982). Schick memperoleh gelar B.A. di Brooklyn College pada tahun 1956, gelar M.A di
Yale University pada tahun 1959, dan gelar Ph.D. di Yale University pada tahun 1966 (The
Brookings Institution 2014). Schick merupakan profesor yang sangat terkenal dengan
berbagai artikel, buku, hingga pernghargaan-penghargaan yang didapatkannya seperti the
Guggenheim Fellowship dan the American Society for Public Administration Waldo Prize
(University of Maryland School of Public Policy) Saat ini Schick menjadi ahli dalam federal
budgeting, kongres, dan administrasi publik yang memberikan konsultasi bagi banyak
organisasi di level federal, negara, dan lokal, serta menunjukkan studi praktik budget yang
multinasional dalam berbagai negara industri dan saat ini menunjukkan studi reformasi dalam
sektor publik yang luas di enam negara, yaitu Asutralia, Britania, Prancis, Selandia Baru,
Swedia, dan Amerika Serikat (University of Maryland School of Public Policy).
“The Road to PPB: The Stages of Budget Reform” dan “The Federal Budget: Politics,
Policy, Process” merupakan sebagian karya fenomenalnya dalam kancah administrasi publik.
Artikelnya yaitu “The Road to PPB: The Stages of Budget Reform” menjadi rujukan bagi
sebagian besar ahli dalam menjelaskan reformasi budget. Pertama-tama, Schick membagi
fungsi-fungsi dalam budgetary system menjadi tiga, yaitu perencanaan strategis yang
melibatkan pencapaian tujuan dan objektif serta penilaian kinerja; kontrol manajemen yang
20 Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,
Perampingan Birokrasi, diakses dari http://www.menpan.go.id/berita-
terkini/1150-perampingan-birokrasi-10-k-l-segera-diaudit pada 25 Mei 2014
fokus pada persyaratan organisasi yang paling efektif dan efisien untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan; dan kontrol operasional yang fokus dengan akuntabilitas, policy enforcement, dan
pembatasan pengeluaran (Chandler & Plano 1982). Ketiga fungsi tersebut merupakan proses-
proses yang kompetitif hingga Schick menyebutnya planning-management-control balance,
baik disengaja maupun tidak (Chandler & Plano 1982). Jadi, ketiga fungsi tersebut akan
mencoba saling mendominasi dalam suatu waktu secara tentatif. Menurut Schick ada tiga
tahapan dalam sejarah reformasi budget, yaitu pada tahun 1920 hingga 1935 ketika kontrol
menjadi orientasi yang paling dominan dan dikarakteristikkan oleh sistem akun ekspenditur,
ketika New Deal hingga tahun 1950 yang dikarakteristikkan oleh performance budgeting
dengan fokus pada teknik manajemen ilmiah, unit kerja, dan efisiensi, dan pada tahun 1960
yang memiliki pengembangan perencanaan dan dimulai dengan pengenalan teknik Planning,
Programming, Budgeting (PPB) (Chandler & Plano 1982). Evolusi dari manajemen menjadi
berorientasi perencanaan dipengaruhi oleh pengembangan analisis ekonomi mikro dan
makro, informasi baru dan teknologi yang dipilih, analisis sistem, dan konvergensi
perencanaan dan budgetary process (Chandler & Plano 1982). Schick juga mempercayai
bahwa zero-base budgeting (ZBB) meletakkan sistem kembali kepada periode berorientasi
kontrol sekaligus menerapkan kembali performance budgeting dengan pengembangan
manajemen dengan mengurangi kontrol kongres dan executive budget office dan mengatakan
keinginannya untuk menerima ZBB sudah menjadi tematik melalui sejarah budgetary
process (Chandler & Plano 1982).
Konsep yang ditawarkan oleh Schick sedikit banyak memberikan kontribusi bagi
negara berkembang seperti Indonesia. Dengan melihat teknik PBB Indonesia seharusnya
sudah tidak lagi berorientasi perencanaan. Hal ini dikarenakan saat ini Indonesia memiliki
masterplan atau blue print yang cukup lengkap tapi dalam imlpementasinya terjadi
penyimpangan atau sebelum masterplan direalisasikan sudah terjadi pergantian kekuasaan
yang memiliki perencanaan tersendiri yang tidak didasarkan perencanaan sebelumnya. Oleh
karena itu, pertimbangan terhadap masterplan sebelumnya perlu dilakukan untuk melihat
apakah masterplan sudah direalisasikan atau belum dan apakah masih berkelanjutan dan
relevan apabila diterapkan pada saat itu.
DAFTAR PUSTAKA
Chandler, R. C, Jack C. Plano, The Public Administration Dictionary, California: ABC-Clio
Inc.
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Perampingan
Birokrasi, diakses dari http://www.menpan.go.id/berita-terkini/1150-perampingan-
birokrasi-10-k-l-segera-diaudit pada 25 Mei 2014.
Shafritz, Jay M. dan Albert C. Hyde. 1997. Classics of Public Administration. United States
of America: Harcourt Brace College Publisher.
The Brookings Institution, 2014, Alice M. Rivlin, diakses dari
http://www.brookings.edu/experts/rivlina?view=bio pada 25 Mei 2014
The Brookings Institution, 2014, Curriculum Vitae of Allen Schick, diakses dari
http://www.brookings.edu/experts/schicka pada 27 Mei 2014
University of Maryland School of Public Policy, Allen Schick, diakses dari
https://www.publicpolicy.umd.edu/faculty/allen-schick tanggal 27 Mei 2014
Weimer, David L., dan Aidan R. Vining. 1999. Policy Analysis: Concepts and Practice. New
Jersey: Prentice Hall.
Yehezkel Dror, diakses dari http://www.amazon.com/Yehezkel-Dror/e/B001HPE3GE pada 23
Mei 2014.
BIOGRAFI DAN KONTRIBUSI TOKOH ADMINISTRASI PUBLIK
PENDLETON HERRING, DOUGLAS MURRAY MCGREGOR,
CHARLES H. LEVINE, NAOMI CADEN, DAN DAVID ROSENBLOOM
DISUSUN OLEH
Kelompok 5
Riza Venti N 13/347961/SP/25739
Zahra Nisa 13/347892/SP/25711
Sonya Dewi S 13/347982/SP/25741
Dalias 13/347908/SP/25720
Deden Juanda 13/347959/SP/25737
Mening Nindya A 13/347918/SP/25724
Maria Rosa Tita Amelia 13/348005/SP/25747
Faizal Iqbal Tamsil 13/347989/SP/25742
Nikita Windha 13/347903/SP/25717
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
E. Pendleton Herring
Administrasi Publik dan Kepentingan Publik
Kontribusi Pendleton Herring yang paling berdampak adalah “The Politics of
Democracy: American Parties in Action”. Dia menganalisis sejarah perpolitikan di Amerika
dan mengemukakan bahwa desentralisasi lebih pantas jika diterapkan dalam system
pemerintahan Amerika daripada pendisiplinan partai politik.
Herring juga merupakan member aktif dari American Political Science
Association. Beliau yang mengatakan betapa pentingnya belajar pemerintahan
politik secara sistematik.
Dan inilah salah satu bentuk karya Herring, yaitu pendapatnya mengenai Administrasi
Publik dan Kepentingan Publik. Di pundak birokrasi telah di tempati oleh sebagian besar
beban untuk mendamaikan perbedaan antar kelompok dan melakukan kompromi ekonomi
dan sosial yang efektif dan dapat diterapkan dalam proses legislatif. Aspek sosial dan
ekonomi dari proses ini harus diserahkan kepada orang lain. hasil politik telah pelestarian
sejauh ini negara demokrasi liberal sebagai lembaga kontrol dan transfer dari kongres dari
banyak pengawasan langsung mendamaikan kelompok-kelompok yang saling bertentangan
dalam negara. hasil pemerintah telah menciptakan birokrasi yang besar dengan kekuasaan
yang luas untuk melakukan fungsi-fungsi ini.
Di United State birokrasi mengalami kesulitan karena kurangnya organisasi-
organisasi hirarki dan personel disatukan oleh konsep harmonis pelayanan negara. Tapi
birokrasi dalam hal ini menimbulkan kecurigaan dan kritik dari kelompok-kelompok
kepentingan, yang menganggap pemerintahan seperti yang dirancang untuk melayani mereka
atau setidaknya tidak mengganggu tujuan kelompok mereka.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan dari negara demokrasi adalah rekonsiliasi bebas dari
kepentingan kelompok dan bahwa pencapaian tujuan ini memerlukan pengembangan
administrasi yang besar.
Terdapat kelompok warga yang berusaha untuk memajukan kepentingan mereka
sendiri atau untuk melindungi diri dari serangan saingan, telah beralih ke pemerintah untuk
bantuan. namun warga tidak percaya negara pada saat yang sama bahwa ia menarik bagi
untuk bantuan. ia ingin menggunakan fasilitas pemerintah; tapi dia tidak berharap pemerintah
untuk mengarahkan atau mengendalikan aktivitasnya. sebagai akibatnya pelayanan
administrasi federal yang belum menyatu menjadi sebuah kesatuan yang utuh dan
bertanggung jawab.
Legislatif, sering kali karena kombinasi kebetulan dari faktor-faktor politik, memberlakukan
hukum. sebuah lembaga administratif menjadi bertanggung jawab untuk pelaksanaannya, dan
kehendak legislatif demikian dalam arti dilembagakan dan dipersonifikasikan. kecuali untuk
kasus yang relatif jarang terjadi di mana undang-undang yang diberikan tidak berbahaya oleh
nonenforcement, kehendak legislatif "beku" sampai hukum berubah.
Pemerintah saat ini sebagian besar adalah masalah ahli administrasi. meningkatkan
otoritas dan kebijaksanaan yang diberikan eksekutif. negara telah melakukan sejumlah besar
layanan yang tersisa di masa lalu untuk perusahaan swasta atau nyaris berusaha sama sekali.
kegiatan ini telah memberikan kepentingan khusus saham di pemerintah.
Public interest adalah standar yang memandu administrator dalam melaksanakan hukum. ini
adalah simbol verbal yang dirancang untuk memperkenalkan persatuan, ketertiban, dan
objektivitas dalam administrasi.
Douglas Muray McGregor
The Human Side Of Enterprise
Pada 1950 Mc Gregor memulai formula idea yang dipublikasikan dengan judul : The Human
Side of Enterprise di tahun 1960 dimana beliau percaya bahwa dibalik keputusan seorang
pimpinan dipengaruhi oleh human nature dan human behavior .yang di setiap pimpinan
memiliki kekhasan gaya manajerialnya, dan prinsip tersebut dikategorikan menjadi dua ;
Theory ( didasari asumsi direction dan controll) dan theory X (dengan asumsi integration dan
support) dan berikut detail kedua teori tersebut:
Teori Y merupakan penyempurnaan dari adanya teori X yang berdasarkan atas asumsi
direction dan control yang berarti karyawan atau pekerja yang bekerja pada suatu organisasi
tidak dapat mengembangkan idenya secara luas, pada teori Y menyajikan teori yang lebih
realistis tentang pekerja dalam mengatur suatu manajemen. Inti dari teori Y itu sendri yakni
bahwa organisasi dapat memanfaatkan ide ide inovasi serta kualitas yang dimiliki oleh para
pekerja, para pekerja dengan ide dan kualitas yang mereka miliki dapat memberikan
kontribusi terhadap kendali dari suatu organisasi serta berkontribusi dalam mencapai tujuan
organisasi.
Teori X dan Y
‘Theory X’ ‘Theory Y
management
staff
Theory X - authoritarian, repressive style. Tight control, no development. Produces limited, depressed culture.
staff
Theory Y - liberating and developmental. Control, achievement and continuous impro
staff
staff managem
Asumsi Teori X
1. Ketidaksukaan manusia terhadap pekerjaan dan menghindari pekerjaan bila
memungkinkan
2. Dikrenakan karakter manusia yang tidak suka terhadap pekerjaan, manusia harus
dipaksa, dikontrol, diarahkan, diancam dengan hukuman agar mereka dapat meakukan
usaha yang cukup dalam mencapai tujuan organisasi
3. Kebanyakan manusia lebih suka untuk diberi arahan, dapat menghindari tanggung
jawab, memiliki sedikit ambisi, serta menginginkan keamanan atas segala hal.
Pendekatan teori X menjelaskan tentang onsekuensi atas adanya a specific
management strategy serta hubungannya dengan scientific management approach. Teori
X mengasumsikan tidak adanya kemampuan pengembangan yang ada di dalam diri
pekerja, dengan semakin berkembangnya peradaban asumsi ini terus mempengaruhi
strategi manajemen, dengan tidak adanya perubahan atas teori ini maka apabila terus
diterapkan akan menurunkan potensi manusia pada masa depan.
Asumsi Teori Y ;
1. Usaha yang dikeluarkan secara fisik serta mental dalam pekerjaan dilakukan secara
natural seperti halnya bermain ataupun beristirahat
2. Kontrol eksternal dan ancaman hukuman bukanlah satu-satunya cara untuk
mendorong upaya pencapaian tujuan organisasi. Seseorang akan melakukan upaya
pengarahan dan kontrol mandiri untuk melakukan usaha pencapaian tujuan yang
menjadi komitmennya.
3. Kebanyakan manusia belajar, pada kondisi yang tepat, tidak hanya untuk menerima
(perintah) namun juga agar memiliki rasa tanggung jawab.
4. Kapasitas untuk berimajinasi, keuletan, serta kreatifitas yang tinggi dalam
memberikan solusi terhadap masalah suatu organisasi secara luas serta tersebar pada
semua kalangan.
5. Dalam kondisi kehidupan modern, potensi intelektual yang dimiliki oleh manusia
hanya dimanfaatkan sebagian saja.
Biografi Charles H. Levine
Organizational Decline and Cutback Managemen
Charles H. Levine berasal dari Hartford, Amerika Serikat. Ia lulus dari
University of Connecticut, ia menerima gelar master pada administrasi
bisnis serta gelar doktor dalam ilmu politik dan administrasi umum di
Indiana University. Levine memulai karir mengajar di Michigan State
University pada akhir tahun 1960,dan dilanjutkan dengan mengajar di
Universitas Syracuse dan Cornell sebelum bergabung sebagai staf di
University of Maryland pada tahun 1977 dan mengajar di University of
Kansas selama dua tahun. Selama mengajar di University of Kansas, ia
menerima penghargaan Stene Edward O sebagai profesor terhormat.
Tahun 1983, ia kembali ke daerah Washington dan bergabung dengan staf
Brookings Institution. Levine menjadi senior di Congressional Research
Service at the Library of Congress pada tahun 1984. Pada tahun 1987, ia
mengajar di American University dan menjabat sebagai profesor
terhormat ilmu pemerintahan dan administrasi publik. Buku-buku Charles
H. Levine diantaranya adalah Managing Fiscal Stress: The Crisis in the
Public Service yang terbit pada tahun 1980 dan The Politics of
Retrenchment yang terbit pada tahun 1981. Selain mengajar, ia juga
seorang pendiri editor jurnal administrasi dan masyarakat serta pernah
menjabat sebagai Dewan Nasional di ASPA dan menerima the Society's
William E. Mosher Award for Scholarship. Charles H. Levine meninggal
dunia pada tahun 1988.
Kontribusi Charles H. Levine
Charles H. Levine berkontribusi besar dalam Organizational decline
dan Cutback Managemen. Organizational decline memaksa kita untuk
mengatur beberapa logika guna membentuk struktur organisasi yang
rasional. Misalnya, masalah yang dihadapi seorang manajer dan
perancang organisasi di bawah pertumbuhan dan kelimpahan sumber
daya adalah bagaimana membuat suatu mekanisme eksklusif untuk
mencegah adanya free riders (seseorang mendapatkan keuntungan tanpa
ikut berkontribusi dalam mendapatkan keuntungan tersebut). Sedangkan
contoh masalah yang dihadapi manajer serta perancang organisasi
setelah organizational decline dan adanya penghematan sumber daya
adalah bagaimana membuat suatu mekanisme inklusif untuk mencegah
anggota organisasi menghindari pembagian akibat dari peningkatan
beban yaitu hasil penipisan sumber daya. Ketika terjadi organizational
decline yang berhubungan dengan diskresi karyawan, suatu organisasi
perlu membuat sejenis kontrak kerja jangka panjang yang tidak
mengakibatkan pensiun cepat atau praktis. Mekanisme di atas diperlukan
untuk menghukum dan membatasi karyawan yang “free exiters” dan
“cheap exiters” sementara mereka tetap mengizinkan manajer untuk
melakukan pensiunan karyawan dan pemberhentian pegawai yang tidak
banyak berkontribusi.
Penyebab public organizational decline dapat dikategorikan menjadi
empat tipe dengan dua dimesi (dapat dilihat pada gambar 1.1) yaitu
penyebab intern dan ekstern serta penyebab dari sisi politik dan ekonomi
atau teknis.
Gambar 1.1
Penyebab dari Public Organizational Decline
Intern Extern
Politik Political Problem Depletion
Vulnerability
Ekonomi
Organizational Environmental Entropy
Atrophy
Problem depletion merupakan penyebab paling lazim terjadi yaitu meliputi
keterlibatan pemerintah dalam bencana alam, perang, penelitian-
penelitian, masalah pergeseran penduduk, redefinisi masalah, dan
pemberhentian kebijakan. Environment entropy terjadi ketika kapasitas
lingkungan untuk mendukung organisasi publik pada tingkat aktivitas
mengikis. Political vulnerability dari organisasi publik merupakan indikasi
internal tinggi yang membatasi kemampuan guna mendapat anggaran
dan membatasi interaksi dengan lingkungan. Organizational atrophy
adalah fenomena umum di semua organisasi khususnya organisasi
pemerintah yang rentan akan kekurangan pasar dalam menghasilkan
pendapatan.
Tactics to resist decline atau tactics to smooth decline dibutuhkan untuk
menghapus atau mengurangi politik eksternal dan sebab-sebab ekonomi yang menyebabkan
kemunduran, menghidupkan kembali basis ekonomi yang telah terkikis, mengurangi
ketidakpastian lingkungan, meningkatkan fleksibilitas, dan mengurangi ketergantungan.
Taktik untuk mengkontrol sebab internal dari kemunduran adalah meningkatkan kekuatan
organisasi dan kontrol manajerial.
Manajemen cutback mempunyai dua masalah mendasar, yaitu antara memilih
taktik untuk resisting atau smoothing decline, jika dibutuhkan manjamemen juga harus
memilih siapa yang harus ‘pergi’ atau program apa yang harus dibatasi, atau bahkan diakhiri.
Pemilihan dimana harus melakukan pemotongan adalah merupakan salah satu penilaian
inteligensi dan keberanian manajerial dalam mengambil keputusan, sebab setiap keputusan
mempengaruhi penjualan dan opportunity costs.
Lima kriteria yang umum digunakan untuk melakukan cutback:
a. Seniority; adalah hal umum yang paling berpengaruh dan paling
‘jahat’ diantara lima kriteria pengambilan keputusan
b. A hiring freeze; adalah strategi jangka pendek yang paling tepat
untuk buy time dan preserve option, karena A hiring freeze akan
mengurangi tenaga kerja secara alamiah melalui pengunduran diri,
pensiun, dan kematian pekerjanya, sehingga dalam jangka panjang
akan menjadi sarana yang efisien untuk mengurangi ukuran
organisasi
c. Even-percentage-cuts-across-the-board; adalah kriteria yang
bijaksana karena mereka mentransfer biaya pengambilan keputusan yang lebih
rendah dalam organisasi, tapi cenderung tidak sensitif pada kebutuhan, fungsi
produksi, dan kontribusi dari berbagai unit yang berbeda
d. Productivity criteria; adalah kriteria yang sangat tepat diterapkan terutama ketika
diaplikasikan dalam pelaksanaan cuttinglow-producing units dan diterapkan pada
orang-orang yang berbasis pada marginal product per increment of revenue
e. Zero-base-budgeting; adalah salah satu nilai sebagai metode untuk membuat
keputusan yang berkaitan dengan alokasi sumberdaya dibawah kondisi decline.
Naomi Caiden
Naomi Caiden adalah penulis, sarjana dan profesor. Beliau memenangkan berbagai
penghargaan sepertipenghargaan Mosher, National Distinguished Service Award. Dia tertarik
pada penganggaran Public ketika suaminya belajar di UC Berkeley. Profesor Aaron
Wildawsky membutuhkan asisten peneliti untuk membantu dalam menulis sebuah bab di
bukunya "The Politics of Budgetary Process on Budgeting and Planning in Developing
Countries" yang berubah menjadi perencanaan dan penganggaran di negara-negara miskin
dan Naomi Caiden terlibat di dalamnya. Dia bekerja satu tahun di lembaga pengembangan
ekonomi dari bank dunia di Washington DC. Kemudian merevisi Keuangan dan
Penganggaran Publik selama beberapa tahun dan membedah buku dari Editor untuk meninjau
kembali administrasi public selama tiga tahun ketika Richard Stillman adalah editor pada saat
itu.
Naomi Caiden memenangkan Aaron Wildavsky award dari kontribusi besarnya
mengenai “Budgeting and Financial Management “ pada tahun 1993 dan William Mosher
Award dari artikel yang sangat berpengaruh dari akademisi yang muncul di “Public
Administration Review”pada tahun 1980. Dia juga menerima Nasional Distinguished Service
Award sebagai pengakuan atas kontribusi akademis yang luar biasa dan kepemimpinan oleh
Asosiasi Amerika untuk Anggaran dan Analisis Program pada tahun 1981 dan 1991. CSU San
Bernardino memberikan dia award di Meritorious Performance dan Profesional Promise
Award pada tiga kesempatan, pada tahun 1984, 1986 dan 1987. Dia juga menerima Dekan
Research Award oleh CSU San Bernardino pada tahun 1986, 1987, dan 1990. Pada Bulan
Juni, 1993, CSU San Bernardino memberinya Outstanding Service Award untuk jasa kinerja
dalam 12 tahun di Departemen Administrasi Publik, Sekolah Bisnis dan Administrasi Publik
dan CSU San Bernardino dari 1981 hingga 1993.
Kontribusi yang berpengaruh dari beliau mengenai “Public Budgeting Amidst
Uncertainty and Instability”. Pokok-pokok bahasanya yaitu mengenai Hasil dari semua
kepentingan dalam penganggaran, kini ada jajaran reformasi anggaran yang meliputi:
1. Mobilisasi sumberdaya untuk kepentingan publik dan pekerjaan
2. Konsolidasi dan control sumber daya yang tersedia untuk mencegah rembesan dan
memantau lokasi mereka setiap saat.
3. Alokasi sumber daya di antara tuntutan pesaing
4. Pembayaran cepat ekonomi dana publik.
5. Peningkatan skill dari pengelolaan keuangan.
6. Pelembagaan praktek akuntansi yang terbuka, hati-hati dan jujur
7. Pembentukan audit yang independen
8. Evaluasi ilmiah belanja pada proyek-proyek publik.
Secara khusus perlu adanya inovasi dan kreativitas di bidang keuangan public sebagai
landmark tradisional yang memudar di tengah-tengah ketidakpastian dan ketidakstabilan.
Pemerintah masih tidak memiliki insentif yang cukup di sector public untuk mencegah
masalah dan mendorong perekonomian .Pemerintah juga masih bermasalah dalam berurusan
dengan belanja modal skala besar yang memiliki resiko besar. Dan proyek-proyek public
jangka panjang. Pemerintah masih tidak tahu bagaimana mengelola jumlah kontrak yang
akan berakhir untuk organisasi swasta untuk menyalurkan barang publik dan jasa yang
penting. Pemerintah masih tidak memiliki alat yang tepat untuk mengatasi penggelapan pajak
dan pengeluaran anggaran yang terlampau boros. Pihak akademisi memiliki banyak metode
dan memiliki banyak teori yang memang masih belum terlalu matang dan belum teruji tetapi
akan terus mengalir ke arah perbaikan untuk sistem penganggaran tradisional. Ketika apa
yang sebenarnya mungkin diperlukan adalah sistem anggaran baru yang lebih sesuai dengan
konteks keuangan publik baru, lebih tepat untuk saat ini kemampuan teknologi yang lebih
selaras dengan harapan masyarakat dan tidak hanya kenyamanan yang dirasakan manajerial
saja.
David H. Rosenbloom
Teori Administrasi Publik dan Pemisahan Kekuasaan
David H. Rosenbloom berkontribusi dalam perkembangan Ilmu Administrasi Publik.
Salah satu bentuk kontribusinya terlihat melalui tulisannya yang berjudul Public
Administration Theory and the Separation of Powers. Di dalam tulisannya tersebut,
Rosenbloom memberikan pandangannya terhadap administrasi publik melalui teori-teori
yang telah dikembangkan oleh para teoris sebelumnya. Frederick C. Mosher, misalnya, telah
mempertimbangkan bahwa administrasi publik lebih pada tempat dari kepentingan-
kepentingan publik berkumpul daripada sekedar sebuah ilmu. Herbert Kaufman dan James Q
Wilson mengemukakan bahwa administrasi publik menghadapi masalah serius dan
nampaknya tidak terpecahkan secara terus-menerus tengah mencari bagaimana caranya untuk
memaksimalkan hasil yang dicapai dari pada nilai-nilai yang secara bergantian tidak cocok.
Pendekatan Manajerial terhadap Administrasi Publik
Tuntutan perbaikan pada pelayanan publik, merupakan bagian bisnis dari
pemerintahan yang dapat dilaksanakan dengan cara yang bersifat bussiness. Ide munculnya
‘bussinesslike’ pada administrasi publik ini merupakan sesuatu yang paling berpengaruh yang
dibahas oleh Woodrow Wilson pada esainya (The Study of Administration). Pertama, Wilson
melihat bahwa objek dalam studi administrasi adalah apa yang pemerintah dapat lakukan
dengan sewajarnya dan mendapati keberhasilan. Kedua, bagaimana pemerintah mampu
melakukan hal-hal yang tepat tersebut dengan kemungkinan efisiensi sepenuhnya dan paling
tidak kemungkinan biaya yang harus dikeluarkan termasuk di dalamnya uang dan tenaga.
Demikian administrasi publik erat kaitannya terhadap memaksimalkan nilai efektivitas,
efisiensi, dan ekonomis. Pendekatan manajerial diperkuat oleh Frederick Taylor dan
perkembangan manajemen ilmiah miliknya. Kemudian, Leonard D. White dengan Influential
Introduction to the Study of Public Administration, mengatakan bahwa studi administrasi
publik harus dimulai dari dasar manajemen daripada pondasi hukum.
Struktur Organisasi
Pendekatan manajerial pada administrasi publik pada pokoknya memperlihatkan garis
pada “ideal-type bureauchracy” milik Max Weber. Hierarkhi dipercayakan pada koordinasi
yang bersifat efektif. Program dan fungsi secara jelas diberikan pada unit-unit organisasi .
Tumpang tindih diminimalisasi, kedudukan diklasifikasikan ke dalam skema yang rasional
dan skala gaji secara sistematis dibuat dalam kepentingan ekonomi dan memotivasi pekerja
untuk menjadi efisien. Hubungan antara administrasi publik dan agen-agen publik
diformalisasikan secara tertulis dan disetiap kesempatan, bisnis publik diadministrasikan
secara halus dan dengan gaya yang tertib.
Pandangan terhadap Individu
Pendekatan manajerial pada administrasi publik mempertimbangkan cara pandang
impersonal terhadap seorang individu. Individu itu sendiri bisa terdiri dari para pekerja, klien,
atau “victim” dari para agen administratif publik. Pandangan ini melihat bahwa pekerja
secara jelas dimasukkan ke dalam prinsip-prinsip dari klasifikasi kedudukan dalam sektor
publik. Klien sendiri terkait dengan suatu usaha untuk mempertimbangkan nilai-nilai
manajerial yang termasuk di dalamnya efisiensi, ekonomis, dan efektivitas. “Victim” dapat
pula didepersonalisasikan ke dalam sebuah tingkat yang mana mereka dipertimbangkan
sebagai sub-manusia, terutama dimana paksaan atau kekerasan digunakna sebagai fasilitas
dalam kesehatan mental dan fungsi-fungsi ketertiban.
Pendekatan Politik terhadap Administrasi Publik
Pendekatan politik terhadap administrasi publik lebih menekankan pada nilai-nilai
dari perwakilan, pertanggungjawaban, politik, dan akuntabilitas melalui pemilihan resmi
terhadap rakyat. Hal-hal tersebut dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting untuk
pemeliharaan demokrasi konstitusional, terutama dalam pandangan munculnya administrasi
kontemporer yang mana dikenal pula sebagai “pemerintahan birokrasi” ini penting untuk
dicatat bahwa nilai-nilai yang diangkat dari pendekatan politik dalam administrasi publik
seringkali dalam ketegangan dengan pendekatan manajerial. Secara sosial, pelayanan publik
representatif mungkin tidaklah yang paling efisien.
Struktur Organisasi
Daripada menegaskan garis yang jelas dari fungsi spesialisasi hierarkhi, kesatuan, dan
rekruitmen berdasarkan kompetensi administrasi yang secara politik netral, pendekatan
politik justru lebih menekankan pada tingkat dan keuntungan dari pluralisme politik dalam
administrasi publik. Konsep dasar di belakang pluralisme dalam administrasi publik terlihat
sejak cabang administrasi adalah sebagai pusat pembuatan policy dari pemerintahan, di mana
harus terstruktur untuk memungkinkan golongan meniadakan golongan lain dengan cara
memberikan perwakilan politik pada keanekaragaman dari organisasi politik, ekonomi, dan
kepentingan sosial yang dapat ditemukan dalam masyarakat secara luas. Struktur dibuat
menyerupai podium partai politik yang mana menjanjikan sesuatu pada hampir setiap orang
tanpa diikuti adanya prioritas yang jelas untuk menyelsaikan konflik di antara mereka.
Pandangan pada Individu
Individu dipandang sebagai bagian dari keseluruhan kelompok, kepentingan individu
menyerupai/identik dengan pertimbangan individu lainnya di dalam kelompok/kategori yang
sama.
Pendekatan Hukum Administrasi Publik
Hukum Administrasi
Hukum administrasi dipandang sebagai "bagian dari hukum yang menetapkan organisasi,
menentukan kompetensi otoritas yang melaksanakan hukum, dan menunjukkan hak-hak
individu". Kenneth Davis berpendapat bahwa administrasi publik dapat dipandang sebagai
bagian dari hukum. Sumber kedua dari pendekatan hukum adalah sebuah alasan menuju
"yudisialisasi" administrasi publik. Dengan demikian, yudisialisasi memegang prosedur
hukum untuk penanggung jawaban atas pengambilan keputusan administrasi. Hukum tata
negara merupakan sumber ketiga dari pendekatan hukum kontemporer untuk administrasi
publik. Sejak tahun 1950-an, pengadilan federal sebenarnya telah mendefinisikan mengenai
prosedural, perlindungan yang sama, dan hak-hak substantif atau kebebasan warga negara di
dalam administrasi publik. Pendekatan hukum untuk administrasi publik menghasilkan tiga
nilai tengah. Doktrin Yudisial memberikan beban yang berat pada tindakan administratif
resmi yang berani melanggar hak-hak konstitusional substantif terhadap individu.
Salah satu tindakan pendekatan hukum untuk administrasi publik tersebut adalah penurunan
tingkat biaya atau keuntungan yang terkait dengan pendekatan manajerial. Lembaga
peradilan tidak mementingkan biaya keputusannya, tetapi fokus kepada sifat yang
menyangkut hak-hak individu, bukan pada biaya yang ditanggung oleh masyarakat untuk
mengamankan hak-hak mereka tersebut.
Pendekatan Individu
Penekanan pada proses hukum prosedural, hak-hak substantif, dan ekuitas adalah untuk
pertimbangan bahwa individu sebagai pribadi yang unik dalam situasi yang unik. Anggapan
sebagaimana setiap orang berhak memiliki "day in court" telah sesuai.
Pemisahan Kekuasaan
Pendekatan manajerial erat kaitannya dengan eksekutif. Kepresidenan mengambil sejumlah
besar peran dan fungsi. Tetapi, ciri utama dari kekuasaan konstitusional adalah memastikan
bahwa undang-undang siap untuk dijalankan. Sebagian besarnya pada peran implementasi.
Sebaliknya, pendekatan politik lebih erat kaitannya dengan peran legistalif. Dilihat dari
administrator publik sebagai pembuat hukum pelengkap dan pembuat kebijakan secara
umum. Dengan demikian, administrator publik membuat peraturan (undang-undang),
menerapkan aturan-aturan (fungsi eksekutif), dan mengadili pertanyaan mengenai aplikasi
dan eksekusi (fungsi peradilan).
DAFTAR PUSTAKA
Rivai, Vethzal. 2004. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Edisi 2. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Freud, Sigmund and Strachey, James. 1991. Introductory Lectures on Psychoanalysis.
Penguin Books.
Gibson, James L., Ivancevivh, John M., and Donnelly, James H. 1973. Organizations:
Structure, process, and Behaviour. Business Publication
Lindblom, Charles E. The Science of “Mudding Trough”.
Shafritz, Jay M. & Hyde, Albert C. Classics of Public Administration. Florida : Harcourt
Brace Collage Publishers, 1997.
BIOGRAFI DAN KONTRIBUSI TOKOH ADMINISTRASI PUBLIK
WILLIAM F WILLOUGHBY, MAX WEBER, LEONARD D WHITE,
MERRY PARKER FOLLETT, PAUL APPLEBY
DISUSUN OLEH
Kelompok 6
Fatima Hana Fitriati (13/347924/SP/25727)
Erieskha Dwi Apriyani (13/347946/SP/25732)
Ida Ayu Fara Febrina (13/347955/SP/25734)
Nadya Prasetya Mirani (13/347957/SP/25735)
Atri Yanuarizki (13/347958/SP/25736)
Noviyatul Magfiroh (13/348008/SP/25749)
Hanifa Siamunisa (13/348013/SP/25750)
Monica Arlisa K. S. (13/348031/SP/25756)
Tunjung Atika Fahmi (13/348036/SP/25757)
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
William F. Willoughby
William F. Willoughby lahir pada 20 Juli 1867. Beliau meupakan lulusan dari
Universitas Johns Hopkins pada tahun 1855. Willoughby biasanya bekerja sebagai autor teks-
teks tentang administrasi publik termasuk menyangkut masalah budgeting, dia kerap kali
bekerja dengan saudara kembarnya yang bernama Westel W. Willoughby. Berikut beberapa
pengalaman Willoughby yang ia peroleh dalam perjalanan hidupnya: Statistical expert for
U.S. Department of Labor (1885); Member of International Jury of Awards, Paris Exposition
of 1900; Instructor of economics at Harvard (1901); First Director of Brookings Institution;
Treasurer, secretary, and president of Executive Council of Puerto Rico of the Island of
Puerto Rico, appointed November 9 1901 by President Theodore Roosevelt (1901-1909);
Assistant director of U.S. Census (1910); Member of U.S. Commission of Economy and
Efficiency in Government; McCormick Professor of Jurisprudence at Princeton (1912);
Deputy legal advisor to president of China (1914-1916); Director of the Institute for
Government Research (1916-1932); President of the American Political Science Association
(1931-1932); Consultant to the Library of Congress (1940-1944).
William F. Willoughby merupakan tokoh Administrasi Ngeara yang muncul pada era
Paradigma kedua yaitu sekitar tahun 1927-1937. Pemikiran dari Willoughby yang sangat
mempengaruhi Administrasi Negara pada jaman tersebut adalah tentang prinsip-prinsip
administrasi. Dengan munculnya karya Willoughby yang berjudul Principles of Public
Administration sebagai buku teks kedua yang membahas secara penuh bidang administrasi
negara, prinsip-prinsip administrasi tersebut kemudian menjadi fokus dalam administrasi
publik pada era tersebut. Dalam bukunya itu Willoughby berpendapat bahwa administrasi
pada abad ke-20 lebih berpengaruh dibanding pendahulunya, menurutnya administrasi itu
kompleks sehingga diperlukan eksperimen yang dapat menjaga akuntabilitas dari pelayan
publik untuk keinginan akan standar yang lebih tinggi dalam hal efisiensi. Dengan kata lain,
argumen Willoughby tersebutlah yang menjadi dasar dari adaptasi dari prinsip-prinsip
manajemen ilmiah dalam sektor publik dalam jangka waktu yang panjang. Willoughby
menekankan bahwa prinsip-prinsip administrasi dapat digunakan dan diikuti dalam bidang
apapun atau berlaku secara universal. Selain itu Willoughby juga mengatakan bahwa
administrasi negara dapat diterapkan pada semua jenis tatanan admininistrasi tanpa terkecuali
( dengan mengabaikan unsur kebudayaan, lingkungan, misi, fungsi, atau kerangka institusi di
berbagai belahan dunia) asalkan prinsip-prinsip administrasi tersebut diterapkan. Sehingga
menurutnya dapat terjadi administrasi negara yang yang sama di dunia barat dan timur -
walaupun dengan kebudayaan yang sangat jauh berbeda – asalkan prinsip-prinsip
administrasi tersebut digunakan secara sama.
Prinsip-prinsip administrasi yang dimaksudkan adalah prinsip administrasi yang
dicetuskan oleh Lyndall Urwick dan Luther Gullick yaitu PODSCORB (Planning,
Organizing, Directing, Staffing, Coordinating, Reporting, and Budgeting). Namun di sini
Willoughby berkonsentrasi pada prinsip Budgeting. Willoughby dikenal sebagai salah satu
pencetus excecutive budget. Di mana menurutnya budget dianggap sentral dalam pembuatan
kebijakan publik oleh eksekutif, tapi di sisi lain budget dilihat sebagai alat koordinasi antara
lembaga eksekutif dan legislatif. Tetapi dalam prinsip budgeting ini nilai utama yang ingin
dicapai ialah nilai efisiensi. Menurut Willoughby budget ini dapat meningkatkan nilai-nilai
efisiensi dalam pemerintahan, di mana seperti yang kita ketahui bahwa pada era tersebut
organisasi pemerintahan juga dihadapkan pada apa yang disebut dengan market-test.
Sehingga organisasi pemerintahan secara tidak langsung dipaksa untuk meningkatkan
efisiensi agar dapat menguasai sektor-sektor privat yang banyak bermunculan dan tidak kalah
saing dengan mereka. Selain itu sistem budgeting juga dianggap sebagai sarana demokrasi.
Sistem budgeting dilihat sebagai suatu sistem yang dinilai mampu untuk memayungi
kebutuhan akan efisiensi dalam organisasi pemerintahan.
Max Weber
Max Weber lahir dengan nama lengkap Maximilian Karl Emil Weber pada tanggal 21
April 1864 di Efurt (Prussia), Jerman. Ayahnya, Max Weber Sr. adalah seorang birokrat yang
kedudukan politiknya relatif penting dan menjadi bagian dari kekuasaan politik yang mapan.
Ibunya, Helene Fallenstein Weber adalah seorang Calvinis yang taat, yaitu wanita yang
berupaya menajalani kehidupan prihatin (astetic). Setelah lulus dari sekolah menengah Max
Weber belajar hukum, sejarah, filsafat, dan ekonomi selama tiga semester di Heidelberg
University sebelum menghabiskan satu tahun di militer. Dia melanjutkan sekolahnya pada
1884 di University of Berlin dan menghabiskan satu semester di Gottingen. Weber lulus
kuliah pada tahun 1886 dan mendapatkan gelar Ph.D. pada tahun 1889, Ia juga menjadi
pengacara dan mulai mengajar di Universitas Berlin. Dalam proses itu minatnya bergeser ke
ekonomi, sejarah dan sosiologi yang menjadi sasaran perhatiannya selama sisa hidupnya.
Max Weber meninggal pada 14 juni 1920 di Munchen, Jerman. Dia dinobatkan sebagai
Bapak Sosiologi Modern.
Pada tahun 1904 dan 1905 Max Weber menerbitkan salah satu karya terbaiknya
yaitu The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Dalam karya ini Weber
mengumumkan besarnya pengaruh agama ibunya di tingkat akademis. Weber banyak
menghabiskan waktu untuk belajar agama meski secara pribadi ia tak religius. Dalam Etika
Protestan dan Semangat Kapitalisme, Weber mengajukan tesis bahwa etika dan pemikiran
Puritan memengaruhi perkembangan kapitalisme. Ia mendefinisikan "semangat kapitalisme"
sebagai gagasan dan kebiasaan yang mendukung pengejaran yang rasional terhadap
keuntungan ekonomi. Weber menunjukkan bahwa semangat seperti itu tidak terbatas
pada budaya Barat apabila dipertimbangkan sebagai sikap individual, tetapi bahwa individu-
individu seperti itu tidak dapat dengan sendirinya membangun sebuah tatanan ekonomi yang
baru. Di antara kecenderungan-kecenderungan yang diidentifikasikan oleh Weber adalah
keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimum, gagasan bahwa kerja adalah
kutukan dan beban yang harus dihindari, khususnya apabila hal itu melampaui apa yang
dibutuhkan untuk hidup yang sederhana. "Agar suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik
dengan ciri-ciri khusus kapitalisme," demikian Weber menulis, "dapat mendominasi yang
lainnya, hidup itu harus dimulai di suatu tempat, dan bukan dalam diri individu yang
terisolasi semata, melainkan sebagai suatu cara hidup yang lazim bagi keseluruhan kelompok
manusia."
Max Weber juga sosok yang dikenal sebagai bapak birokrasi. Menurut Weber (1948),
organisasi birokrasi yang ideal menyertakan delapan karakteristik struktural. Pertama, aturan-
aturan yang disahkan, regulasi, dan prosedur yang distandarkan dan arah tindakan anggota
organisasi dalam pencapaian tugas organisasi. Kedua, spesialisasi peran anggota organisasi
memberikan peluang kepada divisi pekerja untuk menyederhanakan aktivitas pekerja dalam
menyelesaikan tugas yang rumit. Dengan memecah tugas-tugas yang rumit ke dalam aktivitas
khusus tersebut, maka produktivitas pekerja dapat ditingkatkan. Ketiga, hierarki otoritas
organisasi formal dan legitimasi peran kekuasaan anggota organisasi didasarkan pada
keahlian pemegang jabatan secara individu, membantu mengarahkan hubungan intra personal
di antara anggota organisasi guna menyelesaikan tugas-tugas organisasi. Keempat, pekerjaan
personil berkualitas didasarkan pada kemampuan tehnik yang mereka miliki dan kemampuan
untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka. Kelima, mampu tukar personil
dalam peran organisasi yang bertanggung jawab memungkinkan aktivitas organisasi dapat
diselesaikan oleh individu yang berbeda. Mampu tukar ini menekankan pentingnya tugas
organisasi yang relatif untuk dibandingkan dengan anggota organisasi tertentu yang
melaksanakan tugas-tugasnya. Keenam, impersonality dan profesionalisme dalam hubungan
intra personil di antara anggota organisasi mengarahkan individu ke dalam kinerja tugas
organisasi. Menurut prinsipnya, anggota organisasi harus berkonsentrasi pada tujuan
organisasi dan mengutamakan tujuan dan kebutuhan sendiri. Sekali lagi, ini menekankan
prioritas yang tinggi dari tugas-tugas organisasi di dalam perbandingannya dengan prioritas
yang rendah dari anggota organisasi individu. Ketujuh, uraian tugas yang terperinci harus
diberikan kepada semua anggota organisasi sebagai garis besar tugas formal dan tanggung
jawab kerjanya. Pekerja harus mempunyai pemahaman yang jelas tentang keinginan
perusahaan dari kinerja yang mereka lakukan. Kedelapan, rasionalitas dan predictability
dalam aktivitas organisasi dan pencapaian tujuan organisasi membantu meningkatkan
stabilitas perusahaan. Menurut prinsip dasarnya, organisasi harus dijalankan dengan kaidah
dan panduan pemangkasan yang logis dan bisa diprediksikan.
Leonard Dupee White
Leonard D White adalah seorang sejarawan Amerika yang tertarik dan menghususkan
diri dalam administrasi publik di Amerika Serikat. Leonard D White lahir di Acton pada
tanggal 17 Januari 1891 dari pasangan Massachusetts John Sidney White dan Bertha H. D
White. Ia menerima gelar sarjana dan gelar master dari Dartmouth pada tahun 1914 dan 1915.
Kemudian, ia menerima gelar doktor dari University of Chicago pada tahun 1921. Setelah itu,
ia mengajar selama beberapa tahun di Universitas Chicago. Pada tahun 1934 ia pergi ke
Washington untuk melayani Komisi Pelayanan Sipil Amerika Serikat dan Badan Pusat
Statistik. White juga merupakan salah satu pendiri dari Public Administration Review, yang
menjabat sebagai editorin chief pada tahun 1940-1941. White meninggal di Chicago pada
tanggal 23 Februari 1958. White menciptakan berbagai literature dengan judul Introduction to
the Study of Public Administration (1926), The Federalis (1948), The Jeffersonians (1951),
The Jacksonians (1954), dan The Republik Era (1958). Terakhir ia dianugerahi Hadiah
Pulitzer untuk sejarah pada tahun 1959.
White menyatakan bahwa terdapat kesatuan esensi di dalam proses administrasi, baik
administrasi pemerintahan kota, pemerintahan negara bagian atau pemerintahan negara
federal. Masing-masing tahap dari berbagai pemerintahan tersebut memberikan banyak
variasi yang signifikan dalam teknik administrasi. Oleh karena itu, proses administrasi
merupakan satu kesatuan, dan untuk memahaminya maka memerlukan proses umum di
semua level pemerintahan.
Leonard D. White dalam bukunya yang berjudul Introduction to the Study of Public
Administration (1926), ia berpendapat mengenai pengertian administrasi, yaitu administrasi
adalah proses umum yang terdapat dalam semua usaha kelompok, negara ataupun swasta,
sipil ataupun militer, baik yang berskala kecil maupun berskala besar. White mengeluarkan
asumsi mengenai perbedaan antara administrasi dan politik. Administrasi merupakan
pelaksanaan kebijakan negara yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan dapat
dikembangkan serta dipelajari secara sistematis untuk kepentingan manusia. Sedangkan
politik dalam hal ini, harus memusatkan perhatiannya pada kebijakan atau ekspresi dari
kehendak rakyat. Politik seharusnya tidak mencampuri administrasi dan administrasi harus
dilihat sebagai studi ilmiah yang diarahkan untuk mencapai nilai efisiensi dan ekonomi
dari government bureaucracy.
Dalam bukunya, White juga berpendapat bahwa administrasi dimanifeskan oleh badan
eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Ketiga badan tersebut saling terpisah. Badan eksekutif
dalam hal ini mempunyai tugas untuk mengimplementasikan kehendak publik. Badan
legislatif mempunyai tugas untuk mengekspresikan kehendak publik, sedangkan badan
yudikatif mempunyai tugas untuk membantu badan legislatif dalam merumuskan kebijakan
serta menentukan tujuan. Namun, dengan pemisahan badan tersebut bukan berarti
administrasi dan politik tidak berkaitan. Administrasi dan politik berkaitan pada saat badan
legislatif dan yudikatif bekerjasama dalam proses membuat suatu kebijakan, sedangkan
fungsi badan eksekutif adalah untuk melaksanakan kebijakan yang telah dibuat oleh badan
legislatif dan yudikatif. Jadi, administrasi dan politik merupakan hal yang berbeda, namun
administrasi dan politik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena administrasi dan politik
saling berkaitan.
Sudah diketahui sebelumnya bahwa dengan kemunculan dari buku White The
Introduction to the Study of Public Administration yang mana di Amerkia Serikat pada saat
itu menandai kelahiran Admministrasi Publik sebagai sebuah disiplin ilmu baru. Dalam buku
tersebut pada intinya White mengemukakan mengenai dua hal yakni, pertama yakni ruang
lingkup serta sifat dari administrasi publik yang mana salah satunya berisi akan dukungan
White atas dikotomi politik. Kedua, yakni mengenai kemunculan administrasi publik yang
menjelaskan pengaruh munculnya administasi publik yang mana White dalam konteks ini
menceritakan di situasi di Amerika.
Kemunculan Administrasi Publik memiliki pengaruh yang cukup besar di Amerika
pada saat itu. Menurut White tugas negara modern semakin luas dan semakin besar dalam
setiap arah sehingga administrasipun perlu untuk semakin diperluas, agar dalam setiap tahap
program baru dapat tercermin sebuah kegiatan administrasi. White menyebutkan bahwa
“untuk alasan inilah tidak mengejutkan bahwa dalam dua dekade terakhir pemerintah telah
meningkatkan perhatian kepada sisi bisnis. Satu-satunya fase administrasi yang muncul di
arena isu nasional adalah spoil-system” (Leornardo D. White, 1926). White dalam hal ini
memuji tulisan Wilson yang menjelaskan mengenai kegagalan Amerika untuk memahami
pentingnya administrasi.
Setelah menerima ide akan pemisahan politik dan Administrasi, White memandang
dan mengusulkan manajemen sebagai sebuah materi yang harus dibahas dalam administrasi,
yang mana dia mengusulkan hal-hal khusus seperti sistem pengadaan, ujian klasifikasi,
promosi, disiplin, dan pensiunan pegawai agar diatur dalam suatu manajemen untuk
mencapai sebuah tujuan negara.
Mary Parker Follet
Mary Parker Follet lahir di Quincy, Massachuttes pada 3 September 1868
Keluarganya adalah berdarah campuran English-Scotland-Welsh. Mary adalah anak kedua
dari Charles Allen dan Elizabeth Curtis Follet. Ayahnya seorang teknisi di sebuah pabrik
sepatu lokal. Follet mengenyam pendidikan pertamanya di Thayer Academy di Braintree,
Massachutes dan lulus tahun 1884. Lalu pada 1888 ia mempelajari bahasa inggris, politik-
ekonomi dan sejarah di Radcliffe College. Dua tahun kemudian ia melanjutkan di Cambridge
University dan melahirkan sebuah karya berupa paper yang dikirim ke House of
Representative di US. Paper tersebut kemudian menjadi basis sebuah buku pertamanya yang
berjudul The Speaker of The House of Representative. Follet memulai karirnya sebagai
pekerja sosial pada sebuah komunitas di Boston. Ia menjadi pionir program sekolah kejuruan
yang dilaksanakan sore hari. Lalu pada tahun 1918 Follet mempublikasikan buku keduanya
yang berjudul The New State, berisi kritik terhadap politik Amerika dengan memasukkan
dimensi lain yaitu dynamic group. Teori dalam buku tersebut kemudian diperdalam lebih
lanjut di buku ketiganya yang berjudul Creative Experience. Ia juga pernah berkarir sebagai
dosen pengajar ilmu manajemen industri. Follet meninggal pada 18 Desember 1933 karena
penyakit kanker. Sepeninggalnya, kumpulan papernya dipublikasikan ke dalam sebuah buku
yang berjudul Dynamic Administration: The Collected Papers of Mary Parker Follet.
Mary Parker Follet sebagai seorang ahli manajemen beraliran human relation
mengemukakan hubungan antara tingkah laku manusia dengan struktur organisasi. Ia
menjelaskan bahwa aktivitas dan interaksi dalam organisasi dapat dicapai melalui pola-pola
seperti circular response dan integrasi. Konsep circular response menjelaskan hubungan
timbal balik antara subjek dan objek organisasi. Dalam sebuah organisasi terdapat proses
sosial dan di dalamnya akan muncul konflik yang dapat diselesaikan melalui integrasi.
Integrasi dapat mempertemukan berbagai kepentingan kepada sebuah titik equilibrium yang
harmonis. Tidak ada individu yang didominasi oleh organisasi karena dalam proses sosial
terdapat “law of interpenetration” dan “doctrine of the whole”, bahwa individu adalah bagian
dari organisasi dan mempunyai control yang bersifat kolektif. Istilah power menurut Follet
adalah kemampuan untuk membuat sesuatu terjadi. Dalam sebuah organisasi, manajer
seharusnya memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mengoptimalkan kapasitas dan
menggunakan powernya sendiri. Follet juga mengungkapkan konsep demokrasi yang
dinamakan Ballot-box democracy yang menurutnya bukan demokrasi yang sebenarnya,
karena cenderung bersifat mendominasi kepentingan individu tertentu, yang didasarkan pada
“law of the crowd”. Sedangkan the real democracy menurut Follet, tidak hanya menekankan
partisipasi, tetapi juga mampu menciptakan kesatuan.
Walaupun minat utama Follet adalah pada human relation dan group processes,
namun ia memilih untuk memfokuskan diri pada organisasi industri karena ia mempunyai
akses terhadap organisasi bisnis, analisis dalam bisnis yang menarik dan original, dan ia
memandang bahwa organisasi bisnis merupakan agen sosial yang menunjukkan fungsi sosial
yang penting.
Follet berpendapat bahwa tugas utama dalam sebuah organisasi adalah koordinasi,
yang mengubah kumpulan individu menjadi suatu unit kerja dan merupakan suatu hubungan
timbal balik pada semua faktor dalam berbagai situasi di orgaisasi. Follet juga berpendapat
bahwa kontrol dan otoritas itu mengalir dari koordinasi. Dalam organisasi, tedapat beberapa
karakteristik kontrol yang diwujudkan dalam penggunaan otoritas. Konsepsi Follet tentang
kontrol dan otoritas tidak menyingkirkan kebutuhan mengenai effective leadership dalam
organisasi. Ia mempunyai pandangan bahwa effective leadership bukan berdasarkan pada
posisi seseorang, namun lebih pada kemampuan untuk menciptakan kesatuan fungsi dalam
organisasi.
Selain itu Follet juga menekankan tentang partisipasi pekerja. Partisipasi pekerja
harus menjadi suatu “functional power”, yang berarti bahwa pekerja harus berada pada
tingkat kontrol yang sesuai dengan fungsinya saja. Menurut Follet, partisipasi pekerja
merupakan suatu cara untuk meningkatkan resposibilitas kolektif melalui pengakuan identitas
dari kepentingan, kesadaran saling ketergantingan, interpenetrasi aktivitas dan integrasi dari
berbagai perspektif yang berbeda.
Paul Henson Appleby
Paul Henson Appleby yang sering kita kenal dengan sebutan Appleby lahir di Greene
County, Missouri pada tanggal 13 September 1891 dari pasangan Andrew B. dan Mary
(Johnson) Appleby. Andrew B. adalah seorang amggota menteri di pemerintahan. Appleby
merupakan salah seorang administrator publik di Amerika, seorang ahli pendidikan, dan
penulis buku tentang perdebatan mengenai dikotomi administrasi-politik. Appleby menikah
dengan Ruth Meyer pada tanggal 4 Oktober 1916. Pasangan ini mempunyai tiga anak yang
bernama Margaret Finley Appleby, Mary Ellen Appleby Sarbaugh, and L. Tom Appleby.
Pada tahun 1913, beliau menerima gelar B.A.-nya di Grinnell Collage. Setelah itu
beliau bekerja di kebun buah pada waktu yang singkat di State of Washington, kemudian
beliau mulai terjun ke dunia jurnalistik. Awal karirnya pada tahun 1914, Appleby bekerja
sebagai jurnalis dalam surat kabar di Montana, Minnesota, Iowa sampai tahun 1920. Beliau
merupakan editor dari Iowa Magazine di Waterloo dari tahun 1920 sampai 1924 dan penulis
editorial di Des Moines Register dan Tribune dari tahun 1924 sampai 1926.
Pada tahun 1926 keluarganya pindah ke Radford, Virginia. Appleby bekerja di News
Journal di Ranford dan News Messanger di Christiansburg hingga tahun 1933. Pada tahun
1933 beliau menerima posisi di pemerintahan Amerika Serikat. Karir Appleby selama
hidupnya sebagai berikut:
Tahun 1933-1940 menjabat sebagai Executive Assistant to the Secretary of
Agriculture.
Tahun 1940-1944 menjabat sebagai Under Secretary of Agriculture.
Tahun 1941-1942 menjabat sebagai Kepala Food Mission to Great Britain.
Tahun 1942-1943 menjabat sebagai Special Assistant to the Lend-Lease
administrator.
Tahun 1943 menjabat sebagai Special Assistant to the Secretary of State.
Tahun 1943 merupakan U.S. delegate to the Hot Springs Food Conference.
Tahun 1942- 1944 menjabat sebagai kepala International Wheat Council.
Tahun 1943-1944 merupakan U.S. member of the Interim Committee on Food and
Agriculture.
Tahun 1944-1947 menjabat sebagai Assistant Director of the U.S. Bureau of the
Budged.
Tahun 1946 merupakan anggota dari Contributions Committee of the United
Nationsa.
Tahun 1947 menjadi Dekan Maxwell School of Citizenship and Public Affairs.
Tahun 1947-1950 merupakan anggota dewan o di Institute of Public Affairs.
Tahun 1953 merupakan anggota dewan Franklin D. Roosevelt Foundation.
Tahun 1955-1957 menjabat sebagai Budget Director for the State of New York.
Karya - karya Appleby yang dikenal publik, antara lain:
1. Big Democracy (1945 )
Berisi tentang administration tidak dapat dipisahkan dari policy, karena
hubungan politik, policy, dan administration saling terikat satu sama lain dalam
pelaksanaan pemerintahan.
2. Policy and Administration( ( 1949)
Berisi tentang bagaimana administrasi publik sudah menjamur dan terbentuk
oleh suatu tekanan politik. Politik itu sendiri menurut beliau tidak dapat dipisahkan
dari administrasi publik, karena birokrasi merupakan perwujudan dari perumusan
kebijakan, dan menentukan hak-hak dari masyarakat atau warga negara.
3. Morality and Administration in Democratic Government ( 1952)
Berisi tentang peringatan kepada ahli-ahli administrator bahwa salah satu
konsekuensi dari tekanan politik dalam birokrasi adalah persoalan tersebut bisa
medorong birokrasi pada level yang paling atas dari organisasi dalam pembentukan
suatu keputusan.
4. Public Administration for Welfare State ( 1961)
Setelah pensiun dari Direktur Keuangan pada tahun 1957, Appleby menerbitkan
artikel yang berjudul Citizens as Sovereigns serta menulis artikel tentang government dan
administration untuk jurnal internasional. Appleby meninggal pada tahun 1963 bulan
Oktober.
DAFTAR PUSTAKA
Baker, Gladys L. (1973). The Paul H. Appleby Papers at Syracuse. Retrieved 20 May 2014,
From University of Syracuse Library website:
http://surface.syr.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1093&context=libassoc
Chandler, Ralph C.,& Plano, Jack C. (1982). The Public Administration Dictionary. Canada:
John Wiley & Sons, INC.
Fry, B.R.,& Raadschelders, J.C.N., (2008). Mastering Public Administration : from Max
Weber to Dwight Waldo. Washington, DC : CQ Press.
Keban, Yeremias T. (2008). Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik: Konsep, Teori dan
Isu. Yogyakarta: Gava Media.
Maximilian Karl Emil Weber. (2014). The Biography.com website. Retrieved 09:41, May 25
2014, From http://www.biography.com/people/max-weber-9526066.
Moss Wigfall Patricia.,& Kalantari Behrooz. (2001). Biographical Dictionary of Public
Administration. Greenwood Publishing Group.
Putro, Roestoto H. 2012. Latar Belakang Lahirnya Administrasi Negara. Retrieved May 13
2014, from http://rhp_anfisip-fisip.web.unair.ac.id/artikel_detail-69598-Umum-Latar
%20Belakang%20Lahirnya%20Perbandingan%20Administrasi%20Negara.html
Schachter, Hindy L.1989. Frederick Taylor and The Administration Community: A
Reevaluation. SUNY Press: United States Of America.
Schindler, Amy C. 2002. Finding Aid for the PAUL H. APPLEBY PAPERS, 1944-1956
(APAP-112). Retrieved 20 May 2014, From the University of Albany Library Online
website : https://library.albany.edu/speccoll/findaids/apap112.htm
Shfritz, Jay M.,& Hyde, Albert C. (1978). Classic Of Public Administration. Florida:
Harcourt Brace College.
The Editors of Encyclopedia Britannica. Leonard Dupee White. Retrieved 21 May 2014,
From the Encyclopedia is Online website:
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/1354490/Leonard-Dupee-White
University of Chicago Library. 2008. Guide to the Leonard D. White Papers 1913-2002.
Retrieved 21 May 2014, From the University of Chichago Library website:
http://www.lib.uchicago.edu/e/scrc/findingaids/view.php?eadid=ICU.SPCL.WHITELD
White, Leonardo D. (1926). Introduction to the Study of Public Administration. New Jersey,
NJ: Upper Saddle River.
BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN TOKOH ADMINISTRASI PUBLIK
MICHAEL BARZELAY, ARNOLD J. MELTSNER, GRAHAM T.
ALLINSON, RONALD C. MOE DAN CAMILLA STIVERS
DISUSUN OLEH
Kelompok 7
Erik Sanjaya 13/348130/SP/25765
Satrio Sakti U 13/349979/SP/25908
Serly ‘Arofi 13/348083/SP/25761
Desi Permatasari 13/348123/SP/25763
Dhevy Murdhiyanti 13/348124/SP/25764
Yana Darmawan 13/349940/SP/25895
Galih Ari Sadewa 13/348041/SP/25759
Dewi Ratnasari 13/349943/sp/25897
Lina Ambar Melani 13/349935/SP/25895
Giovani Dewangga 13/349947/SP/25900
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014
Breaking Through Bureaucarcy
Michael Barzelay
Michael Barzelay adalah Profesor Manajemen Publik dan Kepala Departemen
Manajemen. Sebelum bergabung dengan London School of Economics and Political Science
pada tahun 1995, ia adalah Associate Professor of Public Policy di John F. Kennedy School of
Government Universitas Harvard. Dia juga mengajar di program eksekutif untuk perguruan
tinggi pegawai negeri dan universitas di Amerika Serikat, Australia, Brazil, Spanyol,
Meksiko, Italia, dan Thailand.
Pada tahun 2010 Profesor Barzelay dianugerahi gelar doktor kehormatan di bidang
ilmu politik dari University of St Gallen sebagai pengakuan atas penelitian di bidang
manajemen publik dan pemerintahan. Pada tahun 2004 ia dianugerahi Louis Brownlow Book
Award untuk Mempersiapkan Masa Depan: Perencanaan Strategis di Angkatan Udara AS
oleh National Academy of Public Administration. Pada tahun 2004 ia juga dianugerahi
Frieder Naschold Award untuk Keunggulan dalam Beasiswa di Bidang Manajemen Publik
oleh International Public Management Network.
Profesor Barzelay secara luas dikenal karena bukunya, Breaking through Bureaucracy.
Hal ini dimulai ketika terdapat perubahan-perubahan atas tuntutan seperti kualitas, pelayanan,
insentif, inovasi, dan fleksibilitas terhadap birokrasi. Untuk itu, dibutuhkan sebuah paradigma
baru untuk menggantikan paradigma birokrasi yang ada. Paradigma yang diperkenalkan oleh
Barzelay ini disebut sebagai Post-Bureaucratic Paradigm. Sehingga, terdapat pegeseran
paradigma dari paradigma birokrasi menjadi paradigma Post-Birokrasi.
Paradigma Post-Birokrasi fokus pada cara membuat pemerintah menjadi lebih
produktif dan akuntabel. Paradigma baru tersebut menekankan perbedaan-perbedaannya
terhadap paradigma birokrasi secara umum. Perbedaan tersebut diantaranya:
1. Paradigma Post-Birokrasi berorientasi hasil nilai dalam masyarakat (result citizens
value), sedangkan paradigma birokrasi menekankan pada kepentingan publik.
2. Paradigma Post-Birokrasi fokus pada nilai dan kualitas, berbeda dengan paradigma
birokrasi yang hanya menekankan pada efisiensi.
3. Paradigma Birokrasi menekankan pada sistem administrasi, sedangkan paradigma
Post-Birokrasi menekankan pada administrasi tetapi didasarkan pada konsep
produksi.
4. Dalam paradigma Birokrasi digunakan kontrol sebagai pencapaian administrasi yang
efisien. Sedangkan di paradigma Post-Birokrasi kontrol lebih diarahkan ke
kesadaran untuk tunduk pada norma (aturan).
5. Paradigma Post-Birokrasi mengembangkan tiga fungsi (fungsi, kewenangan, dan
struktur) dari paradigma sebelumnya dengan menambah konsep misi, pelayanan,
konsumen, dan keluaran yang dapat mengartikulasikan tujuan.
6. Paradigma Birokrasi hanya melakukan responsibility, sedangkan paradigma Post-
Birokrasi pertanggungjawaban berupa accountability.
7. Paradigma Birokrasi berfokus pada pemerataan biaya anggaran, sedangkan Post-
Birokrasi menekankan pada penyediaan nilai (value).
8. Paradigma Post-Birokrasi menjalankan peraturan dan prosedur sama seperti dalam
paradigma Birokrasi, tetapi dilihat dari sisi yang berbeda.
9. Dalam paradigma Post-Birokrasi lebih menekankan pada sistem operasi administrasi
dengan staf yang terpusat sebagai bagian dari proses.
10. Dalam paradigma Post-Birokrasi peran manajer publik tidak hanya sebatas
bertanggungjawab atas organisasinya tetapi dia juga harus mengerti dan memahami
berbagai konsep peran yang ditawarkan paradigma Post-Birokrasi.
The Seven Deadly Sins of Policy Analysts
Arnold J. Meltsner
Arnold Meltsner lahir pada tahun 1931. Saat ini Arnold tinggal di Richmond.
Sebelumnya, ia tinggal di Rancho Mirage, California . Arnold Meltsner lulus dari University
High School in LOS ANGELES, CA tahun 1949. Arnold J Meltsner adalah seorang ahli
Administrasi publik yang menganut paham Machiavelli. Beliau adalah Profesor Public
Policy Emeritus at the Graduate School of Public Policy, University of California, Berkeley.
Dia telah menulis buku “Policy Analysts in the Bureaucracy” pada tahun 1976, “The Policy
Organization (Managing information)” tahun 1983, “Taking advice: Scenes from a play”
tahun 1989, Rules for Rulers: the “Politics of Advice (Syracuse Studies on Peace and
Conflict”) tahun 1990, dan juga banyak jurnal-jurnal yang telah dia terbitkan
Menurut Arnorld J. Meltsner, permasalahan yang dihadapi dalam proses konsultasi
kebijakan selalu berulang-ulang. Orang awam Clients di dalam buku atau pengguna jasa
analis kebijakan) berfikir bahwa permasalah utamanya adalah kualitas dari para analis
kebijakan, andai saja para Client mempunyai analis yang lebih baik maka mereka dapat
membuat keputusan yang lebih baik. Bagi mereka apapun masalahnya, solusinya adalah
saran yang baik dari para analis atau beberapa struktur yang harus memberikan saran yang
baik. Namun pemikiran seperti ini malah menjebak dan membutakan kita dalam mengetahui
permasalahan sebenarnya.
Dosa para analis kebijakan menurut Meltsner adalah : “channeled, distant, late,
superficial, topical, capricious, and apolitical”. Menurutnya dosa-dosa yang biasa terjadi
adalah tujuh dosa diatas, yaitu menyalurkan kepentingan, jarak yang jauh, lamban, terlalu
dangkal, terlalu terikat topik, plin-plan, dan apolitis. Menurut Meltsner dosa-dosa tersebut
saling berkaitan satu sama lain dan sudah mendarah daging, ketika analis kebijakan mencoba
memperbaiki satu dosa diatas maka kita akan melakukan dosa-dosa yang lainnya.
Being in a Rut
The sin of Channeled advise berarti bahwa saran tersebut berasal dari rutinitas yang
beralur, terjebak dalam rutinitas sehingga baik analis maupun client tidak menyadari bahwa
keadaan telah berubah atau ada kendala-kendala lain yang tidak diperhatikan. Maksudnya
adalah ketika para analis kebijakan terjebak dalam rutinitas birokrasi sehingga hanya akan
menghasilkan analisis-analisis yang sama, kaku tanpa memperhatikan faktor keadaan yang
sebenarnya sehingg akan menimbulkan bias. Baik pihak analis maupun client yang terjebak
merasa nyaman di saluran mereka sampai akhirnya kenyataan dengan cepat akan merubah
mereka dan pikiran mereka.
Too Far Away
The sin of distant berdasarkan kepada ketidak-pedulian, dalam hal ini jarak yang
tercipta menjadikan hasil analisis tidak berdasarkan realita yang ada. Para analis terkadang
terlalu jauh dari kenyataan yang sebenarnya, para analis kebijakan biasanya hanya akan
memberikan solusi-solusi umum tanpa memperhatikan keadaan dengan lebih spesifik,
mereka terlalu percaya diri dengan kekuatan dari teori dan data-data yang mereka miliki,
hingga pada akhirnya kebijakan yang tercipta tidak akan seutuhnya pas dengan apa yang
sebenarnya diperlukan ketika kebijakan itu diterapkan.
Forget the Policy Process
Late advice adalah sebuah dosa karena terlalu menyia-nyiakan waktu khususnya.
Saran yang terlambat hanya akan menghilangkan harapan atau niat seseorang untuk
menggunakan saran tersebut. Untuk membuat kebijakan yang pantas, haruslah seimbang
antara tepat dan tepat waktu.
Know Too Little
Terkadang saran/kebijakan yang tercipta terlalu cepat, tidak sesuai konteks, dan belum
digali lebih mendalam sampai ke akar masalahnya. Sayangnya acceptance diantara client dan
analis kebijakan dirasa lebih penting dibandingkan pilihan yang tepat, berdasarkan definisi
dan analisa dari masalah itu sendiri. Solusi dari kedangkalan cara berfikir seperti ini adalah
adanya campur tangan atau kemauan untuk mendiagnosis secara lengkap, dan dibutuhkan
juga kerja keras untuk mencapai kebijakan yang bijaksana dan masuk akal.
Excessive Reactions
Dosa kelima adalah kebijakan yang terlalu topikal. Kebanyakan kebijakan yang
tercipta hanya berdasarkan dari keadaan krisis yang sesaat, contohnya flu burung, kecelakaan
pesawat terbang, dan sebagainya. Dalam pembahasan ini disebutkan bahwa baik client
maupun analis terlalu bereaksi berlebihan pada permasalahan yang mereka hadapi saat itu.
Padahal sebaiknya kita tidak hanya memandang apa yang terjadi saat ini saja tetapi kita juga
harus bisa memandang kedepan, memperhatikan juga permasalahan dan issue yang kurang
terekspos, karena kita tidak ingin para analis itu mengacuhkan issu kecil dan menganggap
remeh hal tersebut karena ditakutkan nantinya akan menjadi permasalahan besar.
Change for Its Own Sake
The sin of capricious advice serupa tapi tidak sama seperti permasalahan yang terlalu
topikal diatas, menurut Meltsner adanya bias atau prasangka bahwa saran/kebijakan yang
tercipta bertujuan untuk merubah sesuatu. Kita kekurangan para policy making yang mampu
berkata untuk membiarkan permasalah itu apa adanya, biarkan agar berubah dengan
sendirinya. Namun para client dan analis kebijakan selalu mencari cara untuk melakukan
perubahan. Meskipun memiliki insentif untuk berubah, baik client maupun para analis
kebijakan harus sensitif terhadap konsekuensi dari kebijakan yang plin-plan karena terus
mengharapkan perubahan.
Advice without Politics
Dosa terakhir adalah apolitical advice, yang dimaksudkan disini adalah bahwa
kebijakan politik yang dihasilkan tidak terkait atau terintegrasi dengan kebijakan yang
substansial. Pembagian divisi yang aneh juga tercipta ketika adanya dikotomi antara siapa
yang ahli dalam memberikan saran kebijakan dan saran politik.
Mempertahankan perspektif politik dalam proses dan pemberian saran kebijakan
diantara client maupun analis itu penting, jika tidak akan ada peluang yang terlewatkan. Para
penguasa harusnya tidak terlalu berpaku pada kebijakan operasional yang ada pada saat itu
saja, tetapi berpacu pada kebijakan yang lebih luas. Untuk bisa melakukannya diperlukan
pemahaman politik yang terintegrasi dengan kebijakan yang substansial, tidak hanya
pemimpinnya namun juga para penasihatnya.
Public and Private Management: Are They Fundamentally Alike in All Unimportant
Respects?
Graham T. Allison
Graham T. Allison lahir di Charlotte , North Carolina , Amerika Serikat pada tanggal
23 Maret 1940. Ia adalah seorang ilmuwan politik Amerika dan profesor di F. Kennedy
School of Government John di Harvard. Dia terkenal karena kontribusinya pada akhir tahun
1960 dan awal 1970-an dengan analisis birokrasi pengambilan keputusan, terutama selama
masa krisis. Bukunya memperbaharui Kebijakan Luar Negeri: “The Organization
Connection” ditulis bersama Peter Szanton, diterbitkan pada tahun 1976 dan memiliki
pengaruh pada kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Jimmy Carter yang menjabat
pada awal 1977 Sejak tahun 1970-an, Allison juga telah menjadi seorang analis terkemuka
keamanan nasional AS dan kebijakan pertahanan, dengan minat khusus dalam senjata nuklir
dan terorisme .Allison paling dikenal sebagai seorang ilmuwan politik untuk Essence
bukunya Keputusan: Menjelaskan Krisis Misil Kuba (1971), di mana dia mengembangkan
dua paradigma teoritis baru yaitu model proses organisasi dan model politik birokrasi untuk
bersaing dengan yang lazim kemudian pendekatan memahami pengambilan keputusan
kebijakan luar negeri menggunakan model aktor rasional. Esensi Keputusan cepat merevolusi
studi pengambilan keputusan dalam ilmu politik dan seterusnya.
Allison menggunakan istilah manajemen untuk mengartikan organisasi dan arah
sumber daya untuk mencapai hasil yang diinginkan. Allison mengungkapkan bahwa terdapat
tiga fungsi general management yaitu strategi, mengelola komponen internal dan mengelola
komponen eksternal. Fungsi strategi yaitu menetapkan tujuan dan prioritas bagi organisasi,
dan merancang rencana operasional untuk mencapai tujuan tersebut. Fungsi mengelola
komponen internal yaitu menyusun struktur organisasi dan staf, mengarahkan personil dan
sistem manajemen personalia, mengontrol kinerja: berbagai sistem informasi manajemen.
Fungsi mengelola komponen eksternal yaitu berhubungan dengan unit-unit eksternal,
berhubungan dengan organisasi independen, serta berhubungan dengan pers dan publik
(Owen E Hughes, 2003, 45-46). Allison berpendapat bahwa manajemen publik dan
manajemen privat memiliki persamaan dalam melaksanakan fungsi manajemen umum yang
digagas oleh Gullick dan Urwick yaitu POSDCORB. Allison mengungkapkan perbedaan
antara manajemen publik dengan manajemen privat. Dalam prespektif waktu, manajer
pemerintah memiliki horizon waktu yang cepat didasari kebutuhan politik dan kalender
politik, sementara manajer privat memiliki waktu lebih lama perspektif berorientasi pada
perkembangan pasar atau inovasi teknologi dan investasi, dan membangun organisasi. Dalam
durasi, masa jabatan dalam manajer publik relative cepat, sedangkan dalam manajer swasta
masa jabatan relative lebih lama. Dalam pengukuran kinerja, terdapat pengukuran jika ada
persetujuan mengenai standar dan pengukuran kinerja untuk menilai manajer pemerintah,
sementara berbagai tes dan evaluasi kinerja diterapkan dalam bisnis swasta. Dalam kendala
personal, manajemen pemerintah sering terjadi banyak kendala karena pegawai pemerintah
berada dalam hierarki sehingga sulit untuk mencapai. Sedangkan, dalam manajemen privat
kendala personal cenderung sedikit karena para pegawai juga diberikan kesempatan untuk
berunding demi mencapai tujuan. Dalam ekuitas dan efisiensi, manajemen pemerintahan
menekankan pada penyediaan ekuitas antara konstituen yang berbeda, sedangkan dalam
manajemen bisnis swasta penekanan relatif lebih besar pada efisiensi dan kinerja kompetitif.
Dalam proses publik versus proses pribadi, manajemen pemerintahan cenderung terekspose
pengawasan publik dan menjadi lebih terbuka, sementara manajemen bisnis swasta lebih
pribadi dan proses yang lebih internal dan kurang terkena ulasan publik. Dalam peran pers
dan media, manajemen pemerintahan harus berhadapan dengan pers dan media karena
keputusan sering diantisipasi oleh pers. Keputusan swasta kurang sering dilaporkan di pers,
dan pers memiliki dampak yang jauh lebih kecil atas substansi dan waktu keputusan. Dalam
persuasi dan arah, manajer pemerintah sering berusaha untuk memediasi keputusan dalam
menanggapi berbagai tekanan dan harus sering mengumpulkan koalisi dalam dan di luar
kelompok untuk bertahan hidup. Sebaliknya, manajemen swasta hasil lebih banyak dengan
arah atau penerbitan perintah kepada bawahan oleh manajer unggul dengan sedikit risiko
kontradiksi. Dalam dampak legislatif dan yudikatif, manajer pemerintah diawasi oleh
pengawas legislatif atau bahkan perintah yudisial dengan cara yang cukup jarang dalam
manajemen bisnis swasta. Dalam bottom line, manajer pemerintah jarang memiliki bottom
line jelas, sedangkan seorang manajer bisnis swasta adalah profit, kinerja pasar, dan
kelangsungan hidup.
Exploring The Limits of Privatization
Ronald C. Moe
Ronald Moe, merupakan peneliti sosial dan sejarawan yang lahir di San Diego pada
tahun 1937. Ia meninggal pada usianya yang ke 73 di rumahnya yang berada di Washington
secara mengejutkan karena hanya menderita sakit sebentar. Dr. Moe mendapat gelar
Bachelor-nya dari Claremont Men’s College di tahun 1959. Ia juga mengejar gelar tambahan
setelah belajar di UCLA. Ia kemudian mendapat gelar masterdari Columbia University pada
tahun 1962. Setelah menjalani wajib militer, ia kembali ke Columbia dan mendapat gelar
Doctorate in Public Law and Government di tahun 1968. Dr. Moe merupakan pengarang dan
sarjana yang menghabiskan sebagian besar waktunya di Congressional Research Service of
the Library of Congress. Semasa hidup, Dr. Moe juga mengajar di George Washington dan
American University, setelah mendapat pembelajaran Center for the Study of American
Government di Johns Hopkins University. Kadang, ia juga memberikan ceramahnya di
Princeton University dan University of Virginia.
Privatisasi merupakan konsep yang paling berpengaruh di dalam studi administrasi
publik di era 1980-an. Privatisasi sendiri merupakan cabang dari teori pasar bebas. Dampak
dari pengonsentrasian privatisasi di era 1980-an dapat kita rasakan sekarang, di era 2010-an,
dimana privatisasi sudah masuk ke dalam praktik administrasi publik yang sebelumnya
“dimonopoli” oleh pemerintah.
Privatization Movement
Beberapa orang mendefinisikan privatisasi dengan definisi yang berbeda-beda.
Namun dapat disepakati bahwa pergerakannya (Movement) dilakukan karena kepercayaan
bahwa sektor publik terlalu besar dan kompleks untuk dikerjakan sendiri oleh pemerintah.
Privatization Movement memandang bahwa publik dan privat sektor memiliki kemiripan.
Beberapa penyelenggara privatisasi menyetujui bahwa aktivitas di sektor publik dapat
ditransfer ke sektor privat.
Dapat kita lihat sekarang bahwa pemerintah tidak menguasai sektor publik
sepenuhnya. Beberapa pemerintahan yang sadar akan keterbatasannya mulai membagi
pekerjaannya dengan sektor privat. Misalnya saja di Jakarta menyangkut pengadaan bus
TransJakarta, tidak sepenuhnya di tanggung pemerintah namun diserahkan ke pihak swasta
melalui proses tender.
Assigning Functions
Fungsi privat disini memiliki tugas untuk dapat menyakup dan mentrafomasikan diri
menuju karakter yang lebih publik. Beberapa pelaku ekonomi pasar bebas menggaris bawahi
sifat administrator publik yang cenderung malas untuk mengembangkan kriteria menyeluruh
untuk membantu pembuat kebijakan dalam menentukan fungsi publik yang tepat untuk
digunakan. Selain itu, untuk mengembangkan dan menerapkan kriteria yang digunakan dalam
assignment of functions di sektor publik
Kedaulatan Khusus
Pengaturan antara sektor publik dan sektor privat di Amerika serikat memiliki ciri-ciri
yang khas dan pada dasarnya dipertimbangkan berdasarkan pada faktor politik dan budaya.
Ciri-ciri khas yang membedakan antara sektor publik dan sektor privat yaitu mengenai
kedaulatan. Pemerintah federal memiliki hak dan kekebalan dalam berdaulat.Sedangkan
organisasi di sektor privat atau swasta tidak memiliki, atau setidaknya tidak harus memiliki
hak dan kekebalan. Yang dimaksud dengan hak dan kekebalan kedaulatan yaitu bahwa negara
memiliki hak yang sah untuk menggunakan paksaan untuk menegakkan kehendaknya seperti
dalam menarik pajak kepada warga negara dan perusahaan dan member hukuman kepada
yang tidak membayar pajak. Negara sebagai sektor publik dapat memaksa organisasi,
kelompok, dan individu untuk bertindak sesuai dengan undang-undang yang dibuat.
Faktor-faktor Tambahan yang Perlu Dipertimbangkan dalam Menetapkan Fungsi.
Pada tingkat nasional, Amerika Serikat memutuskan ketentuan mengenai suatu
produk atau jasa akan diproduksi oleh pemerintah sendiri atau oleh pihak privat, yaitu dengan
alasan yang menyangkut keamanan nasional. Privatisasi sangat harus dibatasi ketika
menyangkut faktor keamanan nasional.
Yang kedua yaitu mengenai nilai utama yang terkandung dalam masyarakat.
Dalamdemokrasi konstitusional, nilaiutama masyarakatadalah gagasan bahwapejabat
publikharus bertanggung jawabatas tindakan merekakepada para pejabatterpilihdan
melaluipejabatitu pulakepada publik. Ketikafungsi publikditugaskan kepada sektor swasta,
yang biasanya disepakati melalui kontrak, maka akan ada pelemahan yang tak terelakkan
dalam garis akuntabilitas politik. Selain itu, perdebatan mengenai pembagian atas pelimpahan
hak kepada sektor publik dan swasta masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Pada
akhirnya, yang bersifat mengenai masyarakat dan pemerintah secara murni, tidak
dilimpahkan kepada sektor privat.
Maraknya perkembangan mengenai isu-isu pasar bebas sedikit banyak menciptakan
pengaruh-pengaruh privatisasi, hingga muncul gerakan privatisasi. Masalah besar yang
dihadapi ekonomi politik Amerika memasuki abad ke-21 adalah masalah makro mengenai
penempatan fungsional dan manajemen organisasi. Karakteristik khas dari sektor publik dan
swasta harus diakui sebagai prasyarat untuk mengembangkan kriteria untuk menetapkan
fungsi antara kedua sektor tersebut. Yang dibutuhkan saat ini adalah teori, atau setidaknyasatu
setkriteria, untuk membantu membagitugasfungsike sektoryang tepat. Hal terbaikyang
terdapat padasektor swastaadalah pemenuhan kebutuhan sektor publikfirst-class, tepat dalam
ukurandan fungsi, tetapi sepenuhnyamampumenyediakan hukum legal, ekonomis, dan
infrastrukturbarang publikyang akan memungkinkansektor swastauntuk mencapaipotensi
penuhnya.
Toward a Feminist Persepective in Public Administration Theory
Camilla Stivers
Camilla Stivers adalah Professor ternama Public Administration di Levin College.
Dia adalah Associate Editor dari Public Administration Review. Dari tahun 1968 sampai
1985, ia adalah seorang manajer pelatihan di depan umum dan organisasi nirlaba berbasis
masyarakat. Pada 1986-1987 Stivers adalah direktur penelitian untuk National Academy of
Sciences atau Lembaga Kedokteran, Masa Depan Kesehatan Masyarakat. Dari tahun 1987
hingga tahun 1996 dia adalah angggota fakultas administrasi publik di The Evergreen State
College di Olympia, Washington. Dr Stivers menerima gelar MPA dari University of
Southern California dan Ph.D. dalam administrasi publik dan kebijakan dari Virginia
Polytechnic Institute dan State University. Sejak tahun 1979 dia telah menjadi anggota aktif
dari ASPA, melayani di dalam dewan nasional berbagai komite. Dia adalah penulis “Gender
Images in Public Administration: Legitimacy and the Administrative State” dan Stivers
menerima penghargaan dalam ajang Research Award dari Seksi tentang Perempuan di
Administrasi Publik (ASPA). Dr Stivers adalah rekan penulis Pemerintah US : “Public
Administration in an Anti-government Era”, “Bureau Men, Settlement Women: Constructing
Public Administration in the Progressive Era” dan telah dipublikasikan secara luas dalam
jurnal.
Dalam karangannya “Toward a Feminist Persepective in Public Administration
Theory” (1993) penulis Camilla Stivers melihat dari pandangan hak-hak wanita dalam
Administrasi Publik. Dalam “Feminist theory is critical of existing realities” Stivers
mendorong kita melihat gender sebagai suatu analisa penting, membuat kita meningkatkan
dan membentuk kembali pemahaman tentang dasar administrasi publik. Pendapat Stivers
perjuangan hak-hak wanita itu penting. Selain itu dalam krisis ekonomi dan kegelisahan
global, menyerukan kekhawatiran. Pandangan feminis memberikan persepektif baru untuk
memberikan konsep dan realitas krisis. Suatu konsep yang mana berisi tentang governance
dan kepemimpinan biasanya berhubungan dengan kualitas dari ketangguhan, ketegasan dan
agresivitas khususnya di dalam suatu krisis. Semua dianggap sebagai kebaikan maskulin.
Selain itu memberikan peraturan membuat kekuasaan ototiter yang dianggap jalan yang benar
untuk menyelesaikan sesuatu sebagai birokrasi yang efisien. Namun sebaliknya, ide-ide
feminis tampaknya penting untuk apresiasi pemerintahan administratif dan mengurangi
hirarkis serta lebih interaktif. Yang bukan melihat kekuasaan sebagai dominasi, perspektif
feminis menekan kapasitas dari kekuasaan (Stivers, 1993). Stivers berpendapat untuk
mengkolaborasikan dengan kepentingan bersama, bukan hanya mengikuti komando dari
sistem kontrol sentral, itu merupakan cara yang tepat untuk mengatasi semakin kompleks
tantangan yang ada di dunia. Dalam pendapat nya, kerjasama dan partisipasi akan
memungkin kan munculnya persepektif yang beragam pada materi yang kompleks. Sehingga
lebih mementingkan menjadi pelindung pada ilmu birokrasi daripada memperhatikan tentang
ketidakefisienan (Stivers, 1993).
Selain itu perspektif feminis dalam kepemimpinan di administrasi publik
mengungkapkan nilai pada New Public Management approach (NPM). NPM dikenal pada
tahun 1990an yang menekankan konsep pemberdayaan pekerja, pembuatan keputusan
desentralisasi, jaringan kerjasama dan kolaborasi. Ada beberapa alasan yang mengahalangi
ide-ide dan persepektif feminis yaitu: (1) teori dan pelaksana laki-laki dari administrasi
publik mungkin tidak menyadari bahwa ada persepektif feminis. (2) mereka mungkin sadar
namun memutuskan untuk tidak menyebutkannya karena konotasi negatif yang masih
berhubungan dengan feminism (radikalisme, tidak rasional, emosional). Untuk mengubah
persepktif negatif dari teori feminis dalam administrasi publik adalah mendorong dan
mempublikasikan penelitian lebih feminis, membuatnya lebih dikenal luas, dan
menggunakannya dalam perdebatan saat ini di lapangan. Selain mengemukakan tentang
kepemimpinan dan governance dalam kacamata pejuang hak wanita, Camilla stivers menulis
tentang “public or privat dichotomy”. Jika dilihat dari sejarahnya wanita telah diberi
kekuasaan pada sektor privat ketika kaum laki-laki telah terjun dalam dunia publik. Namun
kemajuan wanita dalam kariernya belum bisa dikatakan berhasil sepenuhnya karena pada
kenyataannya level terendah atau level dasar banyak didominasi oleh kaum wanita,
sedangkan pada level atas atau level puncak posisi yang ada jarang diisi oleh kaum wanita
sedangkan wanita yang berada pada posisi tertinggi di administrasi publik berada pada
lingkungan yang berbeda dengan lingkungan yang ditempati oleh kaun pria. Dalam essay nya
Stivers menunjukkan bahwa perspektif feminis masih berpegang teguh pada pengoperasian
dimana kebebasan masih diperuntukkan untuk kaum pria dan membatasi kebebasan kaum
wanita.
Camilla Stivers membimbing kita melalui penyelidikan mendalam dari teori
administrasi publik dan praktek menggunakan apa yang dia sebut sebagai "lensa gender"
sebagai alat analisis, dan kontribusi penting untuk teori Administrasi Publik. Stivers
menyimpulkan dengan saran tentang bagaimana pemikiran feminis dapat membantu
mengurangi bias gender dalam teori dan praktek administrasi publik saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. (2013). Professor Michael Barzelay. Retrieved from The Heat Is Online
website: http://www.lse.ac.uk/management/people/ mbarzelay. aspx
CSU Faculty Profil Detail. Professor Camilla M Stivers, Ph.D. Retrieved from The Heat Is
Online website: http://facultyprofile.csuohio.edu/csufacultyprofile/detail.cfm?
FacultyID=C STIVERS
Gieler, Regina. (2010, May 17). A Feminist Presepective in Public Administration. PA 700.
From:http://reginagieler.myefolio.com/Uploads/A%20Feminist%20Perspective %20in
%20Public%20Administration.pdf
Graham T Allinson, “Public and Privat Management: Are They Fundamentally Alike in All
Unimportant Respects?” In Classics Of Public Administration. ed Jay M. Sharfiz and
Albert C, Hyde, 4th ed (forth worth, tex:Harcourt brace, 1997)
Hughes, Owen. E. (1998). Public Management and Administration. 3nd Ed. London:
MacMillan Press Ltd.
Moe, Ronald C. (1987). “Exploring the Limits of Privatization.”. In Classics Of Public
Administration, ed Jay M. Sharfiz and Albert C, Hyde, Orlando, FL:Harcourt Brace and
Company.
Stivers, Camilla. (1993). Gender Images in Public Administration: Legitimacy and the
Administrative State. California: sage Publications, Inc.
Shafritz, Jay M., & Hyde, Albert C. (1978). “Classical Of Public Administration”. Florida:
Harcout Brace College.
BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN TOKOH ADMINISTRASI PUBLIK
CHARLES EDWARD LINDBLOM, ABRAHAM MASLOW, ANTHONY
DOWNS,
SAMUEL KRISLOV, VALDIMER ORLANDO KEY JR
DISUSUN OLEH
Kelompok 8
Iftika Ayu A
Pinto Buana Putra
Yoga Eka C
Moch Dwie Alfian
Adhe Bagus Apriono
Ratih Gandhi H
Ajeng Yuliasti
Bagas Dwi Dharmawan
Laila Robingatu S
Markus Gumala Bandhu
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014
Charles Edward Lindblom
Charles Edward Lindblom lahir di California pada tanggal 21 Maret 1917. Beliau
adalah seorang ilmuwan yang mendalami bidang ekonomi dan politik. Beliau mendapatkan
gelar MBA ilmu ekonomi serta politik di Stanford University, lalu gelar PhD ilmu ekonomi
di Chicago University. Lindblom juga mengajar pada fakultas ekonomi di University of
Minnesota dan Yale University. Lindblom mempunyai beberapa pemikiran yang sedikit
banyak telah mempengaruhi perkembangan ilmu ekonomi, sosial dan politik dunia. Beberapa
pemikiran Lindblom diwujudkan dalam bentuk buku seperti buku “Politic, Economic and
Welfare” yang ditulis Lindblom bersama Robert Dahl. Karya Lindblom yang lainnya adalah
buku “The Policy-Making Process” dan “The Science of Muddling Through”.
Salah satu pemikiran Lindblom adalah tentang struktur kontrol sosial dan organisasi.
Lindblom membedakan kontrol tersebut dalam jenis kontrol unilateral (totalitarian, hierarki
dan birokrasi) dan kontrol multilateral (pasar dan poliarki). Menurut Lindblom dalam (Brian
& Jos. 1989), keuntungan dari birokrasi adalah adanya efektivitas, di mana sejumlah kecil
orang dapat mengkoordinasi kegiatan dari banyak orang. Namun birokrasi juga mempunyai
kekurangan di mana birokrat juga merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu, dan
mereka mungkin bersedia untuk mengorbankan tujuan yang lebih utama untuk kepentingan
organisasi mereka sendiri. Hal lainnya adalah adanya internal "red tape", keengganan untuk
membuat keputusan, kekakuan dan tidak fleksibel, impersonalitas, serta sentralisasi berlebih.
Lindblom dalam (Brian & Jos. 1989) berpendapat bahwa kontrol multilateral seperti
menyerahkan kontrol pada pasar menujukkan perhitungan yang rasional. dengan memberikan
informasi yang diperlukan untuk membuat pilihan rasional tentang nilai pertukaran yang
ditawarkan. Namun, ia mengakui bahwa konsep kontrol pasar ini tidaklah sempurna. Ada
kemungkinan terjadi kegagalan (market failure) di mana pasar gagal untuk menghasilkan
hasil yang optimal karena pasar tergantung pada siklus fluktuasi dan adanya persaingan tidak
sempurna. Oleh karena itu Lindblom menyarankan tetap ada campur tangan dari pemerintah
untuk mengendalikan situasi pasar.
Lindblom juga mengembangkan pemikiran tentang proses pembuatan/pengambilan
keputusan kebijakan publik. Lindblom (Islamy, 1988) menguraikan gagasannya melalui buku
“The Science of Muddling Through”, tentang salah satu model yang menjelaskan seluk beluk
proses pembuatan kebijakan publik yang disebut “disjointed incrementalism” atau disebut
dengan model inkremental. Lindblom dalam (Brian & Jos. 1989) mencetuskan model
inkrementalisme yaitu model pembuatan kebijakan dimana kebijakan yang digunakan adalah
variasi/perbaikan dari kebijakan yang telah digunakan sebelumnya. Incrementalism berfungsi
untuk menyederhanakan proses pengambilan keputusan dengan cara berikut :
Membatasi jumlah alternatif yang dipertimbangkan, karena hanya sedikit berbeda dari
praktek sebelumnya.
Memungkinkan pembuat keputusan untuk mengandalkan pengalaman sebelumnya dalam
memberikan keputusan .
Mengelola risiko dengan melakukan perbaikan atas kekurangan dari kebijakan
sebelumnya.
Karena diambil berdasarkan berbagai analisis maka sangat tepat diterapkan bagi
negara-negara yang memiliki struktur mejemuk. Model ini menjadi pilihan dan banyak
dilakukan dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik karena seringkali para
pengambil keputusan dihadapkan pada situasi kurang baik seperti kurang cukup waktu,
kurang pengalaman, dan kurangnya sumber-sumber lain yang dipakai untuk analisis secara
komprehensif. Teori ini dapat dikatakan sebagai model pengambilan keputusan yang
membuahkan hasil terbatas, praktis dan dapat diterima.
Namun tetap saja sebagai suatu teori, model inkrementalisme ini memiliki beberapa
kelemahan. Ada beberapa kelemahan dalam teori inkremental yang disebutkan oleh Yehezkel
Dror (1968), yaitu pencetus teori pengamatan terpadu (mixed scanning theory), antara lain :
1. Keputusan – keputusan yang diambil akan lebih mewakili atau mencerminkan
kepentingan dari kelompok yang kuat dan mapan sehingga kepentingan kelompok lemah
terabaikan.
2. Keputusan diambil lebih ditekankan kepada keputusan jangka pendek dan tidak
memperhatikan berbagai macam kebijakan lain.
3. Di negara berkembang teori ini tidak cocok karena perubahan yang inkremental tidak tepat
karena negara berkembang lebih membutuhkan perubahan yang besar dan mendasar.
4. Gaya inkremental dalam membuat keputusan cenderung menghasilkan kelambanan dan
terpeliharanya status quo.
Abraham Maslow
Abraham Maslow adalah seorang psikolog yang cukup dikenal di dunia. Maslow lahir
di Brooklyan, New York pada tanggal 1 april 1908. Ia dibesarkan dari keluarga yahudi rusia
yang tidak mengenyam pendiidkan tinggi. Pada awalnya maslow mengenyam pendidikan di
City College of New York, disana ia mengambil pelajaran hukum karena untuk memenuhi
keinginan orang tuanya. Namun demikian, ia sering mengikuti kuliah di WIsconsin dengan
mengambil mata kuliah psikologi. Ia menerima gelar BA pada tahun 1930, gelar MA pada
tahun 1931, dan Ph.d pada tahun 1934. Selama di Wiscinson Maslow dibimbing oleh Harry
Harlow yang merupakan seorang psikolog yang terkenal karena karyanya tentang monyet
rhesus dan perilakunya. Itu salah satu sebab Maslow mengembangkan melihat dominasi
primata dan seksualitas. Selama di Wisconsin Maslow menikahi sepupunya sendiri yaitu
Bertha dan mempunyai dua orang anak perempuan.
Maslow kembali ke New York pada tahun 1935 untuk melanjutkan studinya di
Universitas Kolombia dibarengi dengan bekerja di El Thorndike dan semakin memperdalam
tentang minatnya seksualitas manusia. Pada 1937 ia kembali ke Brooklyn Collage untuk
bekerja sebagai tenaga pengajar disana. Pada tahun 1951 maslow pindah ke Brandeis
University sebuah universitas riset dimana ia menduduki posisi di departemen psikologi.
Posisinya ini memudahkan dia untuk fokus pada karya teoritisnya. Disana maslow bertemu
dengan Kurt Goldstein yang memperkenalkannya dengan teori aktualisasi diri.
Karya maslow yang paling terkenal yaitu tentang konsep kebutuhan dasar manusia.
Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur yang diperlukan manusia dalam memenuhi
keseimbangan antara psikologis dan fisiologis. Menurutnya diperlukan suatu skala prioritas
yang digunakan dalam setiap pemenuhan kebutuhan manusia. Setiap manusia memiliki
kebutuhan dasar, pada dasarnya kebutuhan tersebut sama namun karena adanya pengaruh
budaya maka hal itu membuat suatu perbedaan dalam bentuk bentuk dari kebutuhan tersebut.
Ada 5 hirarki kebutuhan dasar menurut Maslow, yaitu:
1. kebutuhan Fisiologis (The physiological needs)
Kebutuhan Fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar guna
mempertahankan hidupnya secara fisik. Contohnya adalah kebutuhan untuk
menghilangkan rasa lapar dan haus dengan cara makan dan minum.
2. Kebutuhan Keamanan (The safety needs)
Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi, maka kebutuhan selanjutnya yang timbul
adalah kebutuhan keamanan dimana setiap manusia membutuhkan akan rasa aman untuk
menjalani kehidupannya. Rasa aman yang dimaksud adalah bebas dari rasa ketakutan yang
dirasa mengancam keselamatan hidup manusia.
3. Kebutuhan Cinta dan Kasih Sayang (The love needs)
Setiap manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang memiliki rasa kasih sayang
antar manusia. Maslow menyatakan bahwa orang mencari untuk mengatasi perasaan
kesepian dan keterasingan. Hal tersebut mengakibatkan timbul rasa ingin memiliki satu
sama lain, contohnya memiliki teman, keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-
lain.
4. Kebutuhan menerima penghargaan (The esteem needs)
Setelah ketiga kebutuhan diatas terpenuhi maka timbul kebutuhan untuk mendapatkan
penghargaan dari orang lain. Manusia pada dasarnya ingin dianggap penting dan diakui
keberadaannya sebagai individu.
5. Kebutuhan aktualisasi diri (The self-actualization needs)
Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan manusia untuk menunjukan kemampuan
dan kebolehannya.
Anthony Downs
Pada umumnya terdapat empat jalan pemikiran yang berbeda mengenai biro.
Pertama, kepemimpinan karismatik (Weber. 1947), kekuasaan dan kekuatan seorang
pemimpin yang berdasarkan daya tarik individual (kharisma) yang dimilikinya sebagai
contoh kepemimpinan gereja katholik di Vatikan. Kedua, memenuhi kebutuhan (Anthony
Downs. 1967), sebuah biro dibentuk dari satu atau beberapa kelompok yang ada dalam suatu
masyarakat untuk menjalankan fungsi yang telah disepakati guna memenuhi kebutuhan
lelompok tersebut. Ketiga, biro baru dapat memisahkan diri dari keberadaan suatu biro lain,
sebagai contoh angkatan udara dari tentara setelah Perang Dunia II (Anthony Downs. 1967),
hal ini sering terjadi dalam sebuah lembaga baik pemerintahan maupun organisasi swasta,
biasanya dimaksudkan untuk mengoptimalkan fungsi ataupun kinerja biro. Keempat,
kewirausahaaln (Anthony Dows, 1967).
Dari keempat macam pemikiran tersebut diperoleh tiga kesamaan yakni awalnya
dominasi oleh advokat (pembela) dan kaum fanatik, secara normal melewati fase
pertumbuhan awal yang cepat dan harus segera mulai mencari sumber dukungan dari luar
agar tetap bertahan(Anthony Downs. 1967). Dapat kita lihat bahwa biro pada dasarnya
memiliki sifat yang rapuh dan rentan terhadap kondisi atau situasi yang cepat mengalami
perubahan. Karena suatu biro muncul dari muncul dari suatu kelompok kecil kaum fanatik
yang memiliki suatu ide tertentu dan dengab sifat kefanatikannya tersebut suatu biro mudah
sekali melepaskan diri dari biro yang lain. Dan bahkan biro tersebut mudah sekali tumbang
ketika tidak mampu lagi mendemonstrasikan pelayanan atau kebutuhan dari anggotanya.
Oleh karena itu biro baru dituntut untuk sesegera mungkin mencari dukungan yang potensial
untuk menguatkan biro tersebut agar terus bertahan. Dominasi dari advokat (pembela) atau
kaum fanatik dalam biro baru biasanya terdapat perjuangan untuk mendapatkan otonomi
yang dapat terjadi dengan cepat atau selama jangka waktu tertentu (panjang).
Dinamika pertumbuhan (penurunan maupun pertumbuhan) dalam biro berakar dari
faktor eksogen lingkungannya. Pertumbuhan dari dua atau tiga kali kali ukuran biro dalam
waktu yang singkat dapat merubah dengan cepat semua struktur dan karakter. Pertama,
dominasi dalam biro, ketika sebagian pekerja menempati posisi kunci dalam sebuah biro
dengan satu tipe khusus (yakni pemelihara, pendaki/ orang yang ingin naik jabatan dan
lainnya) kemudian mendominasi (Anthony Downs. 1967). Hal ini bisa saja terjadi dalam
sebuah biro yang cenderung kharismatik sehingga mudah bagi mereka untuk menanamkan
suatu paham atau kebiasaan tertentu terhadap orang lain. Namun dominasi ini tidak bisa
menjamin kelangsungan hidup suatu biro, karena ketika biro tidak dapat menjawab
kebutuhan anggota lainnya maka bukan tidak mungkin akan ditinggalkan oleh para pembela
maupun kaum fanatiknya. Kedua, efek percepatan pertumbuhan yakni pertumbuhan yang
cepat memberikan kesempatan untuk promosi dalam beberapa periode waktu yang diberikan,
sehingga menarik tingginya jumlah pendaki atau orang yang ingin naik jabatan (Anthony
Downs. 1967). Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan sumberdaya manusia yang
produktif dan inovatif, karena untuk mencapai percepatan pertumbuhan diperlukan skill dan
inovasi tinggi baik secara individu maupun atas nama suatu biro mengingat banyak terdapat
pesaing yang memiliki tujuan yang sama atau bahkan ingin menjatuhkan pegawai atau biro
lainnya. Ketiga, rem rentang percepatan yang meliputi resistensi terhadap pertumbuhan lebih
lanjut, permusuhan dan antagonisme dari para pesaing, sulit untuk menghasilkan
pertumbuhan yang lebih besar, dan terdapat konfik antarpendaki yang memberikan
pengawasan secara internal. (Anthony Downs. 1967). Pertumbuhan awal atu fungsi sosial
lebih menjadi prioritas utama, dan kematangan para anggota menciptakan resistensi terhadap
pertumbuhan lebih lanjut. Keempat, pertumbuhan kualitatif yakni insentif yang lebih tinggi
dan promosi simultan(Anthony Downs. 1967). Pertumbuhan kualitativ ini lebih mengarah
pada pengkondisian sistem internal dalam sebuah biro agar tercipta kekokohan dalam tubuh
biro. Selain itu diperlukan kemampuan terbaik dari individu maupun kelompok agar lebih
optimal.
Alasan utama mengapa biro pada dasarnya berusaha untuk melakukan ekspansi
diantaranya menarik personil yang memiliki kemampuan tinggi; menyediakan peningkatan
tenaga, pendapatan dan prestise; mengurangi konflik internal; meningkatkan kemungkinan
kelangsungan hidup; pertumbuhan sebagai ukuran keberhasilan(Anthony Downs. 1967). Dari
beberapa alasan tersebut jelas bahwa ekspansi biro mememiliki prestise dan keuntungan-
keuntungan tersendiri yang menjadi daya tarik baik untuk para pekerja dan terutama bagi
biro. Karena dengan berbagai keuntungan tersebut tentunya akan menjamin keberlangsungan
dan kesukseksan sebuah biro.
Usia suatu biro secara tidak langsung terhadap keberlangsungan suatu biro, karena
hak tersebut sangat berpengaruh terhadap kebijakan maupun tindakan bir). Pengaruh usia
terhadap biro diantaranya belajar memberikan performa terbaikknya dengan pengalaman,
pergeseran penekanan dari fungsi sosial bagi kelangsungan hidup, hukum meningkatkan
konservatisme, kematangan usia pegawai(Anthony Downs. 1967). Suatu biro akan menjadi
lebih efektif dengan usia yang semakin tua karena memiliki bekal pengalaman yang lebih
untuk menghadapi berbagai masalah dan situasi. Selain itu, usia suatu biro juga berpengaruh
terhadap jumlah pendukung dan loyalitas para pendukung, karena dengan kematangan usia
biro maka dapat dilihat track record suatu biro yang tentunya akan menjadi daya tarik
loyalitas para pendukungnya atau justru sebaliknya.
Pada umumnya, organisasi mati karena gagal untuk melakukan fungsi sosial yang
cukup penting. Berikut beberapa alasan sebuah biro dapat mati : terjadi penurunan penting
dalam melakukan fungsi yang spesifik, tidak dapat melakukan fungsi, fungsi penting diambil
alih oleh biro lain (Anthony Downs. 1967). Ketika suatu biro tidak dapat lagi menjalankan
fungsi utamanya maka dan tidak mampu lagi bersaing dengan biro lain maka kematian biro
menjadi konsekuensinya.
Biro jarang menghilang ketika telah mencapai ambang kelangsungan hidup, alasannya
diantaranya karena adanya pegeseran fungsi, tekanan client, hubungan biaya / manfaat
tersembunyi, tidak memungkinkan biro untuk saling membunuh satu sama lain, memiliki
ukuran yang sama untuk bertahan hidup (Anthony Downs. 1967). Suatu biro akan tetap
bertahan ketika memiliki kematangan usia, kapabilitas dan daya saing yang tinggi, karena
dengan semua kemampuan tersebut suatu biro dapat mengatur bebagai strategi ataupun
tindakan, misalnya mengubah misi mereka, mengupayakan loyalitas pelanggan.
Samuel Krislov
Samuel Krislov adalah profesor ilmu politik dan hukum di Universitas Minnesota. Ia
menerima gelar B.A. dan M.A. dari New York University dan gelar Ph.D. dari Universitas
Princeton.Nya daerah menarik termasuk perbandingan politik, pemerintahan, Mahkamah
Agung, proses politik dan pengadilan Israel, politik dan masyarakat. Dia juga telah menjadi
Presiden hukum dan Asosiasi masyarakat dan Asosiasi ilmu politik Midwest
Representasi birokrasi sangat berguna dalam analisis perbedaan antara “equal
opportunity” and “compensatory opportunity”.Namun sangat disayangkan bahwa kejelasan
konseptual dari apa yang telah didukung oleh compensatory opportunity dirasa tidak tepat.
Compensatory opportunity hanya menjadi slogan dari daya tarik politik ketika equal
opportunity masih sanggup mengumpulkan bantuan support yang besar. Pendukung dari
compensatory opportunity merasa mereka harus berpura-pura bahwa equal opportunity
berpengaruh terhadap compensatory opportunity.
Hasil study sepakat bahwa masalah dari keseluruhan institusi social, birokrasi public
dan representasi social mengimbangi dari kriteria “presamed merit” dan “job-skill-
related”.Meskipun demikian, tekanan dari layanan pemerintah dalam mengakomodasikan
tugas sudahbaik.Namun lama kelamaan hal tersebut akan menjadi sebuah ancaman. Dalam
penerapan nya representasi birokrasi berbeda prinsip dengan missal nya layanan publik yang
mampu dijadikan evaluasi dari public policy.
Konsep birokrasi representatif ini dibicarakan dalam konteks pola rekrutmen
seseorang ke dalam posisi administrasi publik, utamanya pada masalah samanya kesempatan
dan keterwakilan suatu populasi penduduk di dalam birokrasi. Jadi, bagaimana birokrasi
mewakili karakteristik populasi dalam kaitannya sebagai administrator kebijakan, merupakan
pertanyaan dasarnya. Sejumlah skolar menekankan pentingnya merit dalam pola rekrutmen
administrator publik, lainnya menekankan pada pentingnya mengangkat birokrat publik yang
unsur sosial dan ekonominya melukiskan karakter masyarakat di suatu wilayah.
Dalam konteks pertanggungjawaban publik ini, ilmuwan administrasi publik mencari
jalan bagaimana kekuasaan birokrat dalam mengimplementasikan kebijakan publik dapat
lebih responsif kepada kepentingan publik. Secara lebih jauh, sifat responsif ini mengandung
unsur-unsur demokrasi secara substansial. Dalam teori Birokrasi Representatif ini, sifat
responsif tersebut datang dari refleksi komposisi pejabat publik berdasarkan ras, etnis,
gender, dan sejenisnya.
Teori Birokrasi Representatif menyediakan alternative menarik akibat jawabannya
atas persoalan bagaimana birokrasi bekerja tatkala tidak ada paksaan politik dari pemerintah.
Representasi adalah proses yang muncul baik di aras politik maupun birokrasi. Dalam
lembaga-lembaga politik (parlemen, partai politik) representasi kerap merupakan trade-mark-
nya. Legislatif ada guna merepresentasikan pilihan publik. Namun, birokrasi kerap tidak
dipandang sebagai sebuah lembaga representasi masyarakat. Birokrasi kerap hanya dikaitkan
aspek merit system belaka.
Valdimer Orlando Key Jr
V.O. Key. Jr atau Valdimer Orlando Key Jr lahir pada 31 Maret 1908 di Austin, Texas,
AmerikaSerikat. Ia merupakan putra dari V.O dan Olive (Terry) Key. Ayahnya merupakan
seorang pengacara terkemuka. Dia menghabiskan sebagian hidupnya di Lamesa. Kemudian
Key kuliah di Mc Curry selama 2 tahun lalu melanjutkan ke University of Texas dimana ia
mendapatkan gelar B.A dan M.A pada tahun 1929 dan 1930. Kemudian pada tahun 1934 ia
lulus dari University of Chicago dengan gelar Ph.D sebagai ilmuwan politik. Pada saat yang
sama ia bertemu dengan Luella Gettys yang juga merupakan seorang ilmuwan politik,
kemudian mereka menikah pada 27 Oktober 1934.
Key juga merupakan anggota Phi Beta Kappa. Ia mengajar di University of
California, Los Angeles (1934-1936). Setelah mengajar singkat di University of Chicago, ia
dipindahke Washington D. C pada tahun 1936. Lalu ia mengajar di Yale (1949-1951), dan
Harvard University (1951-1963). Kemudian dibawah pimpinan Presiden John F. Kennedy,
Key adalah seorang anggota dari Komite di Political Campaign Expenditures. Setelah itu ia
mulai membuat beberapa buku dan artikel yang kemudian menjadi nomer satu pada saat itu.
Salah satu karyanya yaitu Southern Politics in State and Nation (1949) menang dalam
Woodrow Wilson Award of the American Political Science Association. Karyanya yang satu
ini juga merupakan prionir penggunaan teknik kuantitatif dan merupakan karya klasik dalam
studi ilmu politik.
Key juga menulis Politics, Parties, and Pressure Groups (1942) yang berisi analisis
tentang bagian-bagian penting yang tersusun dalam proses politik, A Primer of Statistics for
Political Scientist (1954), American State Politics: An Introduction (1956), Public Opinion
and American Democracy (1961) yang berisikan tentang Key yang menganalisis hubungan
antara perubahan opini public dan system pemerintahan, dan The Responsible Electorate:
Rationally in Presidential Voting 1936-60 (1966) dimana Key menganalisis bahwa opini
public dan pengadaan kembali pemilu memperlihatkan adanya rasionalitas dan kepercayan
dalam suara pemilih (rakyat). Key meninggal pada 4 Oktober 1963 di Brookline,
Massachusetts, dan pada saat itu Key merupakan Profesor Jonathan Trumbull of American
History and Government di Harvard University.
V.O. Key. Jr menganggap bahwa para penyusun anggaran hanya menyibukkan dirinya
dengan urusan teknis dan prosedur untuk menetapkan anggaran. Hal inilah yang membuat
mereka melupakan urusan yang seharusnya menjadi dasar dari masalah anggaran yaitu “On
what basis shall it be decided to allocate x dollars to activity A instead of activity B?” dan
berkutat pada prosedur anggaran. Berdasarkan hal tersebut, masalah penganggaran kemudian
menjadi pertanyaan yang diperdebatkan, apakah masalah yang berhubungan dengan anggaran
ini menjadi bidang dari ilmu ekonomi atau politik.
Adanya alternative pilihan kemana anggaran harus dialirkan membuat masalah
penganggaran lebih relevan pada bidang ilmu ekonomi. Penyusunan anggaran tidak akan
memiliki pemasukan anggaran yang cukup untuk membiayai semua permintaan pengeluaran,
dia harus memilih anggaran harus dialokasikan ke sector mana yang memiliki manfaat social
maksimal. Untuk memperkirakan anggaran, penyusun biasanya menetapkan standar-standar
tertentu untuk mengukur tingkat efisiensi penyerapan anggaran tersebut. Tetapi, dengan
memaksimalkan efisiensi tersebut maka esensi dari penganggaran, untuk mendapatkan
manfaat social secara maksimal, justru terancam. Dengan anggaran yang dibuat seefisien
mungkin ini mustahil manfaat social dapat didapat dengan maksimal. Justru sering kali
manfaat social ini dikorbankan demi efisiensi. Permasalahan ini tidak mendapat perhatian di
mana administrator public justru berkosentrasi pada pendapatan anggaran (seperti pajak)
yang benar-benar diawasi secara serius tetapi melupakan sisi pengeluaran anggaran.
Dalam teori pengaruh yang lebih dekat pada politik, dalam penyusunan anggaran
biasanya administrator public mendapat tekanan danpengaruh dari kelompok - kelompok
yang memiliki kepentingan dengan anggaran tersebut. Pengaruh-pengaruh tersebut kemudian
dipilih yang paling efisien sebagai tujuan anggaran. Namun lagi-lagi teori ini memicu
pertentangan. Ketika pengaruh-pengaruh tersebut memang bertujuan untuk public mungkin
anggaran akan efisien, tapi bagaimana ketika pengaruh-pengaruh tersebut mengarah pada
ketidakadilan yang justru menyebabkan inefisiensi. Penyusun anggaran bebas menggunakan
teori mana yang akan digunakan, baik teori ekonomi ataupun teori tekanan, namun sudah
seharusnya bahwa anggaran merefleksikan kepentingan publik.
DAFTAR PUSTAKA
Brian R. Fry & Jos C.N. Raadschelders (1989). Mastering Public Administration: From Max
Weber to Dwight Waldo. Chatham, N.J : Chatham House.
Downs, Anthony (1967). Inside bureaucracy. The RAND Corporation.
Islamy, M. Irfan (1988). Materi Pokok Kebijakan Publik. Jakarta; Universitas Terbuka.
Weber, Max (1947).The Theory of Social and Ecinomic Organization. New York : Free Press
of Glencoe.
Key, V. O., Jr. (2008). International Encyclopedia of the Social Sciences. (Ed. William A.
Darity, Jr. Vol. 4. 2nd ed. Detroit: Macmillan Reference USA, p258-259)
BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN TOKOH ADMINISTRASI PUBLIK
DENIS F THOMPSON, FREDERICK C. MOSHER, MORTON GODZINS,
VERNE B. LEWIS
DISUSUN OLEH
Kelompok 9
Ajeng Yuliana
Ardhian Rizqi
Arman Kurniawan
Erytrina Cania
Febri Romadhona
Insan Wise Waluyo
Pujiati Rahayu
Randy Bagus Pratama
Rizka Nadia
Susi Apriyanti
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GADJAHMADA
2014
Denis F Thompson
Denis F Thompson menyampaikan beberapa isu dalam membahas
etika yang dianggap dilematis dan kontroversi yaitu antara etika netralitas
dan struktur serta antara etika absolut dan relatif.
Etika Netralitas dan Etika Struktur
Apakah etika dalam administratif itu mungkin? Bantahan yang
paling serius dari pertanyaan tersebut muncul dari dua konsepsi umum
mengenai peran individual dalam suatu organisasi yang disebut dengan
etika netralitas dan etika struktur. Kedua pandangan ini dapat disangkal
apabila etika administratif itu mungkin dilakukan.
1. Etika Netralitas
Administratror harus menjalankan perintah atasan, dan kebijakan
instansinya serta pemerintah yang mereka layani. Menurut pandangan ini,
administrator secara etika harus netral. Mereka tidak diharapkan untuk
bertidak dalam prinsip moral apapun, tetapi memberikan efek kepada
prinsip apapun yang tercemin kedalam perintah dan kebijakan. Etika
netralitas tidak menyangkal bahwa administrator sering menggunakan
penilaian mereka sendiri dalam pembuatan kebijakan. Tetapi tujuan
mereka harus menemukan kebijakan yang diinginkan oleh orang lain.
Etika netralitas menggambarkan administrator yang ideal sebagai
instrument yang bisa diandalkan untuk mencapai tujuan organisasi
tersebut, tanpa memasukkan nilai-nilai pribadi kedalam proses mencapai
tujuan tersebut.
Terdapat tiga kritik yang menentang etika netralitas. Pertama,
karena etika ini meremehkan kebijaksanaan administrator, hal ini
menghalangi akuntabilitas administrator oleh citizen. Etika netralitas
membuktikan bahwa tidak ada bimbingan untuk berbagai moral substantif
dalam pembuatan keputusan dimana administrator biasanya ikut serta
didalamnya. Hal ini menyekat administrator dari akuntabilitas eksternal
terhadap konsekuensi keputusan mereka. Kritik kedua terpusat pada klaim
bahwa officeholding menyiratkan persetujuan tugas kantor seperti yang
didefinisikan oleh organisasi. Sementara itu mungkin lebih mudah untuk
mundur dari jabatannya daripada dari citizenship, hal ini untuk banyak
pejabat begitu sulit bahwa kegagalan untuk melakukannya hal itu tidak
dapat diambil untuk menunjukkan persetujuan dari semua organisasi.
Ketiga, dinamika pengambilan keputusan secara kolektif membuat pekerja
lebih teliti dari mengundurkan diri. Banyak keputusan dan kebijakan yang
menunjukan kompromi kepada para pekerja tersebut. Untuk alasan ini dan
yang lainnya, pekerja mungkin akan tetap bekerja di kantor meskipun
menolak kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Etika netralitas ini
mengabaikan pertimbangan yang penting bahwa etika administrator
harus mengambil bagian dalam memenuhi pekerjaan saat dikantor.
Pertama, sebagai pekerja kita memiliki kewajiban kepada kolega, instansi,
dan pemerintah sebagai keseluruhan. Dengan menerima kantor dan tugas
kolektif dalam organisasi, kita memberikan alasan lain untuk
mengandalkan kita dalam kooperasi yang berkelanjutan. Kolega kita akan
memulai program dan membuat komitmen dengan kita. Bila kita
mengundurkan diri dari pekerjaan kita, maka hal itu akan menimbulkan
kekacauan dalam kegiatan organisasi yang lainnya. Kemudian, etika
netralitas mendistorsi pekerjaan dari administrator public dengan
membatasi tindakan mereka menjadi dua, mematuhi atau mengundurkan
diri. Masalah yang lain yaitu bagaimana kita dapat memberi ruang untuk
pekerja untuk perbedaan pendapat tanpa merusak kapasitas dari
organisasi untuk mencapai tujuannya. Jika organisasi mengejar tujuan
dengan cara demokrasi public, perbedaan pendapat secara individual
dapat menumbangkan proses demokrasi itu sendiri.
1. Etika Struktur
Etika yang menempatkan pimpinan organisasi sebagai penanggung
jawab atas semua keputusan dan kebijakan, bukan individu aparatnya.
Oleh karena itu, jika terjadi kesalahan sebagai akibat dari keputusan atau
kebijakan yang telah diambil, maka pimpinan harus menanggung
resikonya. Permasalahan yang kemudian muncul adalah kinerja organisasi
akan berjalan labil, karena pimpinan akan sering diganti.
Etika Absolut dan Etika Relatif
1. Etika absolut
Etika yang menempatkan norma-norma universal sebagai penuntun
perilaku dan standar dalam pembuatan keputusan. Norma-norma ini
biasanya bersumber dari ajaran agama atau filsafat hidup. Norma-norma
tersebut perlu dipertahankan sebagai pertimbangan logis dalam
pembuatan keputusan. Misalnya dalam pelayanan publik pemberi layanan
maupun penerima layanan harus menjunjung kejujuran dan keadilan.
Kejujuran dan keadilan merupakan nilai yang diajarkan dalam agama dan
bersifat universal. Mereka yang memegang prinsip etika absolut disebut
sebagai kaum absolutis.
2. Etika Relatif
Antithesis terhadap pandangan kaum absolutis datang dari kaum
yang sering dinamakan kaum relativis. Kaum relativis memandang bahwa
tidak ada universal moral, artinya etika itu relatif. Suatu norma dikatakan
baik jika memiliki konsekuensi atau outcome yang baik. Pandangan ini
menempatkan etika pada hasil nyata. Kaum relativis memandang bahwa
nilai-nilai yang universal itu dianggap etis hanya dalam kondisi dan situasi
tertentu. Misalnya berbohong itu secara universal tidak baik, namun
berbohong akan dianggap etis jika membawa hasil yang baik. Oleh karena
itu, kaum relativis percaya bahwa tidak ada nilai yang bersifat universal
jika tidak dikaitkan dengan konsekuensinya.
Demokrasi dan Pelayanan Publik : The Collective Bergaining
Frederick C. Mosher
Dengan berkembangnya paham demokrasi di Negara Amerika
Serikat telah melahirkan berbagai macam peraturan yang dipengaruhi
oleh nilai – nilai demokrasi. Paham ini memungkinkan jalannya pelayanan
publik mendapat aspirasi, tidak hanya secara otoriter dari pemerintah–
dalam hal ini adalah manajemen pemerintah – tetapi juga dari masyarakat
dan sektor privat bahkan dari pekerja pemerinth itu sendiri.
Dikeluarkannya kebijakan Welch Act of 1928, The Postmaster Act of 1938,
The Revisions of the Retirement Act telah menjadikan tonggak atas
pengaruh Merit System untuk menjadikan pelayanan publik lebih baik.
Pelayanan publik seharusnya menjamin kedudukan jabatan seseorang dan
dukungan dari sistem yang memungkinkan terhadap suatu kebijakan yang
personal. Untuk itu serikat pekerja pemerintah memberikan pengaruhnya
yang kuat dalam organisasi pelayanan publik. Tidak hanya serikat pekerja
yang memberikan pengaruh tetapi masyarakat secara umum dan
kepentingan–kepentingan politik juga memberikan pengaruhnya dalam
organasasi Publik.
Tetapi yang terjadi adalah serikat pekerja pemerintah tidak
mendapat jaminan atas aspirasi kolektif yang tidak sesuai atas Wagner
Act. Hak yang diberikan untuk pekerja dinilai sebagai tekanan untuk
menghilangkan atas hak lain pekerja, misalnya dengan memberikan
insentif untuk pekerja seperti gaji yang tinggi dengan jam kerja yang
relatif rendah dan posisi jabatan yang aman membuat pekerja menjadi
apatis dan meminimalkan posisi bergaining pekerja terhadap manajemen.
Untuk mencapai keefektivitas dari sistem Collective Bergaining
dilihat dari antara pihak manajemen dan pekerja memiliki kolaborasi
kekuasaan untuk memberikan pengaruh terhadap masyarakat. Presiden
John F.Kennedy menetapkan memorandum untuk menetapkan satuan
tugas dimana pekerja diberikan hak untuk memanajemen dan adanya
penyerapan aspirasi dari pekerja secara kolektif untuk memberikan
manfaat terhadap pelayanan.
Tetapi prinsip demokrasi yang ditanamkan tidak semua dapat
diterapkan karena antara pekerja sektor publik dengan pekerja sektor
privat adalah berbeda. Karena terdapat nilai dan norma yang tidak bisa
diterapkan lagipula sasaran dari suatu pelayanan publik berbeda dari
sasaran pelayanan privat. Manajemen Pemerintah tidak bisa mengambil
suatu kebijakan dari suara terbanyak atau hanya mengambil aspirasi
secara mentah dari suatu pihak tetapi mengakomodasi semua
kepentingan elemen masyarakat termasuk didalamnya serikat pekerja
pemerintah itu sendiri.
Sistem Pelayanan Masyarakat dan Collective Service berangkat dari
ideologi, nilai dan proses yang berbeda. Untuk itu, diperlukan suatu
negosiasi yang dapat merekonsiliasi antara kedua sistem tersebut melalui
integrasi perencanaan klasifikasi secara objektif dan bebas dari tekanan
manapun. Ini diperlukan untuk menjaga kenetralan pemerintah dan
menjadikan demokrasi berjalan secara optimal dalam pelayanan publik
agar semua kepentingan dapat terakomodasi dengan baik.
Verne B. Lewis
Verne B. Lewis merupakan tokoh yang mengemukakan mengenai
penganggaran publik yang berbasis pada teori ekonomi. Menurut beliau
hal ini dapat menjawab pertanyaan penting dalam setiap penganggaran
publik yaitu pertanyaan mengenai atas dasar apa dana dialokasikan untuk
sebuah kegiatan A dibandingan dengan kegiatan B. Terdapat tiga prinsip
yang berasal dari teori ekonomi yang dapat diterapkan dalam
pengangaran publik, yaitu :
1. Pengeluaran harus sesuai dengan biaya alternatif yang
dikorbankan. Dalam hal ini analisis anggaran merupakan
perbandingan manfaat alternatif dari penggunaan dana
alternatif.
2. Analisis inkremental meruapakan nilai-nilai tambahan yang
berasal dari pengelauaran tambahan di mana pengeluaran
tambahan untuk tujuan apapun akan menghasilakan pemasukan
yang sama.
3. Perbandingan alternatif digunakan untuk mencapai efektifitas
alternatif dalam mencapai tujuan umum.
Dalam penganggaran publik kita harus mempertimbangkan nilai
relatif di mana keputusan anggaran harus berdasarkan pada nilai relatif
yaitu pilihan yang dapat menghasilkan keuntungan lebih dibandingkan
untuk hal lainnya. Keran kita tidak bisa melakukan hal yang sama untuk
dua kegiatan untuk itu perlu dilakukan perbandingan alternatif atas
alokasi dana untuk setiap kegaiatan yang menghasilkan cost lebih besar.
Selain itu ada yang disebut sebagai analisis inkremental yaitu
analisis harus memuat perbandingan nilai relative. Pada dasarnya analisis
ini mencoba menentukan berapa banyak dana yang harus kita keluarkan
untuk sebuah kegiatan dengan menggunakan konsep marginal utility.
Apakah dana yang dikeluarkan hanya untuk satu kegiatan atau sebagian
dana dapat dialokasikan pada alternatif pilihan lain yang lebih berharga.
Kemudian terdapat apa yang disebut sebagai efektifitas relatif untuk
membandingan kegiatan yang memiliki perbedaan terlalu umum. Sebagai
contoh kegiatan militer dan bantuan ekonomi dapat dibandingakan
menggunakan efektifitas mereka dalam mencapai tujuan yang sama yaitu
perlindungan nasional.
Perumusan anggaran publik (public budgeting) dapat menggunakan
beberapa prosedur alternatif. Prosedur tersebut akan lebih memberikan
manfaat lebih apabila dikomparasikan dengan teknik budgeting yang lain,
seperti:
1. Open-end Budgeting
Beberapa negara federal mengizinkan divisi-divisinya merumuskan
single budgeting estimate untuk apapun yang subordinate official telah
putuskan. Setiap divisi bebas menentukan berapa jumlah anggaran untuk
tahun berikutnya berdasarkan pengamatan iklim politik dan ekonomi yang
ada, dengan kata lain tidak ada pembatasan dalam penganggaran di
setiap divisinya.
2. Fixed-Ceiling-Budgeting
Konsep yang diusung oleh fixed-ceiling-budgeting berlawanan
dengan open-end budgeting, di dalam fixed-ceiling-budgeting presiden
dan kongres menganggap kondisi semua divisi sama sehingga dana yang
akan dianggarkan bagi setiap divisi akan sama pula. Setiap divisi tidak
diperbolehkan untuk merumuskan anggaran melebihi angka yang telah
ditetapkan sebelumnya.
3. Increase-decrease analysis
Teknik budgeting ini berfokus pada kenaikan atau penurunan
anggaran dari tahun ke tahun dan biasanya lebih berfokus pada kenaikan
anggaran. Anggaran dari tahun sebelumnya akan dibandingkan dengan
anggaran pada tahun yang akan datang lalu akan dilihat apakah
mengalami kenaikan atau penurunan. Sayangnya, teknik ini tidak
memperhatikan peningkatan nilai atau harga dari tahun ke tahun.
4. Priority Listings
Subordinate dalam teknik ini perlu menggunakan prioritas di dalam
penyusunan anggarannya. Pemangkasan anggaran untuk hal-hal yang
tidak penting sangat mungkin terjadi di dalam teknik ini.
5. Item by item control
Anggaran yang akan dibuat oleh subordinate terlebih dahulu akan
diperiksa dan perlu disetujui oleh atasannya. Atasan bertugas untuk
mengontrol satu per satu item yang akan dianggarkan. Kelemahan dari
teknik ini adalah terkadang atasan tidak mengetahui keadaan riil di
lapangan.
Sistem Amerika sebagai Mekanisme Tunggal
Morton Godzins
Chaosnya Pemerintahan Amerika
Pemerintahan yang demokratis seharusnya merupakan
pemerintahan yang sederhana, jika tidak sederhana dalam proses
setidaknya struktur yang cukup mudah untuk memahami warga negara.
Secara sederhana mengetahui pentingnya kondisi ideal demokrasi yaitu
penduduk memahami tentang institusi publik. Tanpa pemahaman ini,
publik tidak dapat membuat keputusan atau pendapat yang cerdas,
terutama tidak dapat mengetahui bagaimana cara memberikan
penghargaan kepada para pemberi suara yang melakukannya dengan
baik dan memberi sanksi kepada mereka yang melakukannya dengan
tidak baik. Akan tetapi pemerintahan U.S. tidaklah semudah itu baik dari
segi struktur maupun proses.
Struktur dalam pemerintahan U.S adalah tidak beraturan atau
kacau. Sebagai tambahan untuk pemerintahan federal dan 50 negara
bagian, terdapat 18.000 kota madya,3.000 counties, dan masih banyak
lainnya yang bahkan tidak ada yang dapat menghintung jumlah pastinya
secara akurat. Terdapat 92.000 pengadaan pajak pemerintahan dalam
negara. Warga negara terdesak untuk berada dalam piramida
pemerintahan. Sebagai contoh terdapat salah satu penginapan Park
Forest di negara bagian Illinois yang harus membayarkan pajak pada
beberapa pemerintahan.
Banyaknya pemerintah tidak mencerminkan aktivitas yang
sederhana, hal ini menyebabkan tidak ada pembagian kerja melalui divisi-
divisi yang terbagi secara rapi dan jelas. Fungsi dari pemerintah Amerika
adalah pembagian fungsi. Terdapat suatu hal yang tidak termasuk dalam
fungsi negara federal, negara bagian, dan pemerintahan lokal dalam hal
yang sebenarnya amat penting yaitu pendidikan. Pendidikan merupakan
suatu hal yang unik, eksklusif dan merupakan tanggung jawab
pemerintahan daerah. Hampir setengah dari keseluruhan pemerintahan di
U.S. adalah sekolah distrik ( daerah ), meskipun terdapat 37.000 sekolah
distrik bukan berarti fungsi pendidikan sepenuhnya dilimpahkan kepada
daerah serta merupakan tanggung jawab daerah sepenuhnya. Sekolah
distrik juga tidak dapat terlepas dari peran negara dan kota baik dalam
menentukan standar kesehatan, perlindungan polisi terhadap siswa, dan
pengumpulan pajak pada distrik (daerah).Selain itu negara federal juga
ikut andil menyediakan fasilitas baik berupa bangunan, buku hingga susu
dan makanan siang di tahun 1950.
Fungsi pendidikan menjadi tanggungjawab bersama terlepas dari
hubungan politis didalamnya antara kota, negara federal, hingga negara
bagian. Hal inilah yang menciptakan ketidakteraturan atau kekacauan
dalam pemerintahan karena tidak ada tanggung jawab yang jelas kepada
siapa warga dapat menuntut pertanggungjawaban suatu kasus.
Kekacauan struktur dan fungsi akan membawa kekacauan politik secara
beriringan, hal ini terjadi karena dalam proses politik melibatkan
administrasi didalamnya, apabila terdapat hambatan dalam proses
administratif maka akan membawa dampak pula pada proses politik,
contoh dalam prosedur legislatif.
Masih terdapat kesalah pahaman dalam lip service yang sering
dibayar ke tingkat tinggi dari kolaborasi antara unit pemerintahan di
sistem amerika. Dan ada beberapa sarjana yang telah memperpanjang
untuk membawa bersama-sama warga negara untuk pembentukan
spesial ad hoc pemerintah untuk meningkatkan listrik, jalan, drainase,
irigasi atau layanan lain.Yang perusahaan swasta yang kemudian mampu
mengumpulkan dana dan melakukan pekerjaan untuk pemerintah mereka
sangat membantu untuk membangun.
Sektor swasta, semi-pemerintah, pemerintah daerah begitu terlihat
sama satu sama lain yang pejabat publik bahkan tidak bisa membedakan
antara mereka. Pejabat daerah percaya mereka melayani tujuan umum
sementara mempromosikan kepentingan pribadi. Setidaknya mereka
merasa nyaman untuk bertindak seolah-olah mereka lakukan dan dalam
banyak kasus mereka tidak akan tetap pejabat publik jika mereka
mencoba untuk menarik garis yang jelas pemisahan.
Kasus sederhana mengenai dukungan umum kepada swasta dan
kuasi, kegiatan masyarakat adalah orang-orang di mana dana publik yang
terlibat.Anggaran negara atau kota kota, misalnya, mungkin berisi
pemberian untuk masyarakat. Langkah dihapus dari kasus langsung
bantuan yang orang-orang dari pemerintah daerah yang terdaftar sebagai
anggota aktif dari pribadi atau kuasi organisasi swasta.
Negara federal lokal kolaborasi adalah modus karakteristik tindakan.
Ahli Federal tersedia untuk membantu dalam pembangunan sebuah
penjara lokal, untuk meningkatkan sistem pemurnian air setempat, untuk
meningkatkan pemeriksaan, untuk menyediakan standar untuk negara
dan penduduk setempat, untuk menghasilkan tanah menggunakan
rencana bangunan. Serikat dan pemukiman, di sisi lain, mengambil
tanggung jawab formal yang penting dalam pengembangan program-
program nasional untuk energi atom, pertahanan sipil, peraturan
perdagangan, dan perlindungan kemurnian dalam makanan dan obat-
obatan. dari akuntansi melalui zonasi dan administrasi.
Fungsi pemerintah tidak memiliki lapisan.Melainkan, mereka semua
campur aduk dan tidak dalam sebuah kerangka. Kecuali melihat sistem
federal amerika dari sudut pandang ini, ia akan kehilangan yang paling
penting dari semua: sistem, efek, satu pemerintah yang melayani
masyarakat umum untuk sebuah akhir.
DAFTAR PUSTAKA
Shfritz, Jay M., & Hyde, Albert C. (1978). “Classics Of Public
Administration”. Florida : Harcourt Brace College.
Keban, Yeremias T. 2008. Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik:
Konsep, Teori, dan Isu. Yogyakarta: Gava Media
BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN TOKOH ADMINISTRASI PUBLIK
DEIL S. WRIGHT, DONALD F. KETTL, PHILIP G JOYCE,
IRA SHARKANSKY
DISUSUN OLEH
Kelompok 10
Argo Pamungkas NIM 13/353669/SP/25995
Badrul Arifin NIM 13/353999/SP/26025
Joko Susilo NIM 13/352362/SP/25945
Lukman Aldi Britantyo NIM 13/353994/SP/26024
Riandani Eka Saputri NIM 13/353486/SP/25985
Stella Angga Puspita NIM 13/353685/SP/25996
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013
DEIL S. WRIGHT
Deil Spencer Wright ialah salah satu tokoh administrasi publik klasik berkebangsaan
Amerika Serikat. Beliau lahir pada tanggal 18 Juni 1930 di daerah Three Rivers, Michigan.
Beliau menyelesaikan pendidikan formalnya di Universitas Michigan dan meraih gelar
B.A./Bachelor of Arts (Political Science) pada bulan Juni tahun 1952. Dalam waktu sekitar
satu tahun tujuh bulan setelah meraih gelar sarjana, beliau kemudian meraih gelar
M.P.A/Master of Public Administration pada tahun 1954. Lalu tiga tahun berikutnya beliau
meraih gelar doktoral (Ph. D in Political Science) dengan judul disertasi “The Prestige of the
Public Service in a Metropolitan Community”. Jabatan terakhir yang diembannya adalah
sebagai professor terhormat pada University of North Carolina.
Sebagai seorang akademisi handal yang bergelut di bidang administrasi dan politik,
beliau banyak menyumbangkan pemikiran-pemikiran dan karya-karya yang berkaitan dengan
ilmu administrasi publik. Tak kurang dari seratus publikasi ilmiah yang telah beliau
selesaikan. Karya pertama beliau selesaikan bersama Morris Janowitz dan diterbitkan pada
tahun 1956 dalam Public Administration Review. Selain aktif menulis karya ilmiah, beliau
juga dikenal aktif mengikuti konferensi dan kegiatan penelitian. Salah satu kontribusi
pemikiran beliau dalam bidang administrasi publik yaitu mengenai hubungan
antarpemerintah atau disebut juga hubungan pusat dan daerah. Definisi hubungan
antarpemerintah/intergovernmental relations menurut beliau yaitu:
“The various combinations of connections, interactions, interdependencies, and
influence existing among public officials, both elected and appointed, who hold
positions in all types and levels of government, and where the prominent public
agenda items are financial, policy, and political issues.” (Dalam Shafritz dan Hyde,
1997. Halaman 579)
Dalam artikelnya Understanding Intergovernmental Relations yang dimuat dalam
Classics of Public Administration (1997) beliau memaparkan pentingnya penataan hubungan
antar level pemerintahan dalam suatu negara dari berbagai perspektif untuk menciptakan
keteraturan dalam penyelenggaraan urusan-urusan pemerintahan. Penataan pengelolaan dan
penyelenggaraan pemerintahan dari berbagai perspektif diperlukan terutama bagi negara yang
memiliki tingkat pluralitas dan kompleksitas daerah yang tinggi, Sebagai contoh adalah
Indonesia yang telah menerapkan pola desentralisasi pemerintahan untuk mengharmoniskan
dua aspek berlawanan namun saling terkait yaitu nilai-nilai kelokalan dan integrasi nasional.
Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan kebijakan yang agreeable, understandable,
achievable, dan implementable sehingga pemerintahan yang dijalankan suatu negara dapat
berjalan dengan sebagaimana mestinya.
Ada dua poin yang perlu digarisbawahi mengenai hubungan pusat dan daerah yaitu
time frame dan socio-cultural frame. Dalam pengimplementasiannya, time frame harus
diperhatikan karena pola hubungan yang berlaku pada masa lalu belum tentu dapat berlaku
pada masa mendatang. Time frame juga berkaitan dengan sampai kapan pola hubungan yang
diterapkan tersebut akan berlaku sesuai dengan tujuan strategis pemberlakuan pola hubungan
tersebut. Sedangkan socio-cultural frame berkaitan dengan kondisi sosio-kultural suatu
tempat yang berbeda dengan tempat lain. Hal ini membutuhkan pengaturan pola hubungan
yang berbedapula.. Wright sendiri membagi delapan fase mengenai pola hubungan pusat dan
daerah di Amerika Serikat berdasarkan dua poin umum diatas yaitu fase konflik, fase
kooperatif, fase terkonsentrasi, fase kreatif, fase kompetitif, fase kalkulatif, fase kontraktif,
dan fase koersif-kolase. Selain itu, beliau juga menyumbangkan pemikiran mengenai
pengaruh globalisasi terhadap kepemerintahan. Dikatakan beliau bahwa globalisasi
menjadikan pelaku-pelaku ekonomi bergerak secara langsung hingga masuk ke daerah-daerah
sehingga dibutuhkan respon yang cepat pula. Hal ini mendorong setiap daerah untuk
menyelenggarakan otonomi daerah agar tercipta penyelenggaraan pemerintahan yang
responsif terhadap perkembangan global. Karena pola sentralistik tidak dapat merespons
secara cepat kebutuhan daerah dalam menyikapi dampak globalisasi.
Masih banyak lagi pemikiran-pemikiran beliau. Dengan sumbangsih beragam karya
dan pemikiran-pemikirannya, beliau mendapatkan banyak penghargaan salah satunya The
Herbert Kaufman Award dari Asosiasi Ilmu Politik Amerika sebanyak tiga kali. Hingga pada
akhir hayatnya beliau dikenal sangat energik dan tidak kenal lelah dalam mengabdi kepada
ilmu pengetahuan terutama ilmu politik dan administrasi publik. Beliau menghembuskan
nafas terakhirnya di Chapel Hill tepatnya tanggal 30 Juni 2009 pada usia 79 tahun dengan
mewariskan segudang khazanah bagi ilmu politik dan administrasi publik.
REINVENTING GOVERNMENT
APPRAISING THE NATIONAL PERFORMANCE REVIEW
DONALD F. KETTL
National Performance Review (NPR), dari NPR terdapat dua ide yang sifatnya
sentral. Pertama, membantah reinventers yaitu jika secara implisit ada keinginan untuk
mentransfer kekuasaan dari kongres ke cabang eksekutif. Dimana kongres condong menyerah
pada pengerjaan sesuatu yang tanpa keahlian dengan birokrasi dan meninggalkan manajemen
ke manajer. Kedua, pada putaran permintaan bahwa manajer atas mendesentralisasikan
kekuasaan ke sektor garis pekerja. Konsep NPR hanyalah sebagai filosofi, pemberian sektor
garis pegawai pemerintah kekuasaan untuk menghentikan garis tersebut. Pendekatan ini
secara implisit adalah filosofi dari pemindahan kekuasaan dari kongres ke birokrasi dan ke
dalam birokrasi, dari level paling atas untuk menurunkan pegawai. Pembangunan konsep
NPR mendorong sector privat atau pasar menjalankan pelaksanaan sector public. Gagasan ini
berdasarkan “New Economics” dari dengan pendekatan meliputi :
1. Contracts
Kunci hubungan dalam pemerintahan dapat dipandang sebagai rangkaian dari
contract-like. Organisasi dapat mengerti rangkaian dari hubungan antara pelaku dan agen
Teori ini tidak hanya menjelaskan dasar hubungan tapi menjelaskan juga permasalahan
khusus.
2. Goals
Jika dasar dari hubungan adalah contract-like, maka kontrak menjadi emplisit. Adapun jika
supervisi meragukan, pengawas sebaiknya fokus pada hasil bawahan mereka.
3. Competition
Masalah informasi asimetri mencegah pengawas dari pengetahuan apa yang bawahan
sangat ingin lakukan. Kompetisi (antara kedua pegawai dan organisasi, dari kedua
upah/bayaran dan sumber biaya penghasilan) dapat menimbulkan kekuatan intensif dari
kewenangan yang didasarkan pada supervisi.
4. Customer
Menjalankan organisasi adalah melayani pelanggan yaitu dengan cara bottom up dapat
membantu memecahkan masalah supervisi bahwa gangguan organisasi sebenarnya berasal
dari top down.
Reinventing pemerintah berpusat pada persimpangan “politik tinggi” dari perjuangan
kongresional presidensial dan “politik rendah” administrasi rutin. Kontribusi paling berharga
dari reinventers adalah bahwa pendekatan top-down otoritas birokrasi membimbing birokrasi
yang tidak efektif menuju manajemen publik. Reinventing pemerintah tergantung pada
penyelesaian masalah-masalah politik dan teknis yang sulit dalam kinerja manajemen.
Dalam upaya realisasi reinventing government mulai dilakukan dengan membentuk
visi misi yang jelas dimasa depan, restrukturisasi mendasar dari organisasi dan hubungan
manajer puncak kepada karyawan. Keberhasilan sektor privat dalam konsep reinventing
adalah adanya perubahan proses yang berkelanjutan bukan sebatas perubaha jangan pendek.
Fenomena perubahan proses ini ini mengarah pada lima pelajaran penting bagi gerakan
reinventing pemerintah yaitu :
1. Perlunya Ide Pendorong Gerakan Misi Pemerintah Federal.
Reformasi manajemen mengajarkan bahwa reformasi yang sukses harus disesuaikan erat
dengan misi dan manajemen permasalahan yang ada di organisasi tersebut.
2. Kebutuhan Hubungan Politik Besar (Perampingan) Dengan Politik Kecil Peningkatan
Kinerja)
Tantangan dalam reinventing pemerintah adalah untuk meraih sukses yang cepat dengan
melalukan perampingan tetapi tidak melakukan kerja keras untuk gerakan politik yang
kuat
3. Kebutuhan Pengembangan Aspirasi Akan Hak
Adanya konflik kepentingan antar pelaku reinvensi dalam proses reformasi. Belum
menemukan cara yang efektif untuk menyelesaikan job desk, sehingga tindakan yang
dilakukan adalah sebatas taktik jangka pendek pengajuan banding kepada publik melalui
media massa.
4. Reinventing Pekerjaan Manajer Federal Pemerintah.
Pemahaman manajer menengah yang belum optimal menyebabkan penyebaran inisiatif
pemberdayaan NPR tidak merata dan gerakannya tidak terorganisir
5. Perlunya Menciptakan Gerakan Yang Terintegrasi.
Asumsi pelaksanaan operasi NPR bahwa setelah diluncurkan gerakan itu akan menjadi
self-directed. Manajer Federal yang baru diberdayakan akan bertindak dalam pengelolaan
organisasi agar lebih efektif.
USING PERFORMANCE MEASURE FOR FEDERAL BUDGETING : PROPOSAL
AND PROSPECTPH
PHILIP G JOYCE
Point utama dalam hal ini dimana ukuran pelaksanaan dapat berkembang dan
kemampuan dari pengukuran ini dapat digunakan untuk memberi informasi kepada pembuat
keputusan yang berbeda dari setiap program. Secara umum pengembangan pengukuran dari
kesuksesan dapat lebih mudah untuk program yang memiliki interaksi langsung antara
pemerintah federal dan beberapa penerima dari pelayanan pemerintah daripada untuk
program yang mana tujuannya kurang jelas.
Terdapat beberapa keuntungan potensial untuk berlalunya undang-undang. Pertama,
undang-undang pemerintahan dapat memotivasi executive atau keterangan-keterangan agen
untuk mengejar perubahan yang mereka kuatkan tidak mengejar unilateral. Kedua, jika
kenaikan fleksibilitas manajerial diinginkan dan jika perubahan dalam hukum perlu untuk
menyediakan fleksibilitas kongres dapat menjadikan mereka. Ketiga, hukum dapat
memberikan kesan berbagai macam dari informasi bahwa kongres mempertimbangkan
keinginan untuk pembuatan keputusan. Keempat, kongres dapat memberi kesan wilayah
untuk cabang pembelanjaan executive atau menguji antisipasi usapan legislatif di masa
depan. Bagaimanapun juga legislasi memiliki batasan. Akhirnya, tanpa komitmen cabang
executive pada ukuran pelaksanaan untuk agen manajemen, dalam praktek tidak lagi
penerimaannya tersebar luas. Perspektif terakhir tentang keterbatasan ukuran pelaksanaan
juga digunakan untuk menyediakan informasi yang cepat dan dapat dipercaya pada urusan
program sukses dalam hubungan antara pengukuran pelaksanaan dan evaluasi program.
Ada batasan besar dalam penggunaan ukuran pelaksanaan belanja. Faktanya dasar
ukuran pelaksanaan belanja tidak ada keuntung yang tersebar luas, dan bukan alasan yang
cukup untuk memotong potensi. Tapi tetap jika pihak legislatif dan cabang-cabang executive
akan melakukan usaha sungguh-sungguh yang akan dijalankan untuk perubahan belanja
pemerintah tidaklah jelas bagaimana seharusnya digunakan untuk alokasi sumber
penghasilan. Suatu pengertian selanjutnya dari semua faktor-faktor yang berkontribusi untuk
pelaksanaan baik positif atau negatif perlu sebelum kita dapat memulai mengerti bagaimana
ukuran pelaksanaan dapat digunakan untuk alokasi sumber penghasilan. Lagipula, ukuran
pelaksanaan jarang membuat tugas dari pemilihan antara perbedaan penggunaan dari
penghasilan publik yang lebih mudah. Akhirnya, jika setiap program memiliki ukuran
pelaksanaan pembuat kebijakan dapat mengerti perdagangan yang melekat pada
pembelanjaan dua program competing.
Dasar pembelanjaan dalam catatan pelaksanaan ada pada praktik pembelanjaan. Suatu
sistem menghasilkan kurangnya kurangnya kontrol dari individual line items alam
penyampaian untuk pegangan agenci semata-mata akuntable untuk hasil perubahan
fundamental dari arus sistem. Keterbatasan potensi dari ukuran pelaksanaan untuk
mempengaruhi hasil anggaran belanja secara langsung, bagaimanapun tidak berarti mereka
tidak memiliki tempat dalam proses anggaran belanja. Ukuran pelaksanaan akan dapat
digunakan untuk bantuan agensi manajemen guna menentukan level relatif dari sumber
penghasilan. Jika ukuran pelaksanaan akan digunakan untuk mempengaruhi alokasi sumber
penghasilan, perubahan selayaknya tidak seperti yang terjadi secara tiba-tiba.
Usaha lebih, dibutuhkan untuk mengikat ukuran pelaksanaan untuk anggaran belanja,
yang lebih penting untuk digunakan adalah ketepatan ukuran dan pengumpulan informasi
yang akurat.
IRA SHARKANSKY
Ira Sharkansky lahir pada tahun 1938 di Fall River, Massachusetts. Sharkansky adalah
profesor emeritus ilmu politik dan administrasi publik di Universitas Ibrani Yerusalem dan
penulis produktif mengenai topic kebijakan dan politik di Israel dan Amerika Serikat.
Sharkansky lulus dari Wesleyan University , menulis tesis tentang " The Portugis Fall River :
Sebuah Studi Akulturasi Etnis ". Ia memperoleh gelar PhD dalam ilmu politik di University
of Wisconsin - Madison pada tahun 1964 disertasinya diterbitkan sebagai " Empat Agen dan
Sub-komite Alokasi sebuah studi perbandingan hubungan anggaran "
Ira Sharkansky bersama George Edward memberikan pengertian kebijakan publik
secara lebih fokus. Selain itu Ira juga mengatakan bahwa Administrasi Publik sebagai suatu
sistem. Maksudnya sebagai sebuah sistem terbuka (open system) yang mempunyai hubungan
dengan lingkungan yang mengelilinginya. Sistem tersebut mengimpor sumber-sumber daya,
teknologi, informasi dari lingkungannya dan output sistem diekspor kepada lingkungannya.
Jadi sebagai suatu rangka dasar sistem, administrasi publik mempunyai lingkungan
(environment), masukan (inputs), proses konversi (conversion process), keluaran-keluaran
(outputs) dan umpan balik (feedback) yang saling berhubungan dengan berinteraksi satu
dengan yang lain.
Dikemukakan oleh Ira Sharkansky bahwa, suatu sistem administratif sebagai “An
entire set of these elements and their interactions”. Di dalam konversi tersebut terdapat unit-
unit administratif yang di tingkat Pusat disebut bermacam-macam, seperti misalnya
Departemen- departemen dan Lembaga-lembaga Non Departemen, Sekretariat Jenderal,
Direktorat Jenderal dan sebagainya. Di tingkat Daerah disebut Dinas-dinas, Kantor-kantor
dan sebagainya.
Jadi, suatu sistem administrasi publik tidak hanya meliputi unit-unit administratif,
melainkan merupakan perpaduan atau kombinasi dari unit-unit administratif (konversi) dan
semua elemen dan proses-proses yang berhubungan dengan unit-unit dimaksud, yaitu:
lingkungan dimana unit- unit administratif bekerja, yang mempengaruhi dan dipengaruhi,
masukan-masukan (inputs) ke dan keluaran-keluaran (outputs) dari unit-unit administratif,
yang dihubungkan dengan proses konversi dan mekanisme umpan balik.
Ira Sharkansky mengajukan suatu model Sistem Administrasi Publik yaitu :
1. Model keseimbangan menggambarkan adanya faktor-faktor ekologis yang mempengaruhi
secara timbal balik suatu Sistem Administrasi Publik baik dalam negara agraria maupun
dalam negara-negara industri.
2. Suatu Sistem Administrasi Publik karena pengaruh lingkungan tertentu merupakan suatu
sistem administrasi publik tertentu pula. Dengan demikian timbullah pertanyaan: apakah
yang dimaksud dengan sistem administrasi publik tersebut? Untuk menjawab pertanyaan
tersebut perlu diperhitungkan lingkungan (environment) dan kemudian melihat
Administrasi Publik sebagai proses dimana terdapat masukan-masukan (inputs), proses
konversi (conversion process), keluaran-keluaran (outputs) serta umpan balik
(feedback).Kemudian perlu pula diperhatikan wajah Admnistrasi Publik sebagai fungsi
(dilawankan dengan fungsi politik), sebagai cabang Pemerintahan (di samping Eksekutif,
Legislatif, dan Yudikatif), sebagai Manajemen dsb.
Dalam suatu Sistem Administrasi Publik, lingkungan berfungsi sebagai perangsang
para administrator untuk berusaha dan sekaligus sebagai penerima hasil-hasil kerja mereka.
Lingkungan hidup ini mempunyai faktor-faktor pisik alamiah dan faktor-faktor sosial-
kemasyarakatan yang menimbulkan masalah-masalah yang harus dipecahkan oleh pembuat
kebijakan (policy makers) dan sebaliknya juga membantu mengatasi masalah-masalah
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ira Sharkansky, Policy Studies Review 11 (auntum.winter 1992) : 3/4
Jay M.Shafritz and Albert C. Hyde, Classics of Public Administration, (New York : Harcourt
Brance & Company, 1997)
Jay M.Shafritz and Albert C. Hyde, Classics of Public Administration, (New York : Harcourt
Brance & Company, 1997)
Brudney, Jeffrey dkk. 2009. Deil S. Wright In Memoriam dalam
http://engagedscholarship.csuohio.edu/cgi/viewcontent.cgi?
article=1014&context=urban_facpub diakses tanggal 18 Mei 2014 pukul 23.51 WIB.
http://politicalscience.unc.edu/media/faculty-cvs/Wright_cv.pdf diakses tanggal 18 Mei 2014
pukul 23.48 WIB.
Charles T. Goodsell, “Did NPR Reinvent Government Reform?” The Public Manager (1993):
7-10
Donald f. Kettl , “Reinventing Government? Appraising The National Performance
Review”(Washington, DC : The Brookings Institution, 1994)
Jay M.Shafritz and Albert C. Hyde, Classics of Public Administration, (New York : Harcourt
Brance & Company, 1997)
James P. Pinkerton, “General Schwazkopf’s New Paradigm,” Policy Review56 (1991): 22-26;
“Life in Bush Hell,” The New Republic 207 (1992): 22-27
Peter Scott-Morgan, The Unwritten Rules of the Game (1994)
Best Practices in Restructuring: Wyatt’s 1993 Survey of Corporate Restructuring
(Washington: Wyatt Company,1993)
Tom Shoop, “From Citizens to Customers,” Government Executive 26 (1994): 27-40
Paul Light, Thickening Government: Federal Hierarchy and the Diffusion of Accountability
Philip G Joyce, Public Budgeting and Finance, (New York : Public Financial Publications,
Inc,1993)
Jay M.Shafritz and Albert C. Hyde, Classics of Public Administration, (New York : Harcourt
Brance & Company, 1997)